Menyoal tentang Pedoman Layanan BK di Sekolah

Menyoal tentang Pedoman Layanan BK di Sekolah

Berkat usaha dan perjuangan dari para pemangku kepentingan Bimbingan dan Konseling, akhirnya pemerintah dapat mengakomodasi aspirasi masyarakat Profesi BK yaitu dengan diterbitkannya pedoman layanan bimbingan dan konseling yang tersisip dalam Permendikbud 81A/2013 tentang Implementasi Kurikulum,  Lampiran IV Pedoman Umum Pembelajaran.

Bagi saya,  hadirnya pedoman ini  bisa dipandang sebagai bentuk pengakuan pemerintah terhadap Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral dari layanan pendidikan di sekolah, yang dapat dijadikan sebagai landasan yuridis  bagi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Setelah membaca isi Permendikbud dan lampirannya (khususnya yang berkaitan dengan layanan BK) dan mendikusikannya  di Forum Komunitas ABKIN,  saya memperoleh pemahaman  dan gagasan sebagai berikut:

  1. Walaupun Pedoman Umum Layanan Bimbingan dan Konseling ini  dicantumkan (disisipkan) dalam Pedoman Umum Pembelajaran, tetapi bukan berarti Layanan Bimbingan dan Konseling diidentikkan dengan layanan pembelajaran. Layanan Bimbingan dan Konseling harus tetap diposisikan sebagai layanan khas sebagai bantuan psikologis dengan kekuatan intinya pada pendekatan interpersonal, bukan instruksional.
  2. Saya melihat, konsep dan strategi Layanan Bimbingan dan Konseling yang diterapkan pada dasarnya masih kelanjutan dan pengembangan dari Pola 17, –sebagaimana telah diterapkan dan dikembangkan sejak diberlakukannya Kurikulum 1994, bukan model komprehensif seperti yang digagas oleh Gysber dan para pendukungnya.
  3. Dalam pedoman umum ini, ada beberapa tuntutan tugas guru BK/konselor yang mungkin bisa dianggap relatif baru, diantaranya tentang: (a) arah pelayanan yang berkaitan dengan: pelayanan dasar, pelayanan arah peminatan  siswa, dan pelayanan yang diperluas;  (b) kegiatan tatap muka klasikal selama 2 (dua) jam/kelas/minggu yang dilaksanakan secara terjadwal.
  4. Sesuai dengan namanya, pedoman yang diterbitkan ini masih bersifat umum, sehingga  masih diperlukan adanya panduan teknis lebih lanjut. Agar tidak terjadi disparitas yang melebar dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, maka sebaiknya petunjuk teknis ini dapat disiapkan secara nasional. Lagi-lagi, tumpuann harapan  saya kepada Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) sebagai organisasi yang menaungi guru BK/Konselor kiranya dapat memfasilitasi dan memformulasikan panduan teknis ini, yang didalamnya melibatkan kalangan akademisi dan praktisi BK.
  5. Berkaitan ruang lingkup isi panduan teknis, saya berharap didalamnya dapat memuat tentang: (a) kompetensi siswa pada setiap jenjang pendidikan; (b) materi pokok layanan BK beserta model strategi  dan evaluasinya (terutama untuk kepentingan kegiatan pelayanan BK di dalam pembelajaran yang dilaksanakan melalui kegiatan tatap muka 2 jam/kelas/minggu); (c) model manajemen dan organisasi BK dan (d) model-model perangkat administrasi BK yang bisa dijadikan rujukan (referensi) bagi para guru BK/Konselor.

Dengan adanya panduan teknis ini diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas dan operasional dalam mengimplementasi dan mengembangkan pelayanan BK di sekolah, sehingga kegiatan layanan BK tidak seperti “bola liar” yang seolah-olah dapat dieksekusi sekenanya atau grambyangan (meminjam istilah yang dilontarkan salah seorang kawan  di Forum ABKIN)

Bagaimana menurut Anda?

=======

Melengkapi tulisan ini, saya lampirkan file tentang Pedoman Umum Layanan BK  yang  diambil dari Permendikbud 81A/2013 tentang Implementasi Kurikulum,  Lampiran IV Pedoman Umum Pembelajaran beserta Peta Konsep hasil corat-coret saya. Jika Anda ingin mengunduhnya silahkan klik tautan di bawah ini:

Konsep dan Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling

Peta Konsep Pedoman Umum Layanan Bimbingan dan Konseling

====

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , ,
Ditulis dalam ARTIKEL, BIMBINGAN DAN KONSELING
11 comments on “Menyoal tentang Pedoman Layanan BK di Sekolah
  1. Obat batu ginjal berkata:

    salam wordpress gan, mari kita buat wordpress berjaya ? jangan lupa like back yah gan :-D

  2. MUH. SILMI SUTANTO berkata:

    pendidikan di indinesia sulit untuk di pahami sistemnya, kenapa pelaksanaan kurikulum 2013 kok tidak merata, apa sih maunya para pengambil kebijakan itu, dibuat proyekkah pendidikan kita ini…?????

  3. budi berkata:

    BK itu bukan mata pelajaran, jadi wajar kalau tidak ada jam mengajar di kelas, di KTSP peran guru BK dalam pengembangan diri sangat besar tapi apa guru BK sudah melaksanakan tugas itu? Mengapa guru BK merasa terbedakan? Ya karena substansi tugasnya memang beda kan? Bagaimana memberi bimbingan dan konseling, itu semua kayaknya belum terbaca dengan baik, selain selama ini bk masih merupakan tempat untuk anak bermasalah. Memang kadang kayak dokter atau psikolog karena gur bk itu memang psikolog sekolah. Bagaimana agar mereka didekati anak2 ya tugas guru bk untuk memikirkannya, jangan hanya ada ketika diberi jam di kelas, setelah itu meberi tugas, presentasi….jangan2 kalau ada KI dan KD nya nanti ada ulangan harian BK…(gak lucu deh). Setuju dengan bapak Muh. Silmi “YANG DUDUK DI BAGIAN bk HARUS BETUL-BETUL MENGERTI TUGAS POKOK DAN FUNJGSINYA SEBAGAI TENAGA PEMBIMBING YANG BERKUALITAS”.

  4. Afif Khoir berkata:

    membangun relasi yang baik antara wali kelas-Guru BK-Kepala Sekolah-Guru Mapel untuk mengetahui permasalahan siswa dan segera memberikan layanan insya allah guru BK tidak akan nganggur dan itu lebih efektif daripada tatap muka di kelas. Karena materi pokok layanan BK sampai hari ini belum jelas.

  5. nur jamilah berkata:

    saya termasuk baru dalam bimbingan konseling di lapangan, 3 tahun ini di sekolah. Awal sy wiyata bakti bk tiap mggu dberi 1 jam per minggu utk sma, sedangkan untuk smk sama sekali tidak diberi jam masuk kelas dengan alasan masih kurang jam mengajar untuk guru yang sertifikasi.

  6. muhammad faisal riza berkata:

    Apa yang salah dengan guru BK ya ? Ada pendapat begini : “Tahun yang lalu guru BK diberi jam tatap muka sebanyak 1 JP, tetapi karena gurunya jarang masuk akhirnya tahun ini Bk tidak diberi jam tatap muka”.

    hanya gara-gara alasan ini BK tidak lagi diberi jam tatap muka. pertanyaan menggelitik di hati saya, seandainya Guru Mata Pelajaran jarang masuk pada tahun yang lalu, apakah sekolah juga tidak memberikan jam tatap muka bagi GMP tersebut…?

    Kadang saya berfikir, BK ini diperlukan gak ya di sekolah. Kalau diperlukan, pasti kapan perlu, ya pasti diperlukan. Kalau BK diperlukan tunggu ada masalah, berarti sama dong BK dengan Dokter atau Polisi.

    Apa yang salah ya dengan Guru BK ?

  7. hidayat berkata:

    tidak banyak sekolah yang menyiadakan waktu masuk kelas bagi kegiatan BK, mudah-mudahan mendiknas/intansi terkait mengintruksikan jajarannya kebawah sampai kab/kota serta kepsek,,agar menerapkan permen tersebut.

  8. Ratifa Iriani berkata:

    terima kasih banyak pak atas tulisannya, seoga dapat pala yang setimpal dari Allah AWT,

    ________________________________

  9. MUH. SILMI SUTANTO berkata:

    MENURUT KAMI PERSON YANG DUDUK DI BAGIAN bk HARUS BETUL-BETUL MENGERTI TUGAS POKOK DAN FUNJGSINYA SEBAGAI TENAGA PEMBIMBING YANG BERKUALITAS

    Pada 28 Agustus 2013 09.32, tentang PENDIDIKAN

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.