Opini Pendidikan

OPINI ANDA

Ruang ini dipersembahkan bagi Anda yang ingin berpartisipasi mengekspresikan diri seputar teori dan praktek pendidikan. Diskusi ini bersifat terbuka, dari Anda, oleh Anda dan untuk Anda.Untuk menyemarakkan ruang ini, saya mengundang Anda untuk memberikan gagasan, komentar, atau mungkin kritik membangun tentang situasi pendidikan kita. Semoga saja pemikiran kritis Anda dalam ruang ini dapat mengilhami dan memberikan pencerahan bagi siapa pun yang membacanya.

Tagged with:
454 comments on “Opini Pendidikan
  1. Akhmad Faozan mengatakan:

    Apa kabar Pendidikan Indonesia?

    Begitu jelas nyata adanya mismanajemen pendidikan secara makro di Indonesia. Pendidikan yang tidak jelas ini, mau dikemanakan anak-anak usia pendidikan dasar ini ke depan?. Dengan “selalu” berganti-ganti kurikulum mengakibatkan semakin buruknya tata kelola pendidikan ini dan visinya. Sungguh sangat terasa carut marut pendidikan ini dirasakan oleh pelaku pendidikan di tingkat bawah atau satuan pendidikan. Sekolah yang didominasi dengan sekolah negeri ini seharusnya menjadi barometer suksesnya proses pendidikan. Dan proses itu dapat dituai setelah 25 tahun ke depan. Kita bisa lihat, apa yang terjadi di kanan kiri kita, banyak sekali anak-anak usia sekolah dasar sampai setingkat Sekolah menengah semakin terkooptasi dengan “makhluk baru” masa kini yaitu gadjet, Ipad, BB dan sejenisnya yang mana mereka belum siap mengkanter dan mengelola dengan baik nilai manfaat dan madharatnya. Yang ada adalah bahwa anak-anak usia dini sedang menikmati pengaruh negatif terkena gelombang negatif tekhnologi mutakhir saat ini. dengan mendownload gambar-gambar tidak senonoh, memposting gambar fullgar dan sejenisnya. Hal ini berdampak pada perkembangan emosional, psikologis dan masa remajanya yang menjadikan ia terlalu dini berpikir usia-usia masa orang dewasa. Belum lagi, persoalan narkoba yang sudah merambah kepada anak-anak usia sekolah dasar (SD dan SMP) ini semua adalah hasil/output atau produk dari proses pendidikan dalam waktu 20 tahun yang lalu. Anak-anak sekarang mengapa malas dan ogah-ogahan masuk sekolah karena sudah enjoy dengan kondisi real didepannya, dibarengi dengan kurang minatnya bersekolah dan bertemu dengan “guru A” semakin menambah deretan panjang persoalan pendidikan di Indonesia.

    Sebenarnya yang menjadi pangkal persoalan pendidikan itu apa dan siapa? menurut saya, yang menjadi pangkal persoalannya adalah materi dan pelaku/gurunya. Begitu banyak materi seakan anak-anak terjejali dengan materi sehingga kapasitas memori otaknya seakan terbatas dan menolak untuk menerimanya. Yang kedua adalah persoal guru yang bermacam-macam jenis yang dominasinya adalah tidak menarik dalam memberikan materi di depan siswa-siswinya. Seharusnya guru dibekali dengan berbagai metode dan gaya mengajar yang menarik. Bukan sekedar menguasai materi. tetapi dibutuhkan dengan kreatifitas dan inovasi. Nah, kreatifitas, inovasi, berbagai gaya dan metode mengajar dibutuhkan training yang tepat dan efektif dan butuh waktu yang cukup lama. Disamping pemahaman tentang materi psikologi perkembangan. Saya optimis ke depan pemerintah berpikir dan menindaklanjuti tentang berbagai kekurangan guru dan menutup celah-celah kekuarangannya agar pendidikan di Indonesia selangkah lebih maju dengan negara tetangga kita.

  2. Widiadmaja mengatakan:

    menurut saya, apa yang dilakukan pemerintah terkait dengan kurikulum 2013, telah terjadi pemborosan dan “pemudhoratan” kebijakan. Saya tidak mengatakan kurikulum 2013 itu jelek. Tetapi, tindak lanjut dari pemberlakuan kurikulum oleh pemerintah sangat “kontra produktif”. Ambil contoh saja, soal buku, rupanya pemerintah kurang mempercayai kemampuan guru melakukan eksplorasi sumber belajar, sehingga malah sibuk menerbitkan buku materi, modul materi, yang sebenarnya itu adalah “area kompetensi guru” dan pemerintah tidak perlu terlalu mengintervensi guru untuk menggunakan sistem pembakuan buku. Lebih parah lagi, pemerintah kurang sigap bagaimana buku itu didistribusikan ke sekolah- seluruh Indonesia itu. Sehingga yang terjadi adalah kekacauan dalam menanti “sang bukut” itu.
    Kedua, banyak tindak lanjut berupa diklat-diklat sosialisasi-sosialisasi yang ujungnya justru siswa terlantar tidak mendapat cukup pelayanan karena guru sibuk diklat dan pelatihan yang nota bene pasti banyak biaya yang dikeluarkan. Sementara kebanyakan diklat yang ada lebih sering sekadar “formalitas menghabiskan dana proyek” ketimbang implementasi sesungguhnya ketika guru berada di dalam kelas.
    Padahal kalau kita kaji lebih mendalam, apa yang harus berubah dari guru dengan perubahan kurikulum itu ? Menurut saya sebaik apa pun kurikulumnya, maka garapan yang paling mendasar adalah langkah riil harian guru di dalam kelas. Selama guru hanya berubah ketika dalam forum diklat dan pelatihan …maka itu tidak akan ada dampak perubahan sebaik apapun kurikulumnya.

  3. Nus Yerusa mengatakan:

    Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Aru saat ini hanya difokuskan ke Proyek, sehingga kualitas sudah ditiadakan. Nah bagaimana caranya membatasi sistem pendidikan di Kabupaten Kepulauan Aru yang hanya mementingkan proyek ketimbang mutu

  4. Chotibul Umam mengatakan:

    Kurikulum 2013 bagus untuk ditreapkan, tapi ada sekolah yang karena jam guru sebagian kurang dari 24 jam kerja maka muncul pemaksaan lintas minat hanya untuk memenuhi jam kerja guru tersebut, apakah ini bisa diterima ? dan bagaimana nanti dengan siswa, misalnya siswa kelas X IPA sebenarnya menginginkan pendalaman materi tapi karena tidak difasilitasi dipaksakan mengambil akutansi/ekonomi padahal siswa tersebut kurang suka pelajaran tersebut, apakah hal ini tidak menimbulkan effek psikologis ?.
    Masalah pendampingan yang bekerjasama dengan perguruan tinggi apakah ada standar bea pendampingan, maaf karena hal ini banyak yang belum tahu.

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 13.363 pengikut lainnya.