46 comments on “Menjadi Sarjana

  1. Kalo pendidikan ingin maju para calon sarjana pendidikan harus disaring dengan baik, bahkan input sarjana pendidikan di atas sarjana kedokteran. saat ini masih terasa sarjana pendidikan belum begitu memuasakan. Coba indonesia meniru negara fidlandia.

  2. secara normatif perlu, namun dalam dunia praksis tidak semua sarjana S1/D4 dari jurusan kependidikan mampu menyampaikan pembelajaran yang meaningful

  3. Artikel seperti ini sangat2 ber
    manfaat bagi saya,seba
    gai seo
    rang pelajar
    jalanan.

  4. Ya,syukur-syukur klw bs bk peluang dan bs ngjk 5 org atau ngjr pelajar jalanan kayak sy.

  5. Kejarlah Kualifikasi/Kompetensi, Bukan Gelar Sarjana

    Ketika kita sudah tidak dapat menghitung jumlah sarjana di Indonesia (karena banyaknya), pertanyaannya adalah mengapa negeri kita masih tertinggal oleh negara lain ?, bukankah gelar merupakan representasi dari kualifikasi/kompetensi manusia ?.
    Pembangunan negara sejatinya adalah pembangunan sumberdaya manusianya, tidak mungkin negara dapat maju jika SDM-nya rendah, banyak negara yang SDA-nya minim tetapi melesat menjadi negara industry maju karena SDM-nya tinggi, sebaliknya banyak negara yang mempunyai kekayaan alam melimpah tetapi masih menjadi negara tertinggal karena SDM-nya rendah.
    Pembangunan SDM tidak terlepas dari peran para pendidik (guru/dosen), karena dari tangan merekalah lahir manusia-manusia dengan berbagai derajat keahlian. Untuk itu pembangunan SDM hendaknya memerhatikan SDM pencetaknya yaitu guru dan dosen.
    Kesadaran akan kualifikasi pendidik dilakukan oleh pemerintah dengan peraturan/kebijakan, dimulai awal tahun 1990 pemerintah mengharuskan bahwa guru minimal berpendidikan Diploma, selanjutnya awal tahun 2000 pemerintah mengharuskan guru harus berkualifikasi S1 atau D4. Kebijakan ini sesungguhnya mengarah kepada pembentukan SDM yang tinggi, akan tetapi pada kenyataanya tidak terdapat perubahan yang signifikan dari hasil kebijakan tersebut, mengapa ?;
    Pertama : kebijakan tersebut dimaknai sebagai kaharusan memiliki diploma atau gelar sarjana saja, padahal pemerintah berharap ada peningkatan kompetensi dari seorang guru agar lahir manusia Indonesia yang lebih bermutu.
    Kedua : Kebijakan tersebut tidak disertai dengan kebijakan lain yang menunjang seperti bantuan biaya kuliah, buku-buku penunjang dll.
    Ketiga : pemerintah kurang memerhatian kesulitan guru untuk kuliah terutama yang berkaitan dengan akses transportasi. Bayangkan jarak tempuh dan ongkos yang harus dikeluarkan seorang guru di pedalaman yang harus kuliah minimal ke ibu kota kecamatan atau bahkan di ibu kota kabupaten.
    Itulah beberapa anomali kebijakan pemerintah yang menghambat pelaksanaan pembangunan SDM Indonesia.
    Tetapi penulis pun tidak menafikan bahwa banyak guru yang dengan keterbatasan mampu menyelesaikan pendidikan sarjana dengan kualifikasi yang tinggi, bahkan dengan kesadarannya mereka melanjutkan pendidikan kejenjang S2. Guru yang demikian sesungguhnya manusia bermutu yang akan melahirkan generasi emas bangsa ini.
    Utnuk itu kepada teman sejawat dan generasi muda Indonesia, bangunlah jiwamu dengan kompetensi yang tinggi, capailah kemampuan untuk membangun negeri ini, janganlah sekolah hanya untuk mencapai gelar sarjana karena dalam praktik kehidupan kemampuanlah yang dinilai bukan gelarnya.
    Jadilah sarjana yang berkualitas karena di tanganmu masa depan negeri ini akan kau pegang.
    Jayalah bangsaku, Jayalah Indonesiaku.

Silahkan sampaikan apa yang ada dalam pikiran Anda!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s