©akhmadsudrajat-2007
OPINI PENDIDIKAN
Ruang ini dipersembahkan bagi Anda yang ingin berpartisipasi mengekspresikan diri seputar teori dan praktek pendidikan.
Diskusi ini bersifat terbuka, dari Anda, oleh Anda dan untuk Anda.
Untuk menyemarakkan ruang ini, saya mengundang Anda untuk memberikan gagasan, komentar, atau mungkin kritik membangun tentang situasi pendidikan kita.
Semoga saja pemikiran kritis Anda dalam ruang ini dapat mengilhami dan memberikan pencerahan bagi siapa pun yang membacanya.
©akhmadsudrajat-2007

semoga pendidikan indonesia gratis namun berkualitas, tidak membedakan dengan orang kaya atau miskin, karena semua penduduk indonesia membutuhkan pendidikan, plus pendidikan yang layak, pendidikan yang bermutu dari segi pengajar sampai fasilitas yang dipenuhi, namun miris diindonesia masih banyak anak2 jalanan yang berkeliaran tanpa memegang pendidikan, apalah arti uang pajak klo tidak digunakan untuk memfasilitasi penduduk indonesianya sendiri. namun hanya memanjakan orang2 yang kaya semakin kaya, miris negeri ini
Saya bersedih hari ini setelah saya mengetahui angka ketidaklulusan UN paling tinggi di daerah bagian timur Indonesia, ini sungguh tidak adil..
:’)
salah satu kebutuhan anak usia dasar adalah pendidikan dasarnya, kebanyakan orang tua melalaikan pendidikan dasar, dan memilih pendidikan tambahan yg menambah ketrampilan seorang anak, sebagai orang tua hrus mengutamakan pendidikan dasar dari pada memaksakan anak intuk mengikuti pendidikan tambahan seperti les, maupun ketrampilan yang lain memang itu bagus tetapi harus merasakan perasaan anak apa yang sedang ia butuhkan saat ini bukan memaksanya….
Pendidikan di Indonesia selama ini telah gagal 100% untuk mencerdaskan warganya!!!!!
Bagaimana ya kalau pendidikan di SD, SMP, SMA, Bahkan perguruan tinggi sekalipun diterapkan pendidikan berbasis karakter ??
supaya anak bangsa itu dibentengi dengan ilmu-ilmu moral dan agama, kelak mereka kebal dari yang namannya “KORUPSI”…
pendidikan yang model apapun tidak akan pernah bisa mengkikis korupsi jikalau kita tidak memangkas habis pelaku-pelaku korup di negeri ini. karena merekalah yang menyemai bibit-bibit pelaku korup dengan indahnya. mendiknas sudah bingung tujuh keliling untukl menerapkan sistem pendidikan yang akan diterapakan di negara kita ini akan tetapi seperti apa yang kita ketahui dengan mata kepala kita sendiri, mental-mental korup pun akhirnya senantiasa melekat dalam jiwa para murid-murid di indonesia.
itu smua karena bapaknya(pelaku korup).
cuma berbagi senyum
assalammu’alaikum
nama saya eka noviyanti salah satu mahasiswa di universitas di sumatera selatan, mohon maaf sebelumnya, saya ingin bertanya mengenai materi yang bapak upload yang berjudul “penilaian psikomotor”. dalam hal ini saya memang melakukan penelitian mengenai psikomotor, nah dalam tinjauan pustaka saya, saya mengambil dari materi yang bapak upload tsb. karena ini adalah penelitian ilmiah maka saya ingin bertanya, materi yang bapak upload yang berjudul “penilaian psikomotor” tepatnya pengembangan perangkat penilaian psikomotor ini apakah merupakan buah pikiran karya bapak atau dari sumber yang lain? dan apabila materi tsb berasal dari sumber lain, bisakah diberitahu sumbernya dari mana?makasih bapak. maaf apabila ada kalimat yang tak sengaja menyinggung.
jenjang pendidikan diindonesia,,,terlalu lama,,,SD 6 thn,SMP 3 THUN, SMA 3 THun,,,s1 4 thun,,,,pertanyaannya,,,,mengapa indonesia terlalu lama tingkat jenjang pendidikannya,,,,dan gru di indonesia pintar berbicara,,,,tapi….
mau tau jawabanya?????
Saya rasa prinsip “Bermain Sambil Belajar” di atas senada dengan pepatah orang Minang yang mengatakan bahwa “Alam Takambang Dijadikan Guru”, intinya setiap apa yang kita temui dan kita lakukan di dalam kehidupan kita bisa kita pelajari atau mengambil pelajaran. Alam merupakan sumber Ilmu pengetahuan, Fisika, Matematika, IPA, IPS, dan sebagainya. Belajar dari Alam bisa dilakukan sejak dini, dengan catatan anak harus didampingi dan diarahkan selama proses belajar tersebut (Belajar sambil bermain), ketika anak sudah mengalami perkembangan kemampuan kognitif ke tingkat yang lebih baik diawali usia remaja dan seterusnya atau mulai baligh, dimana semua tanggungjawab dan kewajiban sudah dibebankan kepada anak, maka disinilah proses “Bermain sambil belajar” dilakukan. Fungsi orang tua, guru, atau para pendidik disini adalah sebagai pendamping dan teman berdiskusi…
Albert Einstein, Sukarno, Iwan Fals ….
Seperti apa ketika dia sekolah ya ?
BELAJAR SAMBIL BERMAIN ATAU BERMAIN SAMBIL BELAJAR
OLEH: RASID MAULANA SIDIQ
Konsep pendidikan memanusiakan manusia dengan prinsip belajar sambil bermain nampaknya kurang tepat diterapkan untuk tingkat Sekolah Lanjutan Pertama ( SMP ) dan Sekolah Lanjutan Tingkat atas ( SMA ).Karena konsep belajar sambil bermain iini diterapkan untuk Pendidikan Tingkat Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar ( SD ),sedangkan untuk tingkat SMP,dan SMA konsep yang harus diterapkan adalah Bermain sambil belajar.Perbedaan kalimat ini memang dirasakan sepertinya kurang berarti namun kalau kita selidik dan kaji lebih dalam ternyata mengandung makna yang sangat berbeda sekali .Konsep Belajar sambil bermain cenderung mengarah kepada memanjakan anak didik dengan memperbanyak permainan yang menyenangkan sehingga suasana pembelajaran dirubah kedalam bentuk permainan yang terkadang keluar letupan-letupan ucapan yang kurang baik dan wajar diucapkan seorang anak didik.Hal ini terjadi karena kemampuan daya talar yang mereka miliki belum sampai kepada persoalan yang diinginkan.Sedangkan konsep bermain sambil belajar lebih mengarah kepada pendewasaan daya pikir dan daya talar siswa sehingga siswa memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan sesuatu apa yang mereka lihat,mereka rasakan,mereka lakukan dalam kehidupan sebagai wahana pembelajaran yang perlu diamati,dihayati,dipahami,bahkan dijadikan konsep pengetahuan baru yang berguna serta dapat dikembangkan untuk orang lain.Sebagai contoh :”Siswa dapat berdiri tagak karena mereka memiliki kaki lebih besar dari pada tanganya.”Ini merupakan pembelajaran yang dapat diintegrasikan bahwa untuk dapat hidup dengan baik maka pendapatan harus lebih besar dari pada pengeluaran .Karena pendapatan adalah hal yang menompang kehidupan manusia sehingga semakin besar pendapatan yang dimiliki,semakin kuat kehidupanya.lebih jauh dapat diungkapkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang ,semakin kuat pula daya tahan kehidupan orang itu .Sedangkan konsep Belajar sambiil bermain lebih cenderung bagaimana menciptakan suatu pembelajaran kedalam permainan nampaknya disini guru ditungtut untuk mampu menciptakan pembelajaran ke dalam permainan sehingga akibatnya guru menguras habis pemikiranya untuk itu saja yang terkadang hasilnya belum tentu berhasil sesuai dengan apa yang diinginkan.Hal lain konsep belajar sambil bermain identik dengan menyuruh anak didik untuk lebih banyak bermain daripada belajar hal ini dapat berakibat lamanya terbentuk sifat kekedewasaan seorang anak didik mengapa demikian? Perlu saya jelaskan disini bahwa :” Pada prinsipnya anak didik sudah tahu tentang pelajaran sebagian atau seluruhnya dari buku yang mereka baca .” setelah itu konsep praktis yang sudah mereka dapat diubah di sekolah dengan pola belajar sambil bermain ,akibatnya siswa menjadi bingung dengan demikian manakala kembali kepada konsep pelajarannya ,mereka menjadi lupa bahkan terabaikan.Sifat ini tentunya tidak diharapkan oleh bangsa ini. Bangsa kita membutuhkan kehidupan manusia yang berpikir dewasa karena dengan kekedewasaan daya pikir warganyalah bangsa ini akan maju. Untuk itu konsep pendidikan yang mengandung prinsip Belajar sambil bermain hendaknya cukup diterapkan di tingkat Sekolah Dasar dan Tingkat Kanak-kanak saja sedangkan untuk tingkap Sekolah Lanjutan Pertama ,Sekolah lanjutan Tingkat Atas memerlukan konsep pendidikan dengan prinsif bermain sambil belajar.Karena konsep Bermain sambil belajar lebih menekankan kepada menciptakan pembelajaran dari suatu permainan sehingga siswa dituntut untuk memiliki daya pikir kearah sintesis bahkan analisis.Hal ini sengat penting demi kemajuan ilmu dan teknologi.Untuk itu pendidikan memerlukan kesungguhan dalam penerapannya .Konsep Memanusiakan manusia menurut aliran Humaniora bukan berarti memberikan kebebasan penuh kepada peserta didik untuk berbuat sesuatu namun pada prinsipnya aliran ini menekankan bahwa pendidikan lebih mengarah kepada kesadaran diri seorang manusia yang hidup individu ,beragama,dan berinteraksi social sehingga membutuhkan adanya integrasi yang harmonis antara diri dengan dirinya sendiri,diri dengan penciptanya, dan diri dengan lingkunganya .Bermain membaca diri,membaca lingkungan,dan membaca keadaan dan mengintegrasikanya sebagai pembelajaran ini lebih baik dari pada pembelajaran yang diubah kedalam pola permainan.
Konsep pendidikan memanusiakan manusia perlu kita kaji lebih dalam lagi. Dalam kesempatan ini saya akan mencoba sedikit mengutarakan konsep tentang manusia dan bagian-bagian penting yang ada dalam manusia. Menurut kitab Al-hikam jilid III yang dikarang oleh Imam Tajudin dan disadur oleh KHS.Qudratullah diungkapkan bahwa manusia terdiri dari 3 unsur yaitu ; Jasmani,Rohani,dan nyawa.Jasmani adalah wujud kasar soft ware sedangkan Rohani adalah wujud halus atau hardware dan nyawa laksana lemperekat yang menempelkan Rohani dengan Jasmani. Lebih lanjut diungkapkan bahwa kehidupan jiwa seseorang tergantung kepada kehidupan rohaninya,dan kehidupan rohani seseorang tergantung kepada hatinya,dan kehidupan hati sangat dipengaruhi oleh otaknya.Kalau kita kaji dari uraian di atas jelas bahwa kehidupan otak sangat berpengaruh kepada kehidupan hati selanjutnya kehidupan hati akan mempengaruhi rohaninya yang kemudian mempangaruhi kehidupan jiwanya.dan kehidupan jiwa inilah yang Nampak pada kehidupan manusia baik dirinya maupun dalam lingkunganya.Kalau kita lihat dari sini jelas bahwa pendidikan hendaknya lebih mengarah kepada menghidupkan hati anak didik dengan pengenalan ilmu dan kehidupan yang terarah dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak meracuni kehidupan otaknya dengan hal-hal yang dapat menimbulkan kebiasaan negative .Misalnya kebiaan bermain-main atau berleha-leha adalah salah satu sifat yang kurang baik untuk ditanamkan pada diri anak didik.
Karena pendidikan merupakan usaha sadar untuk membentuk karakter peserta didik ke arah yang diharapakan oleh tujuan pendidikan itu sendiri,maka perlu sekali adanya penekanan konsep yang diharapkan secara paksa kepada peserta didik,sehingga timbulah karakter yang disiplin,patuh,mau bekerja keras ,berjiwa tegar dan berbudi pekerti luhur dengan didasari oleh keiman serta ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai kholik alam semesta.Karakter bermain sambil belajar adalah salah satu upaya yang cocok untuk ditanamkan pada diri peserta didik.sehingga dimanapun mereka berada dan kondisi apapun yang mereka hadapi itu semua berarti pada dirinya sebagai pembelajaran .Karena dibalik itu semua ada makna yang tersembunyi yang harus dicari dan dipelajari secara tekun dan mendalam.
Jadi kesimpulanya,konsep bermain sambil belajar merupakan pembelajaran yang menitik beratkan pada keadaan,lingkungan,atau pengalaman sebagai wahana pembelajaran yang bermakna untuk kehidupan baik sekarang maupun yang akan datang.
konsep belajar pada masa ‘golden age’ itulah seorang anak memperoleh banyak hal. Berpeganglah pada DAGEM = damai, gembira, menyenangkan, yang barangkali kita dulu kurang mendapatkannya. hingga kebanyakan orang dewasa sekarang terkebiri kreativitas dan ide-ide cemerlangnya. Yang ada adalah prinsip konvensional yang tak berani menemukan gagasan-gagasan cemerlang. Mari bersama-sama menghasilkan buah hati-buha hati yang unggul dalam ahlak dan prestasi