Perkembangan Moral – Kohlberg

Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik. Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada, bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan, norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Dalam hal ini, Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moral individu, sebagaimana tampak dalam tabel berikut :

Tingkat
Tahap
Pre Conventional (0–9)
Tahap 1. Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman.
Anak mengganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan yang ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Ia hanya menurut kalau tidak ingin kena hukuman.
Tahap 2. Relativistik hedonism.
Pada tahap ini, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi. Jadi ada relativisme, artinya bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan seseorang (hedonistik). Misalnya: mencuri ayam karena kelaparan, karena perbuatan mencurinya untuk memenuhi kebutuhannya (lapar) maka mencuri dianggap sebagai perbuatan yang bermoral, meskipun perbuatan mencuri itu sendiri diketahui sebagai perbuatan yang salah.
Conventional
(9–15)
Tahap 3. Orientasi mengenai anak yang baik.
Pada tahap ini anak mulai memasuki belasan tahun, dimana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain.
Masyarakat adalah sumber belajar yang menentukan apakah perbuatan seseorang baik atau tidak. Menjadi ‘anak manis” masih sangat penting dalam stadium ini.
Tahap 4. Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas.
Pada stadium ini perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma sosial. Jadi perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan yang ada, agar tidak timbul kekacauan.
Post Conventional
(>15 )
Tahap 5. Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial.
Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial dengan masyarakat. Seseorang harus memperlihatkan kewajiban, harus sesuai dengan tuntutan norma-norma sosial karena sebaliknya, lingkungan sosial atau masyarakat akan memberikan perlindungan kepadanya. Originalitas remaja juga tampak dalam hal ini. Remaja masih mau diatur secara ketat oleh hukum-hukum umum yang lebih tinggi. Meskipun di stadium ini kata hati sudah mulai berbicara, namun penilaian – penilainnya masih belum timbul dari kata hati yang sudah betul-betul diintenalisasi, yang sering tampak pada sikap yang kaku.
Tahap 6. Prinsip etis universal
Pada tahap ini ada norma etik di samping norma pribadi dan subyektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang dengan masyarakatnya ada unsur-unsur subyektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak. Subyektivisme ini berarti ada perbedaan penilaian antara seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini, unsur etika akan menentukan apa yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya. Remaja mengadakan penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah laku – tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri. Tingkat perkembangan moral pasca konvensional harus dicapai selama masa remaja.

Selain dituntut memahami dan menguasai tentang Tahapan Perkembangan Kognitif peserta didiknya, seorang guru juga dituntut memahami dan menguasai tentang Tahapan Perkembangan Moral peserta didiknya. Pemahaman dan penguasaan tentang Tahapan  Perkembangan Kognitif peserta didik lebih berkenaan dengan upaya fasilitasi kemampuan daya nalar peserta didik untuk menentukan benar atau salahnya sesuatu,  maka  pemahaman dan penguasaan guru akan Tahapan  Perkembangan Moral peserta didik lebih berkenaan dengan upaya fasilitasi peserta didik dalam mengembangkan potensi afektifnya, khususnya dalam mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menentukan baik-buruknya sesuatu.

Upaya fasilitasi potensi dan pengembangan moral peserta didik juga perlu mempertimbangkan dan disesuaikan dengan tahapan Perkembangan Moral yang sedang dijalaninya. Misalnya: sesuai dengan tahapan perkembangan moral peserta didiknya yang telah memasuki tahap Post Conventional, seorang guru SMA seyogyanya dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai kematangan moral yakni memiliki orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial dan prinsip etis universal.

Berbeda dengan upaya guru dalam memfasilitasi perkembangan kognitif peserta didiknya, yang lebih banyak dilakukan melalui instructional effect atau biasa disebut pembelajaran langsung (direct learning). Sementara upaya fasilitasi perkembangan moral peserta didik lebih banyak dilakukan melalui nurturant effect atau biasa disebut pembelajaran tidak langsung (indirect learning), sebagaimana banyak dikemukakan dalam konsep pendidikan karakter.

Perkembangan moral memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan perkembangan kognitif. Oleh karena itu, upaya guru dalam memfasilitasi perkembangan koginitif dan perkembangan moral peserta didik pada dasarnya menjadikan satu kesatuan utuh dan berjalan secara simultan. Upaya membelajarkan kognitif sejatinya di dalamnya juga harus tersedia membelajarkan moral.

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , ,
Ditulis dalam ARTIKEL, PSIKOLOGI PENDIDIKAN
4 comments on “Perkembangan Moral – Kohlberg
  1. toni mengatakan:

    its very good idea, its to need 4 the civitas or academika

  2. puput mengatakan:

    artikel ini sangat menarik, karena memberikan informasi tentang perkembangan moralitas individu. Hal ini sangat diperlukan pada masa sekarang karena telah banyak perilaku yang kurang bermoral terjadi di masyarakat. Sayangnya, artikel yang dimuat pada kolom ini sangat singkat dan tidak dijelaskan dengan lengkap. Oleh karena itu, saya mau tanya bagaimana cara mendapatkan buku ini? Tolong bantu saya untuk mendapatkan buku ini. Terimakasih………

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s