Dibalik Cerita Pilpres 2014: Guru vs Murid

Dibalik Cerita Pilpres 2014: Guru vs Murid

Dalam kontes Pilpres 2014 sekarang ini, ada dua nama yang menarik perhatian saya yaitu JOKOWI dan SUHARDI. JOKOWI adalah alumni dari Fakultas Kehutanan UNIVERSITAS GADJAH MADA (UGM), dan Prof. Dr. SUHARDI adalah dosen JOKOWI ketika dia masih menjadi mahasiswa di universitas ternama itu. Meski bergelar sarjana kehutanan, tetapi rupanya JOKOWI lebih cenderung memilih berkarier di dunia politik. Begitu juga, SUHARDI, guru besar bidang kehutanan ini tampaknya saat ini lebih asyik menekuni dunia politik ketimbang melakukan riset dan mendidik mahasiswanya di kampus.

JOKOWI dan SUHARDI

SUHARDI dan JOKO WIDODO

Setelah sekian tahun berlalu, keduanya dipertemukan kembali dalam suasana dan pandangan politik yang berbeda. Keduanya harus saling berhadapan dan berkompetisi dalam ajang Pilpres 2014. Di satu sisi, JOKOWI diusung oleh PDIP dan beberapa partai lainnya untuk maju sebagai kandidat presiden RI, sementara SUHARDI dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, tentu memiliki tanggung jawab besar mengantarkan  pasangan PRABOWO-HATTA untuk menduduki jabatan yang paling bergengsi di negeri ini.

Pilpres 2014 ini hanya dikuti oleh dua pasangan kandidat: PRABOWO-HATTA dan JOKO WIDODO-JUSUF KALLA, maka apapun yang terjadi harus berujung tanpa hasil remis. Sejauh ini, berdasarkan ketetapan Komisi Pemilihan Umum pada tanggal 22 Juli 2014 lalu, ternyata justru sang Murid lah yang dinyatakan berhasil memenangkan kompetisi ini. Dengan kata lain, sang Murid telah berhasil mengalahkan gurunya, tentu bukan dalam dalam bidang ilmu kehutanan.

Meski tidak terjadi konfrontasi secara langsung antara JOKOWI dengan SUHARDI, tetapi tampak dibalik kontes Pilpres 2014 ini telah terjadi kompetisi seru yang melibatkan  antara Guru dengan mantan Muridnya.

Dalam konteks kultur Indonesia, hubungan guru-siswa memiliki keunikan tersendiri (lihat tulisan saya: hubungan guru-siswa). Sebagai orang awam, tentu saya tidak mengetahui persis dan tidak bisa menduga-duga bagaimana sesungguhnya suasana psikologis yang menghinggapi kedua tokoh tersebut saat ini. Barangkali hanya Tuhan dan mereka masing-masing sajalah yang dapat merasakannya.

Namun, terlepas dari suasana psikologis yang menghinggapi kedua tokoh tersebut, saya ingin mengajak Andai berandai-andai. Andaikan Anda sebagai Prof. Dr. SUHARDI, apa yang terselip dalam batin Anda terhadap sang Murid yang telah “mengalahkannya”?

======

Catatan:

Dalam pemahaman saya, menjadi presiden bukanlah perbuatan murtad, bukan  pula tindakan kriminal, maka seandainya JOKOWI adalah mantan murid saya, sekalipun harus berbeda pandangan politik dengan yang saya anut, maka saya akan katakan sejujurnya bahwa saya merasa teramat bangga atas prestasi yang telah diraihnya.

Siapapun murid saya yang mampu meniti kariernya jauh melampai dari apa yang saya miliki, saya akan dan harus merasa berbangga hati. Saya kira, itulah kebanggaaan dan kebahagiaan yang sejatinya dari seorang guru, dapat mengantarkan murid-muridnya untuk meraih berbagai kesuksesan hidup.

Ini bukanlah cerita politik ataupun dukung-mendukung terhadap pasangan Capres yang ada, tetapi saya hanya berusaha konsisten untuk bercerita tentang pendidikan.

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , ,
Ditulis dalam ARTIKEL, SOSIOLOGI PENDIDIKAN