Seputar Pro-Kontra Kebijakan Ujian Nasional

Dari tahun ke tahun penyelenggaraan Ujian Nasional selalu diwarnai dengan pro-kontra. Di satu pihak ada yang meyakini  bahwa Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan siswa masih tetap diperlukan. Tetapi di lain pihak, tidak sedikit pula yang menyatakan menolak Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan siswa. Masing-masing pihak tentunya memliki argumentasi tersendiri.

Berikut ini disajikan aneka berita seputar Pro-Kontra Kebijakan Ujian Nasional  yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, yang tentunya baru sebagian kecil saja dari sejumlah berita yang saat ini sedang hangat diberitakan dalam berbagai mass media.

BERITA PRO UJIAN NASIONAL

1. Penerbitan Permendiknas   Ujian Nasional 2010

Mendiknas menerbitkan peraturan  No.74 dan 75 tentang Panduan UN Tahun Pelajaran 2009-2010 SD dan SMP/SMA/SMK, ditandatangani oleh Mendiknas  Bambang Sudibyo per tanggal 13 Oktober 2009.  Salah satu isinya menyebutkan  bahwa  Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan. (baca selengkapnya Depdiknas )

2. Kalah di MK Soal UN, Pemerintah Segera Ajukan PK

Menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi ujian nasional yang diajukan oleh pemerintah, Pemerintah akan kembali melakukan upaya hukum yang terakhir yakni pengajuan peninjauan kembali. “Terus terang saya belum membaca keputusan MA. Yang jelas kita menghormati apa pun keputusan lembaga hukum. Siapa pun juga harus menghormati upaya-upaya hukum yang masih dilakukan. Untuk selanjutnya, tentu pemerintah akan menggunakan hak yang dimiliki,” kata Menteri Pendidikan Nasional RI Mohammad Nuh seusai upacara bendera Peringatan Hari Guru, Rabu (25/11) di halaman Departemen Pendidikan Nasional RI, Jakarta.  (baca selengkapnya Kompas.com)

3. 2010, UN Bukan Penentu Kelulusan

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengatakan, pada tahun 2010 Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas) akan melakukan perubahan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Tetapi pihaknya menyangkal jika perubahan tersebut dikaitkan dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi dari pemerintah berkait keputusan dari Pengadilan Tinggi Jakarta tentang pelaksanaan UN. (baca selengkapnya Republika Online)

4. Ujian Nasional Jalan Terus

Salah satu anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Prof Mungin Eddy Wibowo, mengatakan bahwa putusan Mahkamah Agung (MA) yang melarang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tak memengaruhi penyelenggaraan UN pada 2010. “Kami akan tetap menyelenggarakan UN pada 2010 sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, dan hal itu juga telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,” kata Mungin.  (baca selengkapnya Kompas.com)

5. Hasil UN Meningkat, Pemerintah Puas

Pemerintah atau Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), mengaku merasa puas dengan hasil Ujian Nasional (UN) 2008/2009 yang secara nasional persentasenya mengalami kenaikan.(baca selengkapnya: Diknas.go.id)

BERITA KONTRA UJIAN NASIONAL

1. Press Realease dari Mahkamah Agung

Mahkamah Agung menolak permohonan pemerintah terkait perkara ujian nasional, dalam perkara Nomor : 2596 K/Pdt/2008 dengan para pihak Negara RI cq Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono; Negara RI cq Wakil Kepala Negara, Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional cq Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, Bambang Soehendro melawan Kristiono, dkk (selaku para termohon Kasasi dahulu para Penggugat/para Terbanding.(baca selengkapnya Mahkamah Agung )

2. Pasca Putusan MA, Pemerintah Perlu Tinjau UN

“…  Dari segi hukum perlu diapresiasi, karena setidaknya putusan MA itu perlu dikritisi oleh pemerintah untuk benar-benar meninjau kembali UN, yang selama ini terjadi pemerintah tidak pernah melakukan itu,” ujar Dr Anita Lie, dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika WIdya Mandala Surabaya.

“….Sementara itu, menurut Sekretaris Institute for Education Reform Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen, ada hal lebih penting dari putusan MA tersebut, yaitu soal pemborosan. Abduh mengatakan, pemborosan terjadi akibat dikeluarkannya kebijakan UN ulang bagi siswa yang tidak lulus. “Dengan model yang seperti ini, UN sampai saat ini tidak memperlihatkan satu hal pun yang menyangkut soal peningkatan mutu anak didik,” ujarnya. Abduh menegaskan, kalau tidak dikritisi oleh masyarakat, kondisi yang terjadi akan terus begini. “UN itu tentu bisa diadakan, tetapi kalau sudah dilakukan perubahan pada kerangka pendidikan nasional yang bermutu secara menyeluruh, namun kenyataannya secara makro hal itu tidak ada sama sekali, tidak ada kompromi,” tambahnya. (Baca selanjutnya Kompas.com)

3. Putusan Kasasi UN Dirayakan dengan Tumpeng

Peringatan Hari Guru di Bandung dirayakan dengan tumpengan oleh guru, siswa, dan masyarakat pemerhati pendidikan. Syukuran ini juga dilakukan terkait ditolaknya permohonan kasasi pemerintah mengenai ujian nasional oleh Mahkamah Agung. (Baca se;engkapnya Kompas.Com )

4. Pemerintah Dinilai Langgar Hukum Jika Tetap Gelar Ujian Nasional

Pemerintah dinilai melanggar hukum jika tetap menyelenggarakan Ujian Nasional tahun depan. Sebab, putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi yang diajukan pemerintah dianggap sudah final.   (baca selengkapnya Tempointeraktif )

5. Guru Menuntut Ujian Nasional Dibatalkan

Para guru yang tergabung dalam Forum Interaksi Guru Banyumas (Figurmas), Jumat (27/11), menuntut agar Ujian Nasional dibatalkan, menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi perkara UN yang diajukan pemerintah.  (baca selengkapnya Kompas.Com )

6. Wakil Ketua MPR Setuju Penghapusan Ujian Nasional

Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin meminta pemerintah menerima putusan MA yang membatalkan ujian nasional. Ketimpangan fasilitas pendidikan menjadikan pendidikan di Indonesia tidak pantas lagi distandarisasi secara nasional. (baca se;lanjutnya  : Detik News )

7. Mahasiswa Demo Minta Ujian Nasional Dihapus

Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) Polewali Mandar, Sulawesi Barat, melakukan aksi unjuk rasa di kantor dinas pendidikan setempat. Dalam orasinya para mahasiswa mendesak pemerintah dan dinas pendidikan untuk bertanggung jawab dengan bobroknya pelaksanaan ujian nasional tahun ini. (baca se;lanjutnya  : Liputan6.com)

8. Tolak UN, BEM Universitas Palangkaraya Demo

Puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangkaraya berdemo di halaman Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka menolak ujian nasional sebagai standar kelulusan. (baca se;lanjutnya: Kompas.com)

BERITA “KORBAN” UJIAN NASIONAL

1. Peserta UN Dicampur, Guru Bingung

… Kebijakan mencampur peserta UN itu membingungkan pihak sekolah, guru, dan siswa. Apalagi hingga saat ini kepastian soal perubahan-perubahan teknis dalam pelaksanaan UN belum juga disampaikan secara resmi ke sekolah.Sejumlah pimpinan sekolah dari berbagai daerah, Rabu (25/11), mengatakan, rencana mencampur peserta UN menambah beban psikologis pelajar. (baca selengkapnya: Kompas. com)

2. Kisah Pahit Para Korban Ujian Nasional

Ujian nasional digugat. Ujian sebagai standarisasi kelulusan itu dianggap mengabaikan prestasi yang dibina anak didik selama bertahun-tahun. Banyak siswa berprestasi tidak lulus hanya lantaran gagal dalam ujian nasional. Seperti yang dialami Siti Hapsah pada 2006. Mimpinya kuliah di Institut Pertanian Bogor sirna gara-gara ujian ujian nasional. Ia dinyatakan tak lulus ujian nasional lantaran nilainya kurang 0,26.  (baca selengkapnya  VivaNews)

3. Pelajar Alami Gangguan Jiwa Hadapi UN {Video)

Seorang siswi kelas 3 SMP Negeri 4 Kendari, Sulawesi Tenggara mengalami gangguan jiwa setelah terlalu banyak belajar menghadapi ujian nasional. (baca selengkapnya  VivaNews)

4. Bunuh Diri Karena Tak Lulus UN

Gara-gara tak lulus ujian nasional (UN) SMA, seorang pemuda nekat bunuh diri. Diduga karena tak kuat menahan beban psikis, Tri Sulistiono (21) memilih mengakhiri hidupnya dengan cara melompat ke dalam sumur.  (baca selengkapnya Suara Merdeka)

5.  Mengurung diri setelah gagal UN,  Edy akhirnya bunuh diri

Edi Hartono (19), aib karena gagal UN masih terus terasa menyesakkan. Setelah mengurung diri di rumah neneknya, mantan siswa SMA di Besuki itu akhirnya bunuh diri. (baca selengkapnya: Kompas. com)

6. Gagal UN, Siswi SMP Mencoba Bunuh Diri

Hasil ujian nasional sekolah menengah pertama nyaris membawa korban jiwa di Banyuwangi, Jawa Timur, belum lama ini. Ida Safitri, siswi SMPK Santo Yusuf, mencoba bunuh diri dengan menenggak puluhan pil tanpa merek karena gagal lulus. Beruntung nyawa korban dapat diselamatkan setelah pihak keluarga segera membawanya ke rumah sakit. (baca selengkapnya: Liputan6.com)

7. Siswa SMK Coba Bunuh Diri, Diduga Karena Tak Bisa Ikut UN

Ujian Nasional (UN) adalah segalanya bagi seorang siswa. Diduga karena stres tidak bisa ikut UN, Hendrik Irawan (19) nekat minum racun serangga. Beruntung nyawanya bisa diselamatkan. (baca selengkapnya : DetikNews.com)

=========================================

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam ARTIKEL, MANAJEMEN PENDIDIKAN
84 comments on “Seputar Pro-Kontra Kebijakan Ujian Nasional
  1. Anonim berkata:

    no komen dh………

  2. viverdy memah berkata:

    gua ingin buktiin secarah ilmiah, pantes ga UN dijadikan instrumen buat ngukur mutu pendidikan nasional..

  3. kiki berkata:

    saya kurang setuju dengan adanya UN. apalagi sekarang ini pemerintah memberlakukan tentang pendidikan berkarakter. tujuan pendidikan berkarakter itu menjadikan siswa-siswinya menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki setiap siswa. tetapi UN malah membuat bakat-bakat setiap siswa seperti terkunci di dalam suatu ruang yang dipaksakan. jika hanya untuk mencapai standar kelulusan, mengapa UN malah membuat siswa-siswi menjadi tertekan dan terbebani? sebaiknya lihat kembali apa tujuan pendidikan yang sebenarnya.

  4. anwar sadat berkata:

    UN mjdi keharusan bagi pendidikan,profesionalitas dalam hal ini menjadi prioritas dalam mengawal,membuat soal dan melaksanakan ujian Nasional.kita hentikan tindakan memperkaya diri dan memanipulasi data-data UN.mari kita selenggarakan ujian in dengan baik.

  5. joko susilo berkata:

    UN hanya bernuansa proyek saja, yang kasihan gurunya…karena anak didiknya harus lulus, karena kalo tidak lulus, citra sekolah, citra dinas pendidikan kabupaten, propinsi akan dicap jelek. Jika jelek yang disalahkan gurunya, padahal siswa sudah didril terus-menerus sampai jenuh, sampai buanyak yang kesurupan, (karena jenuh tiap jam ketemu dengan mata pelajaran UN). UN jauh dari nilai-nilai yang diajarkan ki Hajar Dewantara. , UN hanya mengukur aspek kognitif saja. sementara aspek afektif dll, tak begitu diperhatikan. UN hanya mengandalkan IQ saja, (yang penting Pinter) masalah nantinya pinter ,buat minteri orang lain ngga tahu, karena dalam UN tidak ditananamkan nilai rasa kebaikan, kejujuran. dan kearifan. UN jauh dari kreatifitas dan inovatif. ( tidak seperti pendidikan di Jepang yang sangat mengembangkan nilai-nilai kebaikan, kreatifitas dan inovatif serta sportifitas lihat : TV Campion). Belum lagi jika pelaksanaanya, diselenggarakan dengan tidai jujur. (baca :kasus contek masal). guru akan sulit menerapkan bukti keteladanan. guru terpojok. kasihan. Intinya UN itu banyak mudlaratnya daripada manfaatnya. mohon direnungkan dengan nurani/hati yang paling dalam.

  6. omm hafiz berkata:

    Unas sbg salah satu Penilaian atau Pemetaan Mutu untuk kebijakan pembangunan pendidikan yg lebih baik, itu perlu. Tp kalau Unas ikut sbg penentu kelulusan setidakny diknas juga lebih adil dan bijaksana, bgmn dng daerah atau sekolah yang belum memenuhi SPM atau 8 SNP.
    Memang bnyak unsur positifnya dan ada juga efek negatifnya spt lunturnya kejujuran contohnya adanya contek masal, sekolh lebih fokus pd kelulusan (unsur kognitif) akbatnya diknas skrng sibuk dng penanaman pendidikan karakter di sekolah..
    Unas tak mungkin akan dihapus krn slh satunya hilangnya “Proyek diknas…
    ok, lanjutkan…… mkch

  7. Arizenjaya berkata:

    ….bagi yang kontra dg UN justru penting menelusuri secara mendalam proses pendidikan yg harus berlangsung di setiap satuan pendidikan kita. Jika peserta didik melalui proses pendidikan yg benar maka UN tdk perlu menjadi perdebatan (tdk perlu menjadi kekuatiran) kita. Jika peserta didik setiap hari pergi ke sekolah (satuan pendidikan) & belajar benar di sana lalu kembali ke rumah mengerjakan sejumlah tugas yg menjadi tugasnya sebagai peserta didik, lalu didukung oleh orangtua/wali menstimulus anaknya belajar di luar jam sekolah, maka peserta didik akan memiliki sejumlah potensi untuk mengetahui materi pembelajaran yg disajikan oleh pendidik sesuai silabus yg menjadi tolak ukur (pedoman) penyusunan soal UN. Fsilitas teknologi telekomunikasi utk mengakses berbagai informasi materi pembelajaran melalui internet, selain buku-buku yg banyak di pasaran (di toko buku, maupun buku elektronik di berbagai situs buku elektronik) bahkan dpt dipesan ke penerbit, merupakan potensi yg dapat membantu mutu proses pendidikan kita. Lebih lagi jika pendidik menyiapkan media pembelajaran yg lebih menarik, terasa indah & mengasyikkan bagi peserta didik, misalnya melalui percobaan bagi mata pembelajaran sains, maka smua akan terproses menjadi peserta didik yg siap lulus UN. Sejak awal masuk sekolah (satuan pendidikan) selalu memiliki sejumlah pengetahuan yg optimal baru dpt naik jenjang berikutnya dlm suatu sekolah, & seterusnya sampai pd jenjang terakhir ketika akan mengikuti UN. Salah satu masalahnya adalah MIND SET (cara berfikir) kita yg kadang keliru dari awal, karena kadang hanya kita memikirkan peserta didik itu lulus dari suatu satuan (lembaga) pendidikan, dan kadang TIDAK MENITIKBERATKAN pd esensi pendidikan itu sendiri yaitu agar peserta didik (anak kita) memiliki sejumlah pengetahuan & keterampilan serta karakter positif. BUKAN SEKEDAR utk lulus & mendapatkan ijazah. Sejak berangkat dari rumah anak kita (peserta didik) & org tua & mungkin juga pendidik serta mungkin juga pemerintah daerah memiliki MIND SET YANG KELIRU bahwa 3 thn sejak masuk sekolah (SLTP & SLTA), anak kita (peserta didik) harus tamat atau dpt ijazah. Pd hal yg akan menjadi alat ukurnya adalah apakah secara obeyektif anak kita (peserta didik) telah memiliki sejumlah mutu sumber daya manusia sesuai dgn jenjang & karakteristik satuan pendidikan kita. APA YG DIBUAT OLEH DEPDIKNAS ITU ADALAH BENAR ADANYA, termasuk UN, sebab UN merupakan tahapan akhir dari sejumlah proses yg dinilai sebelum UN tiba. Seperti 2 (dua) ujian semester di kls satu SLTA atau kls X yg juga harus melalui ujian praktikum utk mata pembelajaran sains, yg di dalamnya terkandung materi UN. Demikian juga di kls dua SLTA melalui proses yg identik, sampai di kls tiga SLTA. Sehingga semua optimal & akan mencapai nilai tujuh ke atas setiap mata pembelajaran, & jika Standar Kelulusan kita hanya rata-rata 5,5 (lima koma lima), maka secara global kita harus malu, atau sebaliknya kita tau diri bahwa ternyata bangsa kita adalah komunitas orang-orang bodoh, & jangan heran bilaman semua kekayaan alam kita tdk mampu kita kelola. Jangan heran kalau institusi pendidikan kita hanya mampu membentuk kader tenaga kerja internasional kebanyakan sebagai pembantu rumah tangga, bukan inovator yg mampu berkreasi dll bukan yg produktif. Kalau tdk mencapai nilai standar kelulusan, berarti ada yg salah dlm proses pendidikan kita bukan UN yg harus ditiadakan. Dapat dibayangkan jika tdk ada ujian maka semua akan lulus, termasuk yg hanya namanya saja terdaftar sudah dapat ijazah dll yg negatif.
    Salah satu permasalahan dlm setiap satuan pendidikan kita adalah proses-proses itu tidak dialami secara optimal oleh peserta didik, akibat berbagai kendalah termasuk kendala dari kita orangtua. Sebab ternyata ada orang tua yg keliru yaitu berpandangan-salah ketika guru memberi tugas pd peserta didiknya (org tua marah ketika anaknya diberi banyak tugas oleh pendidiknya), ada org tua marah jika anaknya tdk naik kelas, ada org tua mempersalahkan pendidik jika anaknya ditegur guru, atau diberi sanksi oleh pendidik akibat melakukan pelanggaran, karena anaknya amat baik di rumah, namun ketika di luar rumah seperti di jalan ia ngebut atau tidak kerja tugas, atau hanya menyalin tugas temannya, atau nyontek saja pd orang lain, atau selalu nyontek pd bukunya setiap ulangan indvidu, atau tdk mau melakukan praktikum, dll yg indentik. Akibatnya pendidik mengalami gangguan dlm menyusun strategi utk ME-RECOVERY (menyembuhkan, membangun kembali) karakter negatif menjadi positif dari peserta didik yg bersangkutan. Ini semua merupakan kajian dlm menyiapkan anak kita (peserta didik) agar sukses menempuh pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak sampai tingkat doktoral bahkan sampai usulan menjadi profesor kelak.
    Tugas kita sebagai orangtua adalah mendorong anak kita (peserta didik) untuk mengikuti dgn telaten semua proses pembelajaran yg disajikan oleh pendidik. Karena di dlm mengikuti semua proses, peserta didik (anak kita) sedang dibentuk mentalnya menjadi telaten sehingga kelak dlm realita kehidupannya akan menjadi bijak, obyektif, tidak senang melakukan jalan pintas yg curang dll yg positif.
    Tugas kita sebagai orangtua adalah mendorong institusi pendidikan kita (satuan pendidikan pada mana anak kita mengikuti pendidikan) agar melakukan proses pembelajaran yg optimal dlm menjalankan tugasnya. Pendidik kita di setiap satuan pendidikan disuport utk melakukan langkah-langkah inovatif dlm membangun media pembelajaran yg optimal mewujudkan proses pembelajaran yg terkesan menarik, indah & mengasyikkan bagi peserta didik (bagi anak-anak) kita.
    Tugas kita orangtua peserta didik atau masyarakat melalui wakil-wakil kita di Parelemen atau langsung ke KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL adalah mendorong semua komponen yg terkait utk memberikan perhatian bagi berlangsungnya proses pembelajaran pd mana peserta didik (anak-anak kita) benar-benar terlibat secara aktif dlm prsoses pembelajaran, melalui sejumlah proses pembelajaran yg optimal dpt mengembangkan potensi diri mereka (peserta didik = anak-anak kita) untuk memiliki kekuatan atau potensi optimal (pasal 1 UU No. 20/2003 ttg Sisdiknas).
    Sebagai bagian dari masyarakat, kita semua terasa penting mendorong agar indikator-indikator keberhasilan pendidikan di semua daerah otonom di tingat Kabupaten/Kota bukan KUANTITAS prosentase kelulusan sejumlah peserta didik, MELAINKAN MUTU PROSES PEMBELAJARAN, MUTU PROSES UJIAN NASIONAL dll mutu atau kualitas pd setiap jenjang & jenis satuan pendidikan kita.
    Salah satu pentingnya UN adalah bahwa UN independen dlm menyajikan soal, memiliki mutu soal yg standar, dll. Sehingga satuan pendidikan kita dpt dievaluasi secara obeyektif. Dpt dibayangkan jika Ujian Akhir dilaksanakan sendri oleh guru di sekolah yg bersangkutan pd mana soalnya dibuat sendiri oleh guru, diperiksa sendiri oleh gurunya, tentu tdk dpt dijamin independensi bahkan reliability dari pemeriksaan belum tentu optimal, walau secara teoritis soalnya telah diuji validitas & reliabilitasnya. Sehingga UN sangat peniting.
    Salah satu yg penting diperjuangkan bersama adalah proses UN itu harus berjalan sesuai Panduan Operasional Standar dari Badan Standar Nasional Pendidikan Depdiknas. Ketika ada pelanggaran, konsisten ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yg berlaku.

  8. Desy Sembiring berkata:

    Kita tau, UN brtjuan unt mgukur sjauh mana bermutunya pendidikan d Indonesia. Namun, unt sbgmana standarisasi penentuan LULUS tdaknya peserta didik, it sy rasa krg etis.

  9. Khamdani berkata:

    Ujian Nasional perlu dan penting. Apalagi Ujian Nasional sekarang penilaiannya tidak sesaat. Menyertakan hasil penilaian secara komperhenship, 5 semester sebelumnya. Baik untuk SD, SMP, maupun SMA/SMK. Dan, toh yang diujiannasionlkan hanya kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimana jadinya, kalau tidak ada ujian nasional. Sulit untuk mengukur kemajuan secara nasional hasil/mutu pendidikan yang sudah dibiayai lumayan cukup besar (katanya 20% dari APBN?). Saya khawatir, tawuran antar pelajar akan makin jadi, kalau Ujian Nasional dihapus.

    Kepada Pak Akhmad Sudrajat, mohon bisa di upload kisi-kisi soal (SKL) utuk mata pelajaran Ujian Sekolah (PKn, IPS, Bahasa Inggris dan Bahasa Sunda) terima kasih

  10. Zantosa berkata:

    Terlepas dari segala kekurangan UN ada juga sisi positifnya. Tantangan hidup sekarang amat berat. Mengapa baru mengadapi tantangan UN udah ketakutan. Tidak lulus UN bunuh diri ! Melanggar HAM lah. Sebenarnya lulus dan tidak lulus hal yang sangat biasa. Sebaiknya jika UN dihapus tidak perlu ujian, karena dipastikan semua peserta pasti lulus.

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.