Listrik Padam

Sebelum tahun 1980-an, desa saya belum tersentuh aliran listrik dari PLN. Pada saat itu suasana kehidupan terasa sangat bersahaja. Untuk kepentingan penerangan di rumah, orang-orang biasa menggunakan lampu tempel, dan lampu gantung atau lampu petromaks sebagai lampu utamanya. Pada saat senja tiba, orang-orang mulai menyalakan lampu-lampu tersebut, yang harus dilakukan secara hati-hati dalam mengatur besaran api yang dikeluarkan dari sumbu lampu. Jika kita lupa dan nyala api terlalu besar, maka ketika bangun pagi, hidung kita pasti akan disesaki dengan jelaga.

Peralatan-peralatan elektronik yang dimiliki pun masih sederhana. Televisi masih sangat jarang, hanya satu atau dua orang saja yang memilikinya. Untuk bisa menyalakan televisi harus menggunakan tenaga accu, yang sewaktu-waktu harus di-charge ulang. Begitu juga untuk merapikan pakaian, orang masih menggunakan seterika model “tempo doeloe” yang dipanasi oleh bara dari arang. Jika saja pada waktu itu ada seseorang yang memiliki kulkas, kemungkinan tidak akan dipergunakan sebagaimana mestinya, tetapi dialihfungsikan menjadi lemari pakaian atau sekedar hiasan saja.

Jika malam hari tiba, suasana di luar rumah benar-benar terasa senyap, jarang orang yang sengaja berkeliaran. Aktivitas manusia pada malam hari agak meningkat ketika memasuki bulan sedang purnama. Orang-orang bisa keluar rumah untuk menikmati terangnya sang rembulan. Anak-anak bisa berkumpul di halaman rumah untuk melakukan aneka permainan anak-anak. Sementara, para orang tua atau orang dewasa pun bisa saling bercengkerama dengan keluarga atau tetangga di teras rumah untuk sekedar ngobrol kesana-kemari, sambil disuguhi makanan ala kadarnya, sekaligus sambil menunggu rasa kantuk tiba.

Kejadian dan suasana kebersahajaan semacam itu berlangsung hingga akhir tahun 70-an. Meski tanpa PLN, kehidupan masyarakat pada waktu itu tampaknya dapat dijalani secara wajar, karena masyarakat sudah sangat terkondisikan dan terbiasa dengan kehidupan tanpa PLN.

Memasuki awal tahun 1980, Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai perusahaan yang memonopoli penjualan listrik di negeri ini menawarkan kepada masyarakat di desa saya untuk memanfaatkan listrik. Masyarakat pun dengan anthusias menyambut tawaran ini dan mereka ramai-ramai mendaftarkan diri untuk minta dipasangi dan dialiri listrik di rumahnya masing-masing. Tiang-tiang listrik mulai berdiri tegak hingga ke sudut-sudut desa, kabel-kabel listrik mulai membentang dan bertebaran menghiasi setiap atap rumah.

Sejak saat itulah, desa saya mulai memasuki jaman listrik sekaligus merubah wajah dan pola kehidupan masyarakat. Malam hari menjadi terang benderang, sehingga tidak terasa lagi perbedaan suasana antara pada saat bulan sedang purnama dengan bulan pada saat tenggelam. Aktivitas malam hari selalu berdenyut karena kegiatan ekonomi dan kegiatan lainnya sangat mungkin untuk dilakukan pada malam hari.

Saat ini benda-benda elektronik yang sangat beragam jenisnya sudah membanjiri setiap rumah, menggantikan alat-alat rumah tangga konvensional yang biasa digunakan pada jaman pra listrik. Televisi yang dulu masih dianggap langka, saat ini hampir di setiap rumah dapat ditemui dan mereka dapat menikmati aneka tayangan televisi selama 24 jam/hari.

Kehadiran listrik di desa saya tidak hanya dipergunakan untuk kepentingan rumah tangga saja tetapi juga banyak yang memanfaatkannya untuk kepentingan usaha dan kegiatan kehidupan lainnya. Ada orang yang membuka usaha photo-copy, penjualan pulsa eklektronis, rental komputer dan internet, dan aneka usaha lainnya yang mengandalkan pada listrik. Begitu juga, banyak aktivitas perkantoran yang dilakukan dengan mengandalkan listrik, seperti kegiatan pengetikan atau bahkan untuk kegiatan pengambilan keputusan, dimana informasi atau data yang diperlukan untuk pengambilan sering disimpan di dalam komputer, yang sudah barang tentu membutuhkan listrik untuk dapat menyalakannya.

Kehadiran listrik yang disertai dengan kemajuan dalam bidang teknologi telah menjadikan masyarakat semakin tergantung dan sulit dipisahkan dari listrik, baik untuk kepentingan rumah tangga, usaha/industri, perkantoran atau kehidupan lainnya.

Anda mungkin akan sangat kecewa ketika Anda sedang asyik menyaksikan tayangan televisi kesukaan Anda, tiba-tiba listrik padam. Anda sedang sibuk menulis sesuatu yang penting di komputer Anda, misalnya menulis makalah atau surat, tiba-tiba listrik padam dan Anda belum sempat menyimpan (save) tulisan Anda. Anda harus menghadiri suatu pertemuan yang harus mengenakan pakaian tertentu, tetapi Anda belum sempat menseterika pakaian tersebut, sementara listrik di rumah Anda padam.

Kita juga bisa merasakan kekecewaaan orang-orang yang memanfaatkan listrik untuk kepentingan usahanya. Gara-gara listrik padam, usaha photo copy, rental komputer dan internet serta usaha-usaha lainnya yang menggantungkan pada listrik terpaksa harus menghentikan usahanya. Para konsumen yang biasa menggunakan jasa mereka pun tentunya akan sangat kecewa. Misalkan, pada saat dia hendak mem-photocopy sesuatu yang sangat penting, namun setelah tiba di tempat photocopy, di depan toko terpampang tulisan “ma’af sedang mati listrik”. Yang paling menyebalkan sekaligus membuat orang panik ketika tiba-tiba ada petugas PLN datang ke rumah untuk memutus aliran listrik karena si pelanggan secara tidak sengaja terlambat membayar tagihan listrik.

Jika pada jaman pra listrik, kehadiran bulan purnama dianggap sebagai sesuatu yang sangat istimewa sehingga banyak orang memuja-muja keindahannya, dan menuangkannya dalam berbagai lirik lagu atau puisi, seperti ungkapan “wajahmu bersinar bak rembulan”. Namun setelah jaman listrik, apresiasi orang terhadap bulan purnama bisa berubah dan mungkin orang akan mengganti ungkapan di atas menjadi “wajahmu bersinar bak lampu neon 40 Watt”

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam ARTIKEL, SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s