Opini Pendidikan

OPINI ANDA

Ruang ini dipersembahkan bagi Anda yang ingin berpartisipasi mengekspresikan diri seputar teori dan praktek pendidikan. Diskusi ini bersifat terbuka, dari Anda, oleh Anda dan untuk Anda.Untuk menyemarakkan ruang ini, saya mengundang Anda untuk memberikan gagasan, komentar, atau mungkin kritik membangun tentang situasi pendidikan kita. Semoga saja pemikiran kritis Anda dalam ruang ini dapat mengilhami dan memberikan pencerahan bagi siapa pun yang membacanya.

Tagged with:
457 comments on “Opini Pendidikan
  1. muchammadarwani9h12 mengatakan:

    […] Eduardo Gae mengatakan: 17 April 2015 pukul 07:40 […]

  2. Ahmad Umar M mengatakan:

    Yang terbaik untuk pendidikan anak bangsa Indonesia ke depan adalah membangun budaya jujur kepada peserta didik. Kita. Kita selama ini lebih mementingkan konten kurikulum serta sibuk dengan eforia prestasi di kancah dunia namun implementasi budaya jujur masih di abaikan. Sistim pendidikan dari hulu sampai hilir haruslah memiliki pemahaman yang sama mengenai pembentukan lulusan yang memiliki kepribadian yang jujur. Kejujuran akan tercipta manakala terciptanya kenyamanan dalam pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Sekolah adalah produk kebijakan yang dilahirkan pemerintah. Terkait dengan hal ini rasanya terlalu banyak kebijakan yang dihasilkan sehingga banyak terjadi miskonsepsi dalam penerapan di hilir. Penyederhanaan perlu dilakukan dalam upaya lebih memperkuat kesamaan persepsi dari hulu sampai ke hilir.

  3. Eduardo Gae mengatakan:

    Konsep K13 memang bagus….tapi belum memperhatikan pemerataan. Gimana kami yg di daerah terpencil akan terseok-seok mengikuti irama ka 13. Pada hal KTSP saja belum seberapa dijalankan. Jika dipaksakan akan terus menerus menciptakan jurang pemisah yg semakin lebar antara daerah yg maju dengan daerah terpencil seperti di sekolah kami. Hemat saya para pengambil kebijakkan pendidikan perlu mengupayakan dulu pemerataan pendidikan yg lebih bermutu ke setiap daerah. Saat ini barometer kemajuan pendidikan hendaknya bukan di kota lagi tetapi sekolah-sekolah di kampung atau desa yg masih tertinggal.

  4. Akhmad Faozan mengatakan:

    Apa kabar Pendidikan Indonesia?

    Begitu jelas nyata adanya mismanajemen pendidikan secara makro di Indonesia. Pendidikan yang tidak jelas ini, mau dikemanakan anak-anak usia pendidikan dasar ini ke depan?. Dengan “selalu” berganti-ganti kurikulum mengakibatkan semakin buruknya tata kelola pendidikan ini dan visinya. Sungguh sangat terasa carut marut pendidikan ini dirasakan oleh pelaku pendidikan di tingkat bawah atau satuan pendidikan. Sekolah yang didominasi dengan sekolah negeri ini seharusnya menjadi barometer suksesnya proses pendidikan. Dan proses itu dapat dituai setelah 25 tahun ke depan. Kita bisa lihat, apa yang terjadi di kanan kiri kita, banyak sekali anak-anak usia sekolah dasar sampai setingkat Sekolah menengah semakin terkooptasi dengan “makhluk baru” masa kini yaitu gadjet, Ipad, BB dan sejenisnya yang mana mereka belum siap mengkanter dan mengelola dengan baik nilai manfaat dan madharatnya. Yang ada adalah bahwa anak-anak usia dini sedang menikmati pengaruh negatif terkena gelombang negatif tekhnologi mutakhir saat ini. dengan mendownload gambar-gambar tidak senonoh, memposting gambar fullgar dan sejenisnya. Hal ini berdampak pada perkembangan emosional, psikologis dan masa remajanya yang menjadikan ia terlalu dini berpikir usia-usia masa orang dewasa. Belum lagi, persoalan narkoba yang sudah merambah kepada anak-anak usia sekolah dasar (SD dan SMP) ini semua adalah hasil/output atau produk dari proses pendidikan dalam waktu 20 tahun yang lalu. Anak-anak sekarang mengapa malas dan ogah-ogahan masuk sekolah karena sudah enjoy dengan kondisi real didepannya, dibarengi dengan kurang minatnya bersekolah dan bertemu dengan “guru A” semakin menambah deretan panjang persoalan pendidikan di Indonesia.

    Sebenarnya yang menjadi pangkal persoalan pendidikan itu apa dan siapa? menurut saya, yang menjadi pangkal persoalannya adalah materi dan pelaku/gurunya. Begitu banyak materi seakan anak-anak terjejali dengan materi sehingga kapasitas memori otaknya seakan terbatas dan menolak untuk menerimanya. Yang kedua adalah persoal guru yang bermacam-macam jenis yang dominasinya adalah tidak menarik dalam memberikan materi di depan siswa-siswinya. Seharusnya guru dibekali dengan berbagai metode dan gaya mengajar yang menarik. Bukan sekedar menguasai materi. tetapi dibutuhkan dengan kreatifitas dan inovasi. Nah, kreatifitas, inovasi, berbagai gaya dan metode mengajar dibutuhkan training yang tepat dan efektif dan butuh waktu yang cukup lama. Disamping pemahaman tentang materi psikologi perkembangan. Saya optimis ke depan pemerintah berpikir dan menindaklanjuti tentang berbagai kekurangan guru dan menutup celah-celah kekuarangannya agar pendidikan di Indonesia selangkah lebih maju dengan negara tetangga kita.

  5. Widiadmaja mengatakan:

    menurut saya, apa yang dilakukan pemerintah terkait dengan kurikulum 2013, telah terjadi pemborosan dan “pemudhoratan” kebijakan. Saya tidak mengatakan kurikulum 2013 itu jelek. Tetapi, tindak lanjut dari pemberlakuan kurikulum oleh pemerintah sangat “kontra produktif”. Ambil contoh saja, soal buku, rupanya pemerintah kurang mempercayai kemampuan guru melakukan eksplorasi sumber belajar, sehingga malah sibuk menerbitkan buku materi, modul materi, yang sebenarnya itu adalah “area kompetensi guru” dan pemerintah tidak perlu terlalu mengintervensi guru untuk menggunakan sistem pembakuan buku. Lebih parah lagi, pemerintah kurang sigap bagaimana buku itu didistribusikan ke sekolah- seluruh Indonesia itu. Sehingga yang terjadi adalah kekacauan dalam menanti “sang bukut” itu.
    Kedua, banyak tindak lanjut berupa diklat-diklat sosialisasi-sosialisasi yang ujungnya justru siswa terlantar tidak mendapat cukup pelayanan karena guru sibuk diklat dan pelatihan yang nota bene pasti banyak biaya yang dikeluarkan. Sementara kebanyakan diklat yang ada lebih sering sekadar “formalitas menghabiskan dana proyek” ketimbang implementasi sesungguhnya ketika guru berada di dalam kelas.
    Padahal kalau kita kaji lebih mendalam, apa yang harus berubah dari guru dengan perubahan kurikulum itu ? Menurut saya sebaik apa pun kurikulumnya, maka garapan yang paling mendasar adalah langkah riil harian guru di dalam kelas. Selama guru hanya berubah ketika dalam forum diklat dan pelatihan …maka itu tidak akan ada dampak perubahan sebaik apapun kurikulumnya.

  6. Nus Yerusa mengatakan:

    Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Aru saat ini hanya difokuskan ke Proyek, sehingga kualitas sudah ditiadakan. Nah bagaimana caranya membatasi sistem pendidikan di Kabupaten Kepulauan Aru yang hanya mementingkan proyek ketimbang mutu

  7. Chotibul Umam mengatakan:

    Kurikulum 2013 bagus untuk ditreapkan, tapi ada sekolah yang karena jam guru sebagian kurang dari 24 jam kerja maka muncul pemaksaan lintas minat hanya untuk memenuhi jam kerja guru tersebut, apakah ini bisa diterima ? dan bagaimana nanti dengan siswa, misalnya siswa kelas X IPA sebenarnya menginginkan pendalaman materi tapi karena tidak difasilitasi dipaksakan mengambil akutansi/ekonomi padahal siswa tersebut kurang suka pelajaran tersebut, apakah hal ini tidak menimbulkan effek psikologis ?.
    Masalah pendampingan yang bekerjasama dengan perguruan tinggi apakah ada standar bea pendampingan, maaf karena hal ini banyak yang belum tahu.

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 13.397 pengikut lainnya.