Kualifikasi Pengawas Satuan Pendidikan

Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan bagi pengawas dan calon pengawas satuan pendidikan terdiri atas kualifikasi umum dan khusus.

(1) Umum (berlaku untuk semua pengawas satuan pendidikan):

  • Memiliki pangkat minimal Penata golongan ruang III/c
  • Berusia maksimal 50 tahun sejak diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan.
  • Pernah menyandang predikat guru atau kepala sekolah berprestasi
  • Lulus seleksi pengawas satuan pendidikan
  • Menempuh pendidikan profesi pengawas

(2) Khusus

a. Pengawas TK/RA/BA, SD/MI:

  • berlatar belakang pendidikan minimal S1 diutamakan S2 kependidikan dengan keahlian pendidikan ke-TK/SD-an.
  • guru TK/SD bersertifikat dengan pengalaman kerja minimal 8 (delapan) tahun atau Kepala Sekolah TK/SD berpengalaman kerja minimal 4 (empat) tahun.

b.Pengawas Pendidikan Khusus (PLB):

  • berpendidikan minimal S1 kependidikan diutamakan S2 kependidikan dalam rumpun mata pelajaran pendidikan khusus.
  • Guru PLB bersertifikat dengan pengalaman kerja minimal 8 (delapan) tahun atau Kepala Sekolah PLB berpengalaman kerja minimal 4 (empat) tahun.

c.Pengawas SMP/MTs:

  • berpendidikan minimal S2 kependidikan dengan berbasis S1 kependidikan atau S1 non-kependidikan plus Akta dalam rumpun mata pelajaran MIPA, IPS, Bahasa, Olahraga-Kesehatan dan rumpun Seni Budaya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  • guru SMP/MTs bersertifikat dengan pengalaman kerja minimal 8 (delapan) tahun atau Kepala Sekolah SMP/MTs berpengalaman kerja minimal 4 (empat) tahun.

d.Pengawas SMA/MA:

  • berpendidikan minimal S2 kependidikan dengan berbasis S1 kependidikan atau S1 non-kependidikan plus Akta dalam rumpun mata pelajaran MIPA, IPS, Bahasa, Olahraga-Kesehatan dan rumpun Seni Budaya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  • guru SMA/MA bersertifikat dengan pengalaman kerja minimal 8 (delapan) tahun atau Kepala Sekolah SMA/MA berpengalaman kerja minimal 4 (empat) tahun.

e.Pengawas SMK/MAK:

  • berpendidikan minimal S2 kependidikan dengan berbasis S1 kependidikan atau S1 non-kependidikan plus Akta dalam rumpun pertanian dan kehutanan, teknologi dan industri, bisnis dan manajemen, kesejahteraan masyarakat, Pariwisata dan rumpun seni dan kerajinan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  • guru SMK/MAK bersertifikat dengan pengalaman kerja minimal 8 (delapan) tahun atau Kepala Sekolah SMK/MAK berpengalaman kerja minimal 4 (empat) tahun.

Kualifikasi akademik yang dijelaskan di atas dijadikan dasar dalam melaksanakan rekrutmen dan seleksi calon pengawas. Artinya dalam pengangkatan pengawas satuan pendidikan rekrutmen atau penjaringan calon pengawas harus memenuhi kualifikasi tersebut di atas untuk selanjutnya mengikuti seleksi atau penyaringan secara khusus.

Seleksi melalui tes yang terdiri atas tes tertulis, tes performance dan forto folio. Tes tertulis meliputi (1) tes potensi akademik dan kecerdasan emosional (2) tes penguasaan kepengawasan dan (3) tes kreativitas dan motivasi berprestasi. Tes performance dilaksanakan melalui presentasi makalah kepengawasan dilanjutkan dengan wawancara. Sedangkan forto folio dilaksanakan melalui penilaian terhadap karya-karya tulis ilmiah yang dihasilkan calon pengawas serta bukti fisik keterlibatan dalam kegiatan ilmiah seperti seminar, workshop, pelatihan dll.

Sumber :

tendik.org

==================

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam ARTIKEL, MANAJEMEN PENDIDIKAN
17 comments on “Kualifikasi Pengawas Satuan Pendidikan
  1. shy_zhiaa berkata:

    trimakasih ada tmpt berbincang.Gmn dg pengawas Bimbingan Konseling?Agr minat bakat anak didik lebih optimal layanan BK dan pengawasan BK jg harus eksis.

  2. siyamadi berkata:

    S3 aja gimana kalo jadi pengawawas…..heeee kan lebih berwibawa

  3. Ai sri rahayu berkata:

    apakah calon pengawas SMP harus guru SMP? bagaimana kalau guru SMA mau jadi pengawas SMP bidang MIPA dia sudah S2 dan golongan IVa jatah di SMA tidak ada formasi untuk Mipa .
    semoga rekukruimen pengawas sekarang membawa angin segar dan image masyarakat terhapus bahwa seoarng pengawas identik dengan amplop. terima kasih mas Akhmad.
    @bu Ai sri rahayu
    Idealnya penugasan pengawas (dikmen) disesuaikan dengan latar belakang peugasan pada saat menjadi guru , tetapi pada kenyataannya sangat bergantung pada kebutuhan dan kebijakan dinas pendidikan setempat. Dulu saya guru BK di SMA tetapi saat ini penugasan pengawas saya di SMP.

  4. RINTO berkata:

    bagaimana ya kalo Pengawas untuk TK/SD ngak S1 masih SPG, apakah harus jadi guru lagi yach…Kepala sekolah yang ngak D2 aja turun jadi guru mengapa pengawas TK/SD ngak ya…Gurunya aja harus S1..Bagaimana aturanya itu bisa berlaku/

  5. Pak PS berkata:

    MATI LAMPUUUUUUU !

    Bagi KS atau Guru yang sudah menikmati tunjangan fungsional dari hasil Sertifikasi dan diangkat menjadi PS tunjangan tersebut dihentikan. Seperti yang saya alami.Karena aturan tunjangan sertifikasi bagi pengawas sekolah gak jelas.
    Yaaaaaach, KITA ANGGAP SAJA MATI LAMPU, mungkin gak salah juga kalau kita ambil lilin trus dinyalakan agar sekedar bisa membaca, dari pada nggedumel/mengumpat karena lampunya mati.
    Gimana Pak PS yang lain………………
    Kalau anda berumur 45 tahun, semoga panjang umur, masih ada kesempatan tuk menikmati gantinya kabinet dan wakil rakyat 3 (tiga) kali lagi. Masa gak ada yang nyangkut ke kita. heeeee heeee heeee !?
    Salam semangat tuk Pak PS yang senasiiiiiiip.
    Terimakasih……..

  6. uunjujunefendi@yahoo.co.id berkata:

    Saya sangat setuju pengawas berasal dari S2, agar pengawas berwibawa baik dikalangan guru maupun kepala sekolah. Sekarang pengawas tidak berwibawa karena umumnya rekrutmen pengawas kurang berkualitas dan tidak memperhatikan persyaratan akademik, bahkan pengawas dianggap buangan bagi guru, atau kepala sekolah yang malas. hehehe!!!!!!

  7. andy berkata:

    hai mas
    boleh mita linknya ga/
    makasih

  8. mhd. nahar, s.pd berkata:

    Pengawas SMA/MA harus S2 ???? nggak ada dech di daerah saya, kalo D3 banyak. Harapan saya departemen pendidikan telitilah kembali para pengawas sekolah yang ada sekarang. Didaerah ini pengawas diangkat dari guru yang malas ngajar saja

  9. bejo berkata:

    nah disini tempatnya para kepala sekolah meknimati hasilnya….setelah sekian lama mengumpulkan….kini menikmati sambil menjadi pengawas hahahaha tapi tidak semua begitu lhoooooooooooo

  10. bisan priyadi berkata:

    Bagainama dengan pengawas yang sudah ada? Apakah mereka harus dialihtugaskan kembali menjadi guru? Apakah kami harus kuliah lagi untuk mendapatkan ijazah S2? Penghasilan kami paspasan. Kami kuliah lagi anak kami harus berhentu kuliah. Apakah yang membuat aturan ini tidak berfikir? Kami ini pengawas yang sudah berumur di atas 50 tahun dan rata-rata mempunyai 3 orang anak yang sedang kuliah serta mungkin ada adik-adiknya yang masih bersekolah. Apakah pendidikan anak-anak ini harus dikorbankan agar ayahnya dapat kuliah lagi. Coba renungkan. Dan perlu diketahui pula bahwa para kepala sekolah yang sudah menyelesaikan S2 pada enggan untuk menjadi pengawas, karena kurangnya finansial yang mendukung untuk operasional pengawas.

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.