Peran Guru dalam KTSP

Oleh : Akhmad Sudrajat

Kurikulum pada dasarnya merupakan alat dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Seperti ungkapan the man behind the gun, maka sebagus apapun desain atau model kurikulum yang hendak dikembangkan akan sangat bergantung kepada faktor manusianya. Dalam hal ini, guru merupakan pelaksana utama dalam kegiatan pengembangan kurikulum, yang dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan demikian, tampaknya tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa guru menjadi faktor utama penentu keberhasilan dalam kegiatan pengembangan kurikulum.

Jika kita cermati lebih dalam lagi tentang pemberlakuan kurikulum pada masa-masa sebelumnya yang sentralistik, tampaknya guru cenderung diposisikan hanya sebagai “tenaga tukang” yang bertugas mengoperasikan berbagai ketentuan kurikulum yang telah ditetapkan dari pusat. Petunjuk pelaksanaan (Juklak) dan petunjuk teknis (Juknis) dari pusat yang sangat ketat dan serba seragam telah membelenggu kreativitas guru sekaligus mencabut hak dan kewenangan guru dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya.

Bagi para guru yang berjiwa “tukang”, keadaan seperti itu tentunya dianggap hal yang menguntungkan, karena segala sesuatunya seolah-olah sudah serba “siap saji”, guru hanya tinggal melaksanakan saja ketentuan-ketentuan yang ada, tanpa harus banyak bekerja keras dan berfikir jauh dalam mengimplementasikan kurikulum, terlepas apakah ketentuan-ketentuan tersebut cocok atau tidak dengan realita di lapangan.

Kurikulum yang sentralistik (top-down approach) semacam itu pada akhirnya telah menjadilan pendidikan nasional kita jatuh terpuruk. Di tengah-tengah kondisi pendidikan nasional yang terpuruk itu ternyata masih ada juga orang-orang yang mau memikirkan dan peduli terhadap nasib pendidikan nasional, dan pada akhirnya berhasil mengantarkan pada keputusan untuk merubah kurikulum nasional. Upaya perubahan kurikulum memang sempat terganggu, dengan hadirnya wacana Kurikulum Berbasis Kompetensi yang konon didesain secara ideal, namun dalam kenyataannya sungguh sulit untuk diimplemantasikan karena terdapat beberapa asumsi yang tidak dapat dipenuhi di lapangan. Terpaksa, wacana dan sosialiasasi Kurikulum Berbasis Kompetensi pun diralat dan akhirnya sampailah pada upaya untuk menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan payung hukumnya Permendiknas No. 22 Tahun 2006, yang tampaknya lebih mencerminkan kurikulum yang bersifat desentralistik (grass-root approach)

Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dalam KTSP penulis melihat adanya spirit untuk memberdayakan dan mempercayakan guru sekaligus mengembalikan hak-hak profesional yang melekat dalam jabatannya, termasuk hak dan otoritas dalam setiap kegiatan pengembangan kurikulum. Yang menjadi persoalan, seberapa siap para guru untuk menerima hak-hak dan otoritas profesional dalam mengembangkan kurikulum di sekolah. Dalam KTSP, tidak lagi disediakan berbagai petunjuk ketat dalam mengembangkan kurikulum. yang tersisa dari pusat hanyalah rambu-rambu yang berkenaan pencapaian Standar Kompetensi sebagaimana tertuang dalam Permendiknas No. 23 tahun 2006, selebihnya diserahkan sepenuhnya kepada guru untuk mengatur dan mengelola kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah, yang disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi nyata di lapangan.

Dalam pandangan penulis, KTSP ini tak ubahnya seperti kertas kosong yang diberikan kepada guru untuk ditulisi sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri guru itu sendiri. Ada tanggung jawab besar dari guru untuk bagaimana dapat menulis dalam kertas kosong itu sehingga akhirnya dapat dihasilkan tulisan yang benar-benar indah dan bermutu tinggi.

KTSP mau tidak mau mensyaratkan adanya kreativitas yang tinggi dari para guru untuk dapat mengembangkan kurikulum di sekolah. Tanpa berbekal kreativitas guru yang tinggi, maka celah untuk terjadinya kegagalan KTSP sangat terbuka dan hak-hak profesional guru pun tampaknya akan lepas lagi dan guru kembali menjadi tenaga tukang yang akan diatur pihak lain.

Kita berharap, melalui upaya standarisasi profesi dan sertifikasi guru, atau upaya peningkatan profesionalisme guru lainnya kiranya dapat mendorong para guru untuk menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan kurikulum di sekolah, sehingga KTSP benar-benar dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan nasional.

Tetap semangat dan terus berkreasi !

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam ARTIKEL, PEMBELAJARAN
11 comments on “Peran Guru dalam KTSP
  1. ANDI TH berkata:

    Saya kira dengan KTSP itu sangat bagus karena apa yang diharapkan sesuai dengan keinginan lembaga dan lingkungan sekolah tsb. yang telah dicanangkan dalam visi dan misinya tanpa tekanan dari yang lain namun demikian saya kira masih banyak guru yang belum bisa melaksanakan proses pengajarannya sesuai dengan yang diharapkan lembaga itu sendiri dan satu2 nya wadah untuk mengembangkan kreatifitas dan paling tidak menyerap sedikit beberapa pengalaman yang bagus dari guru lain yang lebih berhasil melalui forum MGMP dan saya kira forum ini sangat penting dan bagus untuk menemukan persamaan persepsi dalam melangkah demi keprofesionalan seorang pendidik

  2. Fikrie berkata:

    Banyak orang bicara tentang pendidikan dan kurikulum, tapi tidak paham apa yang dibicarakan. jika KTSP bisa diterapkan pada anak “yang sudah” kreatif. Pertanyaannya: kapan anak akan kreatif, jika kita tidak mendidik mereka supaya kreatif?. Jika KTSP tidak dapat dilaksanakan ketika guru belum mampu. Peratanyaanya, apakah kita izinkan guru yang “tidak mampu” untuk mendidik anak?.

    Sebuah analogi, ketika HP kita rusak, kita tidak berani menyerahkannya kepada orang yang bukan ahli dalam memerbaiki HP. Untuk meyakinkan kita, kita selalu bertanya “betulkan anda bisa membetulkan HP?, setelah yakin, baru kita serahkan HP tersebut untuk diperbaiki. Pernah kah hal yang sama kita lakukan terhadap dunia pendidikan ketika pertama kali mengantar anak ke pintu gerbang pendidikan?. Jawabnya “TIDAK”. Rupanya kita lebih sayang HP daripada Anak. Kita permisif terhadap guru yang tidak profesional, kita toleran terhadap guru yang tidak punya nurani. Kita tidak pernah menagih “jaminan” dari unia pendidikan” apakah anak saya akan “selamat” atau justeru teraniaya setelah selelsai didikdik. Sepanjang pengetahuan saya berkecimpung dalam dunia pendidikan belum ada satu lembagapun yang mampu memberikan jaminan secara meyakinkan tenteng proses pendidikan di lembaga tersebut. Dan yang lebih parah, belum ketemu satupun guru yang tenatang berkata ” Pak, tentang Pak, anak Bapak di sini akan kami bimbing sesuai dengan potensinya, sehingga ia akan berkembang menjadi anak kreatif, produktif, dan bermoral.

  3. Suharuddin Singka berkata:

    KTSP pada prinsipnya merupakan salah satu upaya perbaikan mutu pendidikan, namun sangat membutuhkan kreatifitas guru dan siswa, sementara gimana sich kondisi guru dan siswa di Indonesia saat ini ? Guru masih terlilit oleh berbagai kondisi begitu pula siswa karena kondisi orang tua mereka. Bagusnya KTSP adalah guru mendokumentasikan segala KBM sekaligus dituntut agar siswa tuntas…tas…tas…. ironisnya siswa harus naik kelas, keluhan guru adalah gimana mo naik kalau tak pernah hadir, terpaksa gurulah yang salah dan harus merobah dokumennya, sehingga anak tas…tas….. gimana proses tingkat selanjutnya samapi tamat pada tingkatan berikutnya ? Tentu yang pandai makin pandai, yang goblok makin goblok… itulah nasib generasi bangsa ke depan sebagai ulah perubahan kurikulum yang tdk menentu hanya memenuhi keinginan uji coba para praktisi. Ok

  4. hernawati spd berkata:

    Assalamualaikum wr.wb
    KTSP yah KTSP ada yang bilang singkatan dari Kurikulum Tidak Siap Pakai.Bagaimana tidak guru diharapkan mengembangkan kurikulum pelajaran yang diajarkan,sementara belum diketahui secara pasti apakah guru tersebut punya kemampuan/keahlian dalam mengembangkan materi.boro- boro membuat kurikulum membuat rancangan pembelajaran yang sudah spesifik aja masih keteteran.satu hal mengapa saya berpendapat demikian karena ada di kenyataannya bahwa guru dengan latar belakang sarjan sains mengajarkan sejarah,sarjana pendidikan fisika mengajarkan geografi/matematika,bahkan sebaliknya. ironis bukan?
    KTSP sebenarnya sebuah kurikulum yang baik seandainya setiap guru adalah mereka yang benar- benar berkompetensi di bidangnya. ini adalah PR bagi pemerintah/diknas.

  5. taufik79 berkata:

    salam kenal dan kunjungi blog saya ya

  6. SUNNY berkata:

    bapak sudrajat, itu fotonya siapa kok anak2 bukannya nama bapak lki2,? makasih.

  7. Kamaludin Mahmud berkata:

    Maaf apabila tulisan ini tidak ada hubungannya dengan tulisan diatas tapi saya sebagai bagian dari kaum Muslimin untuk menyampaikan sesuatu sesuai dengan pemahaman yang saya miliki.
    Sebetulnya permaaslahan di indonesia, apakah itu pendidikan, ekonomi dsb. Berawal dari sistem yang tidak Islami (menggunakan ideologi sekuler kapitalisme). Di dunia kapitalis pendidikan adalah sebagai profit orientid, sedangkan di dalam Islam pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh negara untuk diberikan kepada masyarakat dengan biaya terjangkau bahkan gratis.
    Apakah hal itu bisa terjadi ? insya Alloh bisa dengan catatan paradigma berpikir seseorang haruslah kembali kepada Islam bukan yang lain, itu yang pertama. Sedangkan yang kedua negara kita harus berasaskan Islam bukan yang lain, walaupun Indonesia bukan sebagai negara Islam namun apakah benar Islam adalah sebuah agama (spritual)? hal itu sangatlah keliru jika seseorang memandang bahwa Islam hanyalah spritualitas belaka, tetapi Islam tidak lain merupakan sebuah sistem dan ideologi yang berasal dari pencipta kita (apakah itu manusia, kehidupan dan alam semesta) yakni Allah SWT. Masih menaruh harapankah kita kepada sistem selain Islam? adakah yang lebih baik dari aturan Islam?

  8. i putu sudina adnyana berkata:

    KTSP ITU SANGAT COCOK DITERAPKAN JIKA SEMUA SISWA KREATIF

  9. Setiawan berkata:

    Alkisah, disebuah hutan antah berantah, berdirilah sekolah baru bagi seluruh warga hutan. Sekolah ini memiliki fasilitas dan kurikulum lengkap, sehingga diklaim menjadi sekolah standar A+ berdasarkan maklumat dari pemerintahan Raja Hutan. Sebagai sekolah favorit, siswanya tentulah ramai. Ada si bebek, si kancil, si burung elang, sampai si tikuspun bersekolah disini.

    Namun ada kegalauan dihati emak si Tikus, semenjak disekolahkan, si Tikus rajin sekali belajar hal baru. Belajar manjat pohonlah, belajar terbang, belajar menggali tanah sampai belajar berenang. Emak si Tikus gak tahan juga, dan akhirnya bertanya,

    “Nak, emang disekolah harus belajar gitu segala? ” Tanya emak tikus pada anaknya.

    “Iya mak. Disekolah kita diblajari semuanya mak..” Jawab si anak yang lagi belajar terbang.

    “Tapi kalo gini, sampai kapanpun kamu gak akan pernah berhasil nak, nilai kamu bakal jelek terus untuk pelajaran berenang, apalagi terbang” timpal emak sedikit resah.

    “Habis Kurikulum sekolah mengharuskan kita belajar ini sih mak, jadi mo gimana lagi?” balas menimpali si anak.

    “Boleh saja belajar hal yang baru, tapi kamu memiliki kecerdasan hakiki (mengerat) yang harus kamu kembangkan nak..Jangan-jangan karena terlalu banyak belajar hal baru, kamu lupa bagaimana caranya mengerat. Akhirnya apa, kamu tidak memiliki kemampuan cukup karena hasilnya malah setengah semua, terbang gak bisa, mengerat yang jadi keahlianmu pun lupa…” Ungkap emak.

    “Benar juga ya mak! Temenku si burung Elang pun sekarang aneh. Dia sering lupa bagaimana caranya terbang karena keasyikan belajar berenang. Keahlian utamanya malah gak berkembang…” Ujar si anak Tikus sembari berhenti dari kegiatannya.

    “Ya udah, besok emak bersama orangtua murid akan menghadap komite sekolah, gimana solusinya agar siswa berkembang optimal. Apakah harus menggunakan kurikulum KTSP seperti yang emak denger dari bangsa manusia..” Kata si emak sembari menyiapkan minuman buat si anak.

    “KTSP ? Apa lagi tu mak?” Tanya si anak heran.

    “KTSP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum ciptaan bangsa manusia. Intinya bagaimana mengoptimalkan kecerdasan siswa yang ternyata beragam, majemuk. Meski sama namanya, manusia, tapi mereka benar-benar berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, tidak ada lagi panggilan bodoh/goblok. Yang ada dia tidak cerdas pada bidang tertentu, tapi cerdas dibidang yang lain…” Jelas si emak.

    “Wah, bisa diterapin gak ya mak di negeri hutan? Keknya KTSP bisa jadi solusi untuk mendongkrak kecerdasan hakiki tiap siswa disekolahku mak..”

    “Tergantung bagaimana guru mengolah kurikulum tersebut. Lagi pula kita tunggu juga hasilnya, karena KTSP masih setengah jalan. Bangsa manusia sendiri masih kebingungan untuk menerapkannya…” si emak menjelaskan.

    “Tambah berat dung beban guru ya mak? Berarti dia harus memiliki kecerdasan yang mewakili tiap individu yang berbeda…ckk…ck..ck..salut buat guru…” Terkagum-kagum si anak mendengar penjelasan emaknya.

    “Makanya, buat kamu yang otaknya sedikit, jangan jadi guru. Mending kamu cari kerjaan lain. Lagi pula jadi guru gajinya kecil, tapi tuntutannya besar. Tapi anehnya, bangsa manusia tau itu, tapi mereka seolah tak mau tahu…dah gih, mandi sono…badan kamu bau..” Kata emak menutup pembicaraan.

  10. elmawardi berkata:

    emang kita sedang harus mampu memaknai kemauan pemerintah dengan segala konsep yang selalu berubah-ubah

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.