Perilaku Intimidasi di Sekolah

Guru dan Siswa yang Terintimidasi

oleh: Les Parsons

Les Parsons dalam bukunya yang berjudul Bullied Teacher Bullied Student mengupas tentang perilaku intimidasi di sekolah, baik yang dilakukan oleh siswa, guru, maupun kepala sekolah. Dengan mengutip pemikiran Peter Randall, dikemukakannya bahwa yang dimaksud dengan perilaku intimidasi adalah perilaku agresif yang muncul dari suatu maksud yang disengaja untuk mengakibatkan tekanan kepada orang lain secara fisik dan psikologis. Perilaku yang agresif dan menyakitkan ini dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang. Disebutkan pula, bahwa kunci utama dari pengertian ini terletak pada penyalahgunaan secara sistematis dari ketidakseimbangan kekuatan.

Terdapat beberapa poin penting tentang permasalahan perilaku intimidasi di sekolah, diantaranya:

  • Di sekolah, intimidasi dapat terjadi dimana saja dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Pelaku intimidasi bisa siswa atau orang dewasa.
  • Pelaku intimidasi dapat beraksi sendirian atau bersama kaki tangan.
  • Sasaran intimidasi dapat merupakan seseorang atau sekelompok orang.
  • Intimidasi adalah perbuatan berulang seseorang atau sekelompok orang yang takut kepada si pelaku intimidasi Di sini tampak terdapat ketidakseimbangan kekuatan.
  • Pelaku intimidasi secara sengaja bermaksud menyakiti seseorang secara fisik, emosi atau sosial.
  • Pelaku intimidasi sering merasa perbuatannya itu dapat dibenarkan.
  • Pelaku intimidasi sering terorganisasi dan sistematis.
  • Pelaku intimidasi para saksi atau penonton yang tidak akan berbuat apa pun untuk menghentikan intimidasi itu atau malah mendukung perbuatan tersebut.
  • Intimidasi dapat berlangsung untuk waktu jangka pendek atau untuk waktu yang tidak terbatas.

Ilustrasi berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran tentang perilaku intimidasi yang terjadi di sekolah, baik yang dilakukan siswa, guru, kepala sekolah maupun orang tua;:

  1. Seorang siswa yang populer, menarik dan berprestasi, yang dipandang oleh orang dewasa sebagai sosok yang patut ditiru dan seorang pemimpin kelas, namun dibalik itu dia memiliki pengaruh sosial untuk mendominasi, mengendalikan dan secara selektif mengucilkan teman-temannya.
  2. Seorang guru pekerja keras yang dimata orang tua dianggap sebagai seorang yang profesional dan mampu mengendalikan kelas dengan sempurna, serta memiliki standar-standar tinggi, tetapi secara berkala membuat siswa menangis karena kata-kata kasarnya, tindakan-tindakan yang mempermalukan dan ejekan-ejekannya.
  3. Kepala sekolah yang dengan seksama dan sistematis melecehkan staf dan guru yang dianggap sebagai saingannya, sementara dihadapan atasannya ia terlihat berperilaku lembut dan penurut.
  4. Orang tua agresif; untuk menekan perilaku agesif anaknya di rumah, tetapi merespons luapan keagresifan terpendamnya di sekolah dengan menyalahkan pihak sekolah secara keji dan berang, secara terus menerus melecehkan sekolah atas setiap kecerobohan yang mereka lihat.

A. Siswa yang Mengintimidasi

Siswa yang melakukan intimidasi pada siswa lain terdorong oleh beberapa alasan:

1. Gangguan pengendalian diri;

Siswa seperti ini merasa berselisih dengan dunia yang serba bermusuhan. Mereka mengalami kegelisahan emosional, salah menafsirkan dan salah memahami segala bentuk interaksi dengan orang lain, dan tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan agresif; yang muncul. Mereka sering melanggar peraturan, memulai tindakan agresif, ;merusak milik orang, menyalahkan orang lain, dan menunjukkan kurang pengertian atau simpati terhadap hak-hak dan perasaan orang lain.

2. Intimidasi yang dipelajari

Siswa dapat belajar mengintimidasi melalui berbagai cara, seperti: menyaksikan perbuatan-perbuatan kejam, mendapat imbalan atas tindakan ;agresif yang pernah dilakukannya, termasuk jika dia mendapatkan perlakuan agresif dari orang lain.

Penggunaan hukuman fisik, hukuman yang tidak konsisten dan pemanjaan berlebihan yang dilakukan oleh orang tua memiliki korelasi dengan perilaku agresif anaknya.

3. Mengintimidasi untuk memperoleh sesuatu

Ketika sebagian besar anak melakukan intimidasi, mereka mempunyai tujuan yang jelas dalam benak mereka. Mereka sengaja menggunakan kekerasan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan dari orang lain—uang jajan, jawaban ketika mengahadapi ujian, atau hanya sekedar kesenangan untuk mendominasi, dan bahkan untuk memperkokoh status dan harga diri dalam hierarki sosial

Untuk menghadapi kasus-kasus di atas, para guru mestinya dapat melihatnya sebagai gejala dari suatu kelainan, bukanlah perbuatan atas kemauan sendiri. Dalam hal ini, bukan berarti guru membolehkan atau memaafkan perilaku agresif tersebut, tetapi guru harus mampu merencanakan pendekatan manajemen kelas yang tepat, bekerja sama dengan ahli atau nara sumber spesialis yang terlatih.

B. Guru yang Mengintimidasi

Guru pelaku intimidasi adalah guru yang menggunakan kekuasaannya untuk menghukum, memanipulasi, atau mengolok-olok siswa, melampaui tindakan disipliner yang masuk akal.

Guru pelaku intimidasi kadang tidak mampu melihat dirinya yang sesungguhnya. Mereka mengartikan perlakuan agresifnya sebagai suatu tindakan yang tegas, perkataan mereka yang kasar dianggapnya sebagai ungkapan jujur, ketidakkonsistenan sebagai flesksibilitas, serta kekakuan dan obsesi mereka terhadap hal-hal remeh dianggap sebagai ketelitiannya. Pelaku-pelaku intimidasi semacam ini jarang mengakui kesalahan mereka dan menganggap kekeliruan adalah kesalahan orang lain. Mereka merasa penting, berkuasa, elite dan berhak. Menganggap orang lain iri, memanipulasi dan mengeksploitasi orang lain demi kepentingan mereka sendiri, dan tidak memiliki empati bagi target mereka. Mereka menjadi pribadi yang egois, tidak dapat diprediksi, kritis dan pemarah. Sebagai orang dewasa, guru pelaku intimidasi lihai dalam memilih sasaran, terutama ke samping, ke bawah, tetapi jarang mengintimidasi ke atas.

Perilaku guru mengintimidasi meliputi: (1) kekerasan verbal melalui penggunaan stereotip- stereotip dan penamaan yang bermuatan seksis, rasis, kultur, sosio-ekonomi, ketidaksempurnaan fisik dan homofobik; (2) kekerasan fisik; seperti mengguncang, mendorong, mencubit, menjambak, menjewer, memukul dengan penggaris atau melemparkan sesuatu; (3) kekerasan psikologis; berteriak, berbicara dengan sarkasme, menyobek hasil herja, mengadu domba siswa, membuat ancaman-ancaman.; (4) kekerasan yang berkaitan dengan profesionalisme; penilaian yang tidak adil, menerapkan hukuman dengan pilih-pilih, menggunakan cara-cara pendisiplinan yang tidak pantas, mengarahkan pada kegagalan dengan menetapkan standar yang tidak wajar, membohongi rekan kerja, orang tua siswa, atasan mengenai perilaku siswa, mengambil kesempatan dengan menggunakan materi-materi atau pengayaan, mengintimidasi orang tua karena hambatan bahasa, budaya, atau status sosial ekonomi.

C. Kepala Sekolah yang Mengintimidasi

Kepala sekolah memulai kariernya sebagai guru dan kemudian dipromosikan melalui jenjang karier. Perkembangan itu adalah sumber dari kekuatan terbesar mereka dan juga kelemahan terbesar mereka. Kapasitasnya sebagai manajer, kerapkali menjadikan guru, karyawan dan siswa sebagai sasaran kekerasan. Kepala sekolah yang suka mengintimidasi akan menghasilkan perilaku intimidasi pula pada guru, karyawan dan bahkan siswa. Kepala sekolah yang mengintimidasi sering mencoba meremehkan dan merusak hasil kerja guru yang paling berbakat dan kreatif, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap sekolah. secara keseluruhan Perilaku kepala sekolah yang mengintimidasi seringkali menjadi kontradiktif dan membingungkan. Mereka memandang bahwa diri mereka disalahmengertikan dan diganggu. Padahal, faktanya mereka adalah perusak dan disfungsional.

Setiap sekolah haruslah menjadi tempat dimana siswa dan seluruh komunitas merasa aman dan tentram secara fisik maupun emosional. Intimidasi dalam bentuk apa pun, baik yang dilakukan oleh siswa, guru atau kepala sekolah dapat menjadi ancaman dan menghalangi proses pembelajaran. Satu-satunya cara untuk secara tegas menghalau dan menjauhkan intimidasi adalah dengan memaksakan keadilan bagi semua. Hanya dengan itulah sekolah-sekolah akan menjadi lingkungan belajar yang positif, di mana proses pembelajaran dapat dimaksimalkan dan setiap siswa merasa dihargai

Sumber:

Les Parsons. 2009. Bullied Teacher Bullied Student (Guru dan Siswa yang Terintimidasi; Mengenali Budaya Kekerasan di sekolah Anda dan Mengatasinya) Terj.Grace Worang, dkk. Jakarta: Grasindo.

Catatan:

Buku Bullied Teacher Bullied Student ini berisikan:

  • Mengenali budaya intimidasi yang sistemik
  • Menetralkan ketidakseimbangan kekuatan yang memampukan pelaku intimidasi.
  • Menciptakan sebuah lingkungan yang bebas dari stereoip seksual, rasial, dan kultural.
  • Menggunakan pembelajaran kooperatif untuk menumbuhkan rasa menghargai terhadap perbedaan.
  • Memberdayakan siswa melalui imbalan yang postif
  • Memerangi mentalitas “salahkan si korban”

Tulisan yang saya sampaikan di atas hanya sebagian kecil dari isi buku tersebut, terutama menyoroti tentang perilaku dari pelaku intimidasi, yang menurut hemat saya penting untuk diketahui.

Jika Anda ingin memahami lebih lanjut tentang buku ini, mungkin ada baiknya jika Anda membeli buku tersebut di toko buku terdekat atau silahkan diskusikan saja dalam ruang komentar yang tersedia, agar dapat diperoleh pencerahan yang lebih mendalam.

==========

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with:
Ditulis dalam ARTIKEL, PSIKOLOGI PENDIDIKAN
30 comments on “Perilaku Intimidasi di Sekolah
  1. Steve mengatakan:

    Saya ingin menanyakan satu hal yg mungkin bersifat berbeda dari konteks…tapi kalo di liat bisa jadi ini adalah salah satu bentuk tekanan …..ada kejadian dari anak sekolah..di mna di sekolah ada namanya komite sekolah akhirnya mereka bermusyawarah dan akhirnya dengan kesepakatan bahwa akan ada pegugaran kelas dll…dan biaya ini di bebankan ke siswa..dan lebih arogan nya adalah bagi siswa yg tidak sanggup membayar tidak boleh masuk kelas…kira2 ini solusinya gmna…apa bener sekolah itu pemugaran di bebankan ke siswa atau dari pemerintah

  2. Arbaiyah mengatakan:

    hal itu sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala sekolah, hendaknya itu dibcarakan oleh semua dewan guu, dan kepala sekolah diberi peringatan ata teguran yang halus, jika memang sudah tidak bisa dikendalikan maka laporkan kepada dinas pendidikan atau yang berwenang.

  3. Sitihasanah Sri mengatakan:

    ini juga perlu dibaca ..kadang 2 perilaku itu ttidak disadari

  4. Anonim mengatakan:

    Saling intimidasi antara kepala sekolah, guru dan siswa di sekolah memang sering terjadi.Sebagai guru dan orang tua hendaknya berhati-hati dalam bertindak terhadap anak didiknya . Sebab apa yang kita ajarkan kepada anak apalagi masih usia SD maka semua terekam dengan sempurna.

  5. Anonim mengatakan:

    Mohon izin untuk copy paste di wall facebook saya.
    Yang Ingin saya tanyakan, dan mohon sangat kepada yang bisa untuk share….
    Bagaimana kalau seorang kepala sekolah sudah benar-benar mengintimidasi dengan kondisi yang sangat negatif. Misalnya, dengan menyebut guru itu…. “Anjing”, atau “Babi”….atau bahkan ketika seorang guru mengemukakan pendapat (tentulah dengan berbagai aspek penilaian), dan kebetulan kepala sekolah itu tipe orang yang tidak suka ada guru yang mengeluarkan pendapat karena dianggapnya membantah kebijakan yang sudah berlaku, sehinggha efeknya setiap ada kesempatan di forum, kepala sekolah itu selalu menyinggung nyinggung guru tersebut, dengan sindiran sindiran yang sebetulnya tidak layak untuk dikemukakan di depan forum, misalnya….”wah…anda memang mantan kepala sekolah di sekolah “anu”……..tapi disini yang berlaku adalah kebijakan saya dan tidak ada seorangpun boleh merubah nya……”
    Adakah wadah yang bisa dipakai untuk mengadu para guru yang terintimidasi…?
    Apakah masalah ini kewajiban/ kewenangan Dinas Pendidikan untuk membantu menyelesaikan…?

  6. pakde purwanto mengatakan:

    masih banyak pemberian sanksi yang sifatnya hukuman, bahkan kebencian yang menyisakan dendam.
    Alangkah sebaiknya jika keteladanan menjadi acuan, sehingga harapan KHD, ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani, memang benar-benar menjadi ruh pendidikan di Indonesia

  7. Rusmono Sp mengatakan:

    Intimidasi itu perlu asal pas… skarang banyak yg gx pas karena alasan politis…

  8. Hasni mengatakan:

    Keadaan siswa yang ada sangat berbeda-beda, melihat keadaan sekolah ana sendiri yang jauh dari kota Kabupaten dengan sumber daya manusia yang rendah dengan pendidikan rendah pula (hanya tamatan SD s/d SMP).Banyak siswa yang menganggap bahwa sekolah itu tidak begitu penting dan tidak diutamakan, dan belajar itu tidak penting yang tertpenting adalah dapat Ijasah, karena toh nantinya tetap jua Lulus (kata siswanya…)meskipun tidak belaja.
    Jadi dengan mengatakan bahwa kalo kita tidak belajar tentunya kita tidak tau pelajaran tersebut, dan jika kita tidak tau berarti terancam untuk tidak lulus,..apakah itu termasuk intimidasi?

  9. umisyam mengatakan:

    intimidasi,sampai kapanpun tidak dibenarkan dan dengan alasan apapun. Intimidasi adalah sikap negatif. Dari sikap negatif apakah akan lahir sesuatu yg baik pula??? Intimidasi hanya menguntungkan segelintir orang yg tidak mau harga dirinya terinjak-injak dan kekuasaanya terganggu. Menurut saya sikap intimidasi adalah sikap pengecut sesorang yg tidak rela harga dirinya terusik. Org yg tidak bisa intropeksi diri dan selalu melihat dirinyalah yg benar dan patut diberikan pembenaran. Padahal dgn sikapnya itu banyak org tersakiti dan menyingkir perlahan-lahan untuk menjauh drnya. Andai dia sadar (Kasihan). Hidup dr rasa sakit org lain demi kepuasan pribadi. Oh ya, Intimidasi berbeda dgn negosiasi apalagi dalam pendidikan. Bila dalam pendidikan saja intimidasi dinyatakan lumrah, bagaimana nasib generasi kita selanjutnya???
    Great resume. Beli bukunya ah.

  10. ELLYS mengatakan:

    SETELAH KESULITAN PASTI ADA KEMUDAHAN

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s