Menimbang Pemimpin dalam Kongres ABKIN 2013 di Denpasar– Bali

Menimbang Pemimpin dalam Kongres ABKIN 2013 di Denpasar– Bali

Berbicara tentang pemilihan dan penentuan pemimpin, dalam konteks apapun (organisasi ataupun masyarakat) akan selalu menarik perhatian, khususnya bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan organisasi atau masyarakat yang bersangkutan. Hal ini tampaknya terjadi pula di lingkungan masyarakat profesi Bimbingan dan Konseling yang berhimpun dalam wadah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Sesuai amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, PB–ABKIN akan menggelar kegiatan Kongres XII pada tanggal 14-16 November 2013, bertempat di Denpasar – Bali.  Salah satu agenda penting yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah menentukan kepengurusan PB–ABKIN untuk periode berikutnya.

Kongres dan Konvensi ABKIN 2013

Meski mungkin tidak sepanas dalam dunia politik, wacana tentang siapa yang dianggap paling layak menduduki ketua maupun pengurus PB-ABKIN pada masa mendatang pun tampaknya sudah mulai mengemuka, baik dilakukan secara terbuka maupun tertutup, individual maupun kelompok. Upaya mewacanakan calon ketua dan pengurus PB-ABKIN ini tentu hal yang sah-sah saja dan merupakan bagian positif dari dinamika kehidupan organisasi yang menaungi para teoritisi dan praktisi  Bimbingan dan Konseling di Indonesia ini.

Secara teoritis, dalam menimbang pemimpin dapat didekati melalui 3 cara:

  1. Pendekatan Politis, suatu pendekatan yang paling rentan terhadap pertentangan, karena memang pendekatan politis sarat dengan pertimbangan-pertimbangan kekuasaan, yang sebagian besarnya mengacu pada kepentingan-kepentingan individu dan atau kelompok untuk berbagi kekuasaan.
  2. Pendekatan Sosiologis, suatu pendekatan yang mengacu pada pendekatan faktual kondisi obyektif masyarakat, yang meskipun tidak artikulatif, namun di dalamnya terpancar suatu aspirasi dan harapan pada pemimpinnya.
  3. Pendekatan Normatif, suatu pendekatan yang mengacu pada sesuatu yang seharusnya menurut kriteria nilai tertentu. Nilai yang dimaksud bisa berdasar pada pertimbangan agama maupun intelektualitas. (Diolah dan disarikan dari Uhar Suharsaputra. 2008. Menimbang Pemimpin)

Dalam konteks pemilihan Ketua dan Pengurus PB-ABKIN pada Kongres di Denpasar–Bali pun, tidak menutup kemungkinan para pemilik suara akan menggunakan pendekatan–pendekatan di atas.

Terlepas dari pendekatan yang akan dipilih oleh masing-masing pemilik suara, bagi saya, siapapun yang akan terpilih nanti, yang terpenting dia adalah orang yang benar-benar mumpuni, sanggup membawa profesi Bimbingan dan Konseling menuju ke arah yang lebih baik.

Menjadi Ketua atau Pengurus ABKIN sesungguhnya tidak mudah mengingat hingga saat ini masih banyak masalah yang masih menyelimuti perjalanan profesi Bimbingan dan Konseling di Indonesia, baik internal maupun eksternal yang harus dipikul oleh ketua terpilih beserta jajarannya. Salah satu masalah mendesak yang harus dicarikan solusinya oleh kepengurusan PB-ABKIN periode mendatang yaitu terkait dengan masalah kekurangan Guru BK di Indonesia. Persoalan yang satu ini telah menjadi persoalan klasik yang seolah-olah tak berujung. Dari periode ke periode kepengurusan ABKIN, persoalan ini masih tetap saja menggayuti. Persoalan kekurangan Guru BK menjadi persoalan yang sangat mendasar karena di sini tidak lagi membicarakan profesional dan tidak profesionalnya seorang guru BK, tetapi justru lebih berbicara antara ada dan tidak adanya BK itu sendiri sebagai sebuah entitas.

Semoga saja, pada Kongres ABKIN XII di Denpasar-Bali tahun 2013 ini dapat terpilih Ketua dan Pengurus yang sanggup mengatasi (atau paling tidak mengurangi)  aneka masalah yang menghadang perjalanan profesi BK.

============

Merespons isu dan wacana yang berkembang di beberapa Komunitas online Bimbingan dan Konseling  (ABKIN, IBKS, Konseling Indonesia), tentang adanya harapan dan aspirasi dari beberapa sahabat yang meminta saya untuk terjun dalam kepengurusan PB-ABKIN. Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa saat ini saya lebih memilih untuk tetap dalam posisi seperti sekarang ini, menjalankan tugas-tugas keseharian di tempat tugas saya, sambil meluangkan waktu untuk terus melanjutkan ngeblog. Kecuali, satu hal yang tidak bisa saya tolak, ketika minggu lalu saya ditelepon langsung oleh Ketua PD-ABKIN Provinsi Jawa Barat, yang meminta saya untuk duduk dalam kepengurusan PD-ABKIN Provinsi Jawa Barat.

Demikian, barangkali tulisan kecil ini bisa dijadikan sebagai jawaban dan klarifikasi saya atas semua isu pencalonan ini, yang bagi saya menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Terima kasih saya sampaikan kepada para sahabat saya, khususnya  untuk kedua Adinda saya: Dwi Atmaja  dan Ruyatna Albantani  yang tampaknya sedang bersemangat mencari “sosok pemimpin alternatif” dalam tubuh PB-ABKIN.  Saya percaya masih banyak tokoh-tokoh BK  lain yang lebih baik dan peduli terhadap profesi BK dan nasib para Guru BK di lapangan.

============

Materi Terkait:

Profil Manajer dan Pemimpin Pendidikan yang Dibutuhkan Saat ini

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam ARTIKEL, SOSIOLOGI PENDIDIKAN
11 comments on “Menimbang Pemimpin dalam Kongres ABKIN 2013 di Denpasar– Bali
  1. […] Menimbang Pemimpin dalam Kongres ABKIN 2013 di Denpasar– Bali […]

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s