Peran Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013

Peran Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013

Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Kurikulum 2013”. Itulah tema masukan pemikiran dari Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia, terkait dengan kegiatan pengembangan Kurikulum 2013 yang saat ini sedang digodok pemerintah.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa dalam Draft Pengembangan Kurikulum 2013, posisi dan keberadaan Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013 masih tampak samar-samar. Barangkali atas dasar itulah, sejumlah pakar dan praktisi Bimbingan dan Konseling yang tergabung dalam Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia tergerak rasa tanggungjawabnya untuk berpartisipasi dalam rangka mensukseskan Implementasi Kurikulum 2013.

Perlu diketahui Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah sejumlah pakar dan praktisi Bimbingan dan Konseling yang berhimpun dalam:

  1. Himpunan Sarjana  Bimbingan dan Konseling Indonesia (HSBKI), unsur Himpunan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)
  2. Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling Nasional  (MGBKN)
  3. Forum Komunikasi Jurusan/Program Studi  Bimbingan dan Konseling Indonesia (FK- JPBKI)
  4. Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah (IBKS), divisi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN)
  5. Ikatan Pendidik dan Supervisi Konseling (IPSIKON), divisi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN),

Mereka telah melakukan serangkaian diskusi yang intens sehingga berhasil merumuskan pokok-pokok pikiran penting terkait dengan Peran Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013 untuk dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan Bimbingan dan Konseling.

Pokok-pokok pikiran tersebut mencakup:

  1. Hakikat Peminatan dalam Implementasi Kurikulum 2013
  2. Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013
  3. Eksistensi Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013
  4. Prinsip Dasar Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013
  5. Kerangka Program Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013
  6. Pengembangan Pedoman Bimbingan dan Konseling
  7. Penyiapan Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor Profesional

 =========

Jika Anda ingin mengunduh materi masukan dari Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia tentang Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Kurikulum 2013 ini, silahkan klik tautan di bawah ini:

Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Kurikulum 2013

(Catatan: materi ini  merupakan salah satu file dari 15 file yang saya peroleh dari Bapak Samsudin, M.Pd., Ketua Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling Nasional.)

==========

Refleksi:

  1. Setelah menyimak isi masukan yang sangat berharga ini, pada prinsipnya saya mendukung sepenuhnya apa yang disampaikan oleh Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia. dan tentu saya berharap kiranya pemerintah dapat mengakomodirnya dalam bentuk kebijakan yang pasti tentang Bimbingan dan Konseling.
  2. Selanjutnya, saya dan teman-teman di lapangan sangat menunggu untuk segera terbit panduan atau pedoman operasional penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling yang utuh dan lengkap. Pengalaman yang sudah-sudah membuktikan kebijakan-kebijakan tentang Bimbingan dan Konseling seringkali “ketinggalan kereta”, dibandingkan dengan kebijakan yang berkaitan dengan pembelajaran.
  3. Bersamaan itu pula, saya yakin secara teknis (atau mungkin juga konseptual) terdapat perubahan-perubahan yang signifikan dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan bagi para guru BK/Konselor dan Pengawas BK menjadi penting

=========

Bagaimana menurut Anda?

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam ARTIKEL, BIMBINGAN DAN KONSELING
31 comments on “Peran Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013
  1. wanti utami berkata:

    kurang tepat saja jika pada kurikulum ini guru BK hanya menjalankan programnya di luar jamny. sangat tidak efesien, karena jika di pikir bersama gak mungkin siswa yang langsung hadir menemui guru BK kalok tidak gurunya melakukan pendekatan pada siswanya. akan lebih baik jika guru BK di buatkan jam khusus sehingga guru bk dapat membantu penyelesaian masalah kontemporer

  2. Sugeng Widodo berkata:

    saya melihat kurikulum 2013 bahwa BK tidak lagi masuk kedalam kelas, lalu bagaimana BK akan melakukan pendekatan dan identifikasi masalah siswa secara dini karena keterbatasan jumlah guru BK jika dibandingkan jumlah siswa sehingga guru BK tidak terjadwal untuk tatap muka dengan siswanya. bagaimana perjuangan para guru BK dalam hal ini????

  3. bambang sadtiyono berkata:

    kalau jam belajar dari pagi sampai jam 4 sore berarti anak itu praktis seharian penuh buat belajar,dalam hatiku mengatakan kapan anak untuk bersosialisasi dengan teman bermainnya berorganisasi ya ,dan bila ikut ektra apa trus sampai jam 18.sore ya…..

  4. NURALAM ANAR berkata:

    sukses koselor indonesia melaksanakan kurikulum 2013,konselor semakin dituntut kerja profesional dan kompeten khususnya dalam pendampingan peminatan siswa.nuralam anar ketua MGBK BONE,kETUA ABKIN CAB.BONE SULSEL.

  5. Immaculata Sriunon K.M. berkata:

    Semoga dengan peminatan bidang IPA, IPS dan BAHASA yang dilakukan sejak murid kelas X, tidak berdampak semakin banyak murid yang salah mengambil keputusan karena, belum terlalu mendalam pengenalan akan potensi dirinya dan belum banyak terdampingi dalam mengeksplor potensi sesuai dengan situasi dan kondisi serta perencanaan studi lanjut dan karier selanujutnya. Hal ini didasarkan murid SMA masih dalam pencarian identitas diri, termasuk dalam penemuan segala potensi, kekurangan dan kelemahan dirinya baik itu bersifat akademis maupun non akademis. Ada kalanya masih terdapat paradigma murid dan keluarga yang beranggapan jurusan tertentu lebih unggul dan prestisenya lebih tinggi dibandingkan jurusan yang lain. Ini bisa berbahaya kalau murid tidak terdampingi akhirnya memilihjurusan yang tidak sesuai dengan pottensi dan kemampuannya. Sebagai konselor sekolah, saya berharap rekan -rekan BK yang di SMP sungguh dapat menyosialisasikan dan membantu murid SMP yang akan menjadi peserta didik yang menjalani Kurikulum 2013, agar mereka sudah memiliki wawasan yang tepat, penemuan potensi dan arah ke depan yang sudah mulai jelas, sehingga keputusan mereka tidak salah dan pada akhirnya mereka tetap mampu berkembang secara optimal. Pengalaman yang ada tidak jarang murid SMA Kelas X yang naik kelas XI pada jurusan tertentu masih memaksakan diri masuk jurusan tertentu demi prestise (biasanya IPA) dalam perjalanan mengalami hambatan yang tidak ringan. Apapun yang menjadi kebijakan dalam bidang pendidikan yang terimplementasi dalam Kurikulum 2013, marilah kita tetap menunjukkan peran BK secara profesional sesuai dengan tugas, tanggung jawab, kompetensi, karakter dan kode etik sebagai konselor sekolah.

  6. saryo berkata:

    Lima rumusan pokok-pokok pikiran yang diajukan oleh para pakar dan praktisi konseling cukup membantu dan melegakan profesi dan praktisi konselor, kami sebagai praktisi tetap menunggu sosialisasi hasil dan pedoman pelaksanaan teknis dilapangan.

  7. anis yunus suyamto berkata:

    Semakin waktu beban masalah siswa bukan semakin sedikit. Ini menggambarkan, betapa perlunya pendampingan dari Guru BK yang profesional. Apalagi setiap perubahan kurikulum tanpa pernah mempertimbangkan aspek psikologis siswa, senantiasa mengedepankan sasaran yang ingin dicapai. Mampukah anak2 bangsa menyerap dan meraih apa yang diinginkan oleh para petinggi pendidikan, yang sering kali nampak terlalu egois dan emosional dalam mengatrol kemampuan aktualisasi generasi muda Indonesia. Mari kita lebih realistis, mereka juga manusia, punya rasa, punya hati……..dan juga punya keterbatasan, bukan robot. Tapi inilah perlunya dan pentingnya pendampingan Guru BK yang mau memahami anak asuhnya.

  8. Heri Yanti berkata:

    Saya setuju, Peran penting BK dalam implementasi kurikulum 2013 harus diiringi dengan panduan atau pedoman operasional penyelenggaraan BK yang lengkap dan jelas serta pengadaan pelatihan dan supervisi yang berkesinambungan. sehingga tampak jelas adanya peran penting kita sebagai konselor dalam implementasi kurikulum 2013.

  9. afifah berkata:

    Ketidakjelasan posisi dan peran Bimbingan Konseling dalam kurikulum 2013 merupakan tanda bahwa selama ini sebagian pihak menilai dan memahami bimbingan konseling di sekolah kurang memiliki arti dalam mengantar keberhasilan pendidikan. Minimnya pengetahuan bahwa bimbingan konseling telah berbuat banyak dalam mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan secara individual yang berakibat pada masih kurang jelasnya posisi dan peran bimbingannkonseling dalam kurikulum 2013 ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti
    1.Praktek bimbingan konseling di sekolah selama ini kurang berjalan efektif, selama ini berkesan kurang terintegrasi dengan komponen lain di sekolah, baik dari penyusunan program sampai dengan evaluasi dan tindak lanjut yang terpisah atau tersendiri dari kurikulum
    2. Profesionalitas dari guru BK masih tertatih-tatih, yang disebabkan oleh berbagai permasalahan yang sangat bervariasi.
    3. Semua hal tersebut diatas menyebabkan kurang terakomodirnya kepentingan-kepentingan BK disekolah oleh para pakar pendidikan yang merumuskan kurikulum 2013

    Sungguh sangat memprihatinkan karena terjadi jarak yang demikian lebar antara apa yang dimaui UU No.20 /2003 yang menyatakan bahwa tentang pengembangan potensi siswa. Potensi siswa bukan hanya potensi akademik atau intelektual saja tetapi juga mengembangkan potensi kepribadian, seperti kemampuan memahami diri, kemampuan mengambil keputusan, bertanggung jawab, kemampuan beradaptasi dengan dinamika kehidupan yang dihadapi siswa. Sementara dalam kurikulum 2013 ini seharusnya memuat secara eksplisit tugas dan peran bimbingan konseling, bukan sebaliknya malah bertanya-tanya lalu dimana peran guru BK?

    Masyarakat Profesi Bimbingan Konseling yang ada di negeri sangat terperanjat menyaksikan kurikulum yang sebentar lagi akan diterapkan. Lalu bagi guru BK yang ada di sekolah pinggiran cuma bisa bertanya tanya kok masyarakat profesi konseling di Indonesia nggak bertaring ya?

Komentar ditutup.