Pelayanan Bimbingan di Sekolah Standar Nasional

Oleh: Depdiknas

Pelayanan bimbingan sangat diperlukan agar potensi yang dimiliki oleh peserta didik dapat dikembangkan secara optimal. Program bimbingan diarahkan untuk dapat menjaga terjadinya keseimbangan dan keserasian dalam perkembangan intelektual, emosional dan sosial.

Selain itu program bimbingan diharapkan dapat mencegah dan mengatasi potensi-potensi negatif yang dapat terjadi dalam proses pembelajaran pada SKM/SSN. Potensi negatif tersebut misalnya peserta didik akan mudah frustasi karena adanya tekanan dan tuntutan untuk berprestasi, peserta didik menjadi terasing atau agresif terhadap orang lain karena sedikit kesempatan untuk membentuk persahabatan pada masanya, ataupun kegelisahan akibat harus menentukan keputusan karir lebih dini dari biasanya. (Semiawan, 1997).

Layanan bimbingan diperlukan siswa untuk memenuhi kebutuhan individual anak baik secara psikologis maupun untuk mengembangkan kecakapan sosial agar dapat berkembang optimal. Hal ini senada dengan pendapat Leta Hollingworth yang dikutip Wahab (2004) yang mengindikasikan bahwa “gifted children do have social/emotional needs meriting attention”. Ditegaskan bahwa betapa pentingnya persoalan kebutuhan sosial/emosional anak berbakat memerlukan perhatian orang dewasa di sekitarnya, karena boleh jadi kondisi demikian akan berpengaruh kepada kinerja dan aktivitas anak dalam belajarnya.

Lain dengan Pirto (1994) yang mengedepankan model bimbingan yang dipandang memiliki efektifitas tinggi untuk mengatasi masalah anak adalah multi model. Artinya tidak hanya menggunakan satu model pendekatan karena diharapkan dengan model yang beragam lebih mampu mengatasi beberapa persoalan yang dihadapi anak, terlebih-lebih dalam mengatasi aspek sosial maupun emosional.

Model lain dikemukakan oleh Wahab (2003) bahwa model pembimbingan yang dipandang memiliki efektifitas tinggi untuk mengembangkan kecakapan sosial-pribadi peserta didik adalah development model. Dengan model ini dapat membantu pengembangan potensi kecakapan sosial-pribadi yang dimiliki peserta didik, sehingga mereka dapat mengendalikan perilaku sosial-emosionalnya secara produktif. Dengan kata lain model layanan bimbingan yang dapat diberikan kepada peserta didik dalam mengikuti program SKM/SSN adalah model perkembangan, multi model, development model yang disesuaikan dengan karakter individual peserta didik agar perkembangan sosio-emosional mereka dapat berkembang dengan baik terutama dalam menyelesaikan pendidikan.

Bimbingan tersebut dapat diupayakan dengan melakukan langkah seperti 1) Pertemuan rutin dengan orang tua siswa untuk saling bertukar informasi, 2) Menghimpun berbagai data dari guru yang mengajar, khususnya berkaitan dengan aktivitas siswa pada saat pembelajaran, 3) Menjaring data dari siswa melalui daftar cek masalah, sosiometri kelas, angket maupun wawancara (Munandar, 2000).

=========

Sumber:

Depdiknas.2008. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam ARTIKEL, BIMBINGAN DAN KONSELING
17 comments on “Pelayanan Bimbingan di Sekolah Standar Nasional
  1. yeffy candra berkata:

    pak, sekolah saya sedang menjalani RSKM, di mapel2 lain selain BK dituntut silabus, pemetaan, desain pembelajaran dan rpp yang terus di perbarui. saya jadi bingung diperbarui sperti apa? karena selalu tidak ada acuan atau referensi dari kurikulum. sedang silabus dan rpp MGMP selalu seperti itu saja. trs bagaimana?

  2. suharli,Drs berkata:

    Trima kasih informasinya semoga amal baik anda selalu mengalir.Bagaimana dengan program BK yang masih ada perbedaan antara model Parung dengan Jawa Timur. Mohon informasi selanjutnya, trima kasih.

    Itulah kegelisahan saya, kenapa di lapangan harus terjadi dua versi kebijakan model BK. Kita berharap semoga Bapak Mendiknas baru bisa menertibkannya

  3. Heriyanti berkata:

    Sekolah saya masih rintisan SSN Pak, tapi saya udah berusaha untuk memfungsikan BK sesuai dgn fungsinya. Misalnya tidak terlibat langsung dalam penanganan pencurian. TAPI………., kadang yang susah teman sejawat (Guru BK) yang lain terlalu aktif dalam kasus tersebut, sehingga Waka kesiswaan menilai saya kerjanya tidak eksis dan tidak loyal.Bagaimana Pak menangani masalah ini ?????
    Sepertinya di sekolah ibu masih membutuhkan sosialisasi tentang dan tugas BK yang seharusnya kepada seluruh personil termasuk rekan BK Anda sendiri. Saran saya, konsolidasikan terlebih dahulu di internal BK bersamaan itu ibu juga berupaya melakukan advokasi tentang BK di sekolah, terutama pemahaman dan dukungan dari kepala sekolah.

  4. kulo berkata:

    sekolah tempat saya mengajar sedang dalam tahap rintisan ssn tapi ruang dan fasilitas BK masih sangat kurang bagaimana sekolah akan menjadi SSN jika masih ada ketimpangan dalam pengelolaan dan pembagian fasilitas oleh pengelola sekolah bagaimana cara agar pihak pengelola sekolah mau dan mengerti kebutuhan kami guru BK di sekolah tersebut

  5. Anonim berkata:

    mas kasih daftar pustakanya donggg.. wahhh sulit kl mw buat tanpa daftar pustaka

  6. Drs.utomo HS berkata:

    Apapun jenis atau bentuk sekolahan, layanan bimbingan tetap sama. yang rerpenting tindakan kita memberikan bantuan /layanan yang maksimal sesuai kebutuhan dan karakter masing masing siswa .Tidak usah berpikir yang jauh hadapi yang ada di depan mata dengan baik.

  7. redno berkata:

    saya ingin menanyakan tentang manajemen sarana dan prasarana menurut standar nasional pendidikan?
    trimkasih

  8. amimingthea berkata:

    Saya guru bk di smanci, sy masih tidak faham bagaimana model layanan bk dalam ssn. mohon penjelasan pak. terima kasih

  9. DALIS berkata:

    Serahkan segala sesuatu itu pada ahlinya agar tidak terjadi kekacauaan dimuka bumi,termasuk rumusan layanan Bimbingan dan konseling disekola untuk katagori sekolah SSN.Bukankah di Idonesia ada ABKIN.

  10. hasbullah berkata:

    mohon penjelsan tentang sekolah kategori mandiri ( SKM ), yang selama ini sedang di jalankan, namun masih banyak sekolah yang meraba-raba tentang SKm tersebut. Kalau bisa dijelaskan mulai dari cara penerimaa siwa baru sampai dengan ujian akhir. yang saya maksudkan adalah adakah peraturan khusus tentang SKM, berupa permendiknas?

Komentar ditutup.