Standar Mutu Pengawas Sekolah

Pengawas sekolah atau Pengawas Satuan Pendidikan merupakan tenaga kependidikan yang diharapkan dapat berperan serta dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional.  Oleh karena itu, untuk menjadi seorang pengawas sekolah diperlukan persyaratan kualifikasi dan kompetensi tertentu. Prof. Dr. Nana Sudjana, dkk mengupas habis tentang Standar Mutu Pengawas Sekolah dalam bentuk naskah akademik.

Informasi selengkapnya dapat diunduh DISINI

==============

Materi Terkait:

[ AKHMAD SUDRAJAT seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Dikaitkatakan dengan: , , ,
Ditulis dalam PENDIDIKAN
10 comments on “Standar Mutu Pengawas Sekolah
  1. jujun mengatakan:

    benda gandengan mutu dalam bahasa sunda cowet, mutu sendiri artinya alat untuk mengulek. Mengulek lotek misalnya. Mutu sering dikonotasikan kpd sesuatu yang porno, yakni alat kemaluan laki-laki sedangkan cowet konotasinya adalah vagina. Bagaimana kita bisa meningkatkan mutu kalau para pengelola pendidikan fikiranya masih ngeress. Suap tak terelakan untuk menjadi kepala sekolah dan pengawas, dana BOS disulap menjadi milik kepala sekolah, segalanya uang mendapat prioritas utama, imbasnya semua kegiatan pendidikan “dabrol” dan “Omdo” (omomh doang) belaka, guru dan kepala sekolah berprestasi hanya sandiwara seperti para pemain lawakan di arena kegiatan UN. LPM juga menjadi Lembaga Penjamin Maksiat. Kesimpulannya, mutu menjadi olahan dari proses suap, sandiwara dan maksiat. Demi Allah siapa yang berani membantah fakta seperti ini berbicara bukan dengan hatinya, dan siapa pun mendapat predikat MUTU (Munafik Tulen)

  2. anton kaluge mengatakan:

    Mutu pendidikan merupakan wujud tanggung jawab semua orang karena dan sekolah adalah salah satu pusat kebudayaan yang mendidik bangsa ini dengan aturan dan materi yang jelas, indikator mutu berdasarkan SNP sangat baik dijadikan panduan mutu, kenyataannya masih banyak sekolah belum memiliki indikator mutu, contoh kegiatan pembelajaran berdasarkan Permendiknas 41/2007 tentang standar proses, sudah 5 tahun peraturan tersebut tetapi paradigma mutu pembelajaran seperti apa? fakta menunjukkan bahwa pembelajara tetap saja berpusat pada guru dengan metoda ceramah, tanya jawab dan tugas dalam suasana klasikal. pertanyaannya adalah apa, dimana, bagaimana, siapa yang berkompeten, kapan mulai membenahi tentang lemahnya mutu pembelajaran? inti dalam pembelajaran adalah terjadinya interaksi siswa dengan siswa. interaksi dapat terjadi jika guru mengaktifkan siswa belajar berpasangan atau belajar kelompok dan guru sebagai fasilitatornya, jika tidak maka interaksi yang terjadi terbatas pada perintah guru sedangkan kreativitas siswa mati. matinya kreativitas membuat bangsa Indonesia kedepan tetap menjadi bangsa konsumtif, lebih fatal lagi tamatan perguruan tinggi sekarang ini sulit mencari pekerjaan. menunggu lamaran diterima atau ditolak. alam Indonesia yang kaya raya ini menjadi tandus karena dikendalikan olah perusahan yang tentu menguntungkan perusahannya, belum lagi buruh yang diPHK hanya sedikit bisa banting stir dan mandiri, kembali lagi sekolah harus bisa merobah paradigma pembelajarannya. kasihan siswa kita kreativitasnya ditekan dengan dalih disiplin. mau dibawa kemana bangsa ini…seperti nyanyian siswa ketika jam istirahat mereka berkelompok sambil bernyanyi, kosong-apa, kosong apa, kosong apa sekarang, sekarang kosong apa kosong apa sekarang… siswa lainnya menyambung terus sampai ada yang kalah maka lagunya dimulai dengan satu kosong, satu kosong, satu kosong sekarang, sekarang satu apa, satu apa sekarang…. itulah kondisi sekarang yaitu kompetisi yang berhasil dan yang ketinggalan. semoga Indonesia sebagai negara berkembang tetap maju. kita optimis maju tetapi prosentasenya masih kecil karena sekolah-sekolah diatas SNP masih sedikit jumlahnya sementara negara kita sudah terlambat memasang tarif NSP baru sejak tahun 2005.

  3. Sangkut Spd mengatakan:

    seorang pengawas sekolah diperlukan persyaratan kualifikasi dan kompetensi tertentu, untuk itu diharapkan Pihak penjamin mutu Pendidikan Dapat Memberi Pelatihan semaksimal mungkin terhadap Pengawas dalam mengembangkan Perkembangan Pendidikan, selain itu
    pemerintah daerah hendaknya benar-benar memanfaatkan fungsi kontroling melalui pengawas sekolah. dari sanalah awal melihat kemajuan atau mungkin kemunduran.

  4. Sangkut Spd mengatakan:

    Maju Terus Pengawas sekolah….

  5. Sangkut Spd mengatakan:

    Pembinaan dan pengembangan kompetensi pengawas sangat diperlukan …………Jadikanlah Pengawas Sekolah sebagai perpanjangan tangan dalam meningkatkan Mutu Pendidikan. Untuk itu Ikutsertakanlah segala Kegiatan / program peningkatan mutu pendidikan……..

  6. anwar mengatakan:

    Sampai saat ini, kenyataan di daerah, pengawas sekolah masil termarjinalkan saja kok. Padahal pengawas sekolah sangat strategis untuk dimintai masukannya dalam rangka penenpatan ataupun mutasi guru/kepala sekolah. Tapi sayang, Raja-raja kecil pemerintah daerah tidak memanfaatkannya, akibatnya penempatan guru baru pun kacau, tidak sesuai dengan yang dibutuhkan sekolah, apalagi mutasi kepala sekolah. Hal ini terjadi karena dasar mutasi ataupun penempatan yang dipakai adalah politis bahkan ekonomis.
    KAPAN INDONESIAKU MAU BENAR????

  7. iwa wahyusaputra mengatakan:

    berapa jumlah hari kerja pengawas sekolah

    Barangkali bisa dilihat di Permendiknas No. 39

  8. Bubarkan Pengawas Sekolah mengatakan:

    Buat apa ada Pengawas, sepanjang saya mengajar (jadi guru hampir 20 tahun) belum pernah ada pengawas yang bersedia hadir membimbing saya dalam proses pembelajaran – so bubarkan saja pengawas. Belum lagi ‘budaya amplop’. njelehi …

  9. anton kaluge mengatakan:

    sore ini saya malas kemana-mana jadi buka situs internet, tapi tidak ada yang menarik, saya buka lagi pengawas sekolah ternyata saya mulai tertarik karena dari sinilah mutu pendidikan.
    pengawas sekolah menggunakan mata untuk melihat tidak usah mengawasilah cukup melihat, tapi orang yang dilihat menutup mata seolah tidak memikirkan bahwa ada yang melihat.
    pemerintah daerah hendaknya benar-benar memanfaatkan fungsi kontroling melalui pengawas sekolah. dari sanalah awal melihat kemajuan atau mungkin kemunduran.

  10. afrizal suki mengatakan:

    terima kasih pak ahmad atas info-nya

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s