Apa itu Critical Pedagogy?

By : Dr.Uhar Suharsaputra / KAHMI/ Kuningan / 2010

Critical Pedagogy/Pendidikan Kritis

  1. Secara bahasa, pedagogi berasal dari bahasa yunani kuno terdiri dari dua kata yaitu Pais yang berarti anak (child) dan Agi yang berarti memimpin (lead), jadi pedagogi berarti lead the child atau memimpin anak. Dalam perkembangannya pedagogi sering dimaknai sebagai pendidikan/ilmu mendidik (ilmu mendidik anak yang belum dewasa), sedangkan mendidik/ilmu mendidik orang dewasa disebut andragogi. Meskipun demikian penggunaan istilah pedagogi sering dimaksudkan sebagai pendidikan dalam arti umum/luas (education) tanpa membedakan tingkatan usia kematangan seseorang.
  2. Pedagogi kritis (critical pedagogy) merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya membantu murid mempertanyakan dan menantang dominasi serta keyakinan dan praktek-praktek yang mendominasi (wikipedia). the term has traditionally referred to educational theory and teaching and learning practices that are designed to raise learners’ critical consciousness regarding oppressive social conditions. In addition to its focus on personal liberation through the development of critical consciousness, critical pedagogy also has a more collective political component, in that critical consciousness is positioned as the necessary first step of a larger collective political struggle to challenge and transform oppressive social conditions and to create a more egalitarian society. Pedagogi kritis (critical pedagogy) dapat dimaknai sebagai pendidikan kritis yaitu pendidikan yang selalu mempertanyakan mengkritisi pendidikan itu sendiri dalam hal-hal fundamental tentang pendidikan baik dalam tataran filosofis, teori, sistem, kebijakan maupun implementasi implementasi
  3. Dalam tataran filosofis pedagogi kritis merupakan tantangan dan kritik akan kemapanan modernisme serta kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan yang bersifat oppresive dalam situasi sosial yang juga opresif karena mengacu pada pandangan metanarasi/grand narasi yang mengabaikan narasi-narasi lokal. Oleh karena itu pedagogi kritis sering diindukan/diilhami/terkait dengan mazhab Frankfurt dan post modernisme, non essensialisme karena tekanan yang amat kuat pada pendidikan sebagai praktek pembebasan manusia dari tatanan sosial ekonomi yang termanifestasikan dalam proses pendidikan. Pedagogi kritis mendapat pengaruh yang kuat dari pemikiran-pemikiran Paulo Freire (sering dipandang sebagai pelopor pemikir pedagogi kritis) seorang pendidik asal Brazil (pernah menjadi Menteri Pendidikan) yang dalam karya tulisnya (bukunya antara lain : Education as the practice of liberation, Pedagogy oh the oppressed, pedagogy of the heart, The Politic of Education, Culture, Power, and Liberation) menjelaskan/mengelaborasi bagaimana pendidikan harus dilaksanakan dalam upaya membebaskan manusia situasi sosial dan pendidikan yang menekan, mendominasi dan menjadikan manusia harus menerima apa adanya dalam situasi sosial yang ada tanpa menyadari dan mengkritisi situasi tersebut.
  4. Pedagogi kritis mempunyai akar/dimensi ideologi politik dalam konteks perjuangan sosial/tranformasi kondisi sosial politik dari kekuasaan yang opresif untuk mencapai tatanan sosial politik yang adil dan egaliter, dimensi filosofis berkaitan dengan makna dan tujuan pendidikan terkait dengan pendidikan sebagai praktek pembebasan dan dimensi praktis pemberdayaan manusia/individu/peserta didik melalui konsep Conscientization (pewujudan kesadaran kritis/the coming to critical consciousness). konsentisasi akan membawa pada pendidikan yang membebaskan yang berfokus pada pengembangan kesadaran kritis melalui pemahaman hubungan antara masalah individu dan pengalaman dengan konteks sosial dimana individu itu berada, untuk itu langkah praxis penting untuk dilakukan sebagai pendekatan reflektif atas tindakan yang melibatkan siklus teori, aplikasi, evaluasi, refleksi dan kemudian kembali lagi pada teori. Siklus tersebut akan mendorong kesadaran kritis manusia akan diridan lingkungannya.
  5. Dalam tataran praktek pendidikan/pembelajaran terdapat beberapa konsep penting yang menjadi bagian dari pedagogi kritis antara lain Constructivism, Banking concept of education, Problem posing education, Dialogical method. Meskipun Konsep-konsep tersebut terkait dengan seluruh dimensi dari pedagogi kritis, namun dalam implementasinya dapat terjadi meskipun mengacu pada kepentingan praktis pragmatis tanpa mengaitkannya dengan dimensi ideologi politis, sehingga pelaksanaan tersebut dapat dipandang sebagai bagian yang menyerap pedagogi kritis, baik karena kesadaran ideologis, maupun kesadaran akan pentingnya hal tersebut dalam meningkatkan mutu pendidikan guna mempu dalam menghadapi tantangan perubahan yang cepat.
  6. Constructivism merupakan landasan filosofis bagi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning), dimana siswa/peserta didik merupakan subjek yang aktif dalam mengkontruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman melalui aksi dan refleksi (learning as an active process in which learners construct their own understanding and knowledge of the world through action and reflection. Constructivists argue that individuals generate rules and mental models as the result of their experiences with both other human subjects and their environments and in turn use these rules and models to make sense of new experiences). Untuk itu pembelajaran tidak bisa memandang bahwa peserta didik sebagai bejana yang harus diisi oleh guru/pendidik sebagaimana layaknya menabung di bank dan guru sebagai penabungnya untuk mengisi tabungan peserta didik yang masih kosong (education.. as an act of depositing, in which the students are the depositories and the teacher is the depositor ->Banking concept of education).
  7. Untuk menjadikan peserta didik/siswa aktif dalam pemerolehan pengetahuan, maka diperlukan strategi dan metode yang menghadapkan siswa dengan masalah yang dialaminya melalui Problem posing education atau pendidikan hadap masalah dimana education as the process of transferring information, and embraces a view of education as consisting of acts of cognition that take place through dialogue. Students and teachers become critical co-investigators in dialogue with each other. Dalam kondisi ini tidak ada satu fihak mengajar fihak lain tapi semua fihak belajar Men teach each other, mediated by the world, by the cognizable objects which in banking education are ‘owned’ by the teacher”
  8. Guna mengimplementasikan problem posing education dalam tataran praktis pembelajaran, maka metode dialog (Dialogical method) menjadi suatu cara kondusif yang dapat mengembangkan dan memperkuat proses pembelajaran bersama dalam metode ini semua mengajar dan semua belajar dengan cara ini pembelajaran menjadi sangat egaliter dimana tak ada fihak mendominasi fihak lain Pendidik dan Peserta didik sama-sama belajar dari masalah-masalah yang dialami dalam kehidupannya. in this method, all teach and all learn. The dialogical approach contrasts with the anti-dialogical method, which positions the teacher as the transmitter of knowledge, a hierarchical framework that leads to domination and oppression through the silencing of students’ knowledge and experiences. Metode dialog ini amat menentukan pendidikan yang benar seperti pernyataan Freire bahwa “without dialog there is no communication, and without communication there can be no true education“.
  9. Pedagogi kritis sebenarnya bukan hal yang baru, setiap waktu banyak pakar mengkritisi pendidikan dari muali sistem sampai implementasi dalam tataran mikro operasional, semua itu pada dasarnya menjadi khasanah bagi kita untuk terus mencari upaya yang makin baik dalam meningkatkan mutu pendidikan bukan hanya dalam konteks output tapi juga dalam konteks peningkatan mutu kehidupan masyarakat dalam struktur sosial, politik dan ekonomi yang adil, egaliter dan sejahtera serta memanusiakan manusia manusiawi. Terlepas dari dimensi politik ideologi dan teori yang rumit, implementasi pembelajaran di kelas dapat mengambil manfaat dari pedagogi kritis ini untuk meningkatkan mutu pembelajaran dalam membantu generasi mendatang memiliki karakter yang baik serta kapabilitas produktif yang tinggi dengan basis nilai yang dapat menjadikan manusia manusiawi.

==========

Tentang AKHMAD SUDRAJAT

=Ω= seorang praktisi pendidikan di Kabupaten Kuningan yang sedang belajar menjadi diri sendiri =Ω=
This entry was posted in KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Apa itu Critical Pedagogy?

  1. abyatma says:

    terima kasih atas referensi nya, kata2 nya sangat bagus bisa menopang tugas makalah
    salam dari PLS 2011 Universitas negeri Malang

  2. SCBD Kuningan says:

    Terima kasih atas materinya…
    Salam untuk pak Uhar
    Kami dari SCBD Kuningan

  3. Budi Sutrisno says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Terima kasih atas materi yang telah saya unduh lewat situs web Bapak. Semoga menambah manfaat dalam ikut mencerdaskan anak bangsa.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  4. Budi Sutrisno says:

    Terima kasih atas materi yang dapa saya unduh dari Bapak. Semoga bermanfaat untuk bahan pengayaan dalam mengajar. Lemah teles, Gusti Alloh SWT. sing mbales.

  5. Sriayu says:

    Sdh lama gak mampir ke sini… Wow…artikel2 nya keren abizzz… Ampek bingung mana yg akan d sedot duluan. Wuuiiihh…seperti dahaga menemukan telaga.
    Big syukron Pak Akhamd Sudrajat…!

    Salam Pendidikan

  6. insanpembelajar says:

    artikel yang bagus pak…minta izin saya copy artikel-artikel pendidikanx pak..sy mau tampilkan di blog pribadi saya untuk berbagi..bisa tidak pak

  7. deep yudha says:

    Seperti falsafah Pendidikan yang telah dilontarkan sejak dulu oleh tokoh Pendidikan Indonesia “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” , yg bermakna: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik). Dan seperti ide tokoh pelatihan Dave Meier tentang “Accelerated Learning” nya dimana seorang guru harus sangat berperan tetapi lebih sebagai “fasilitator”, karena dalam Accelerated Learning mengandung prinsip2 : Keterlibatan total pembelajar dalam meningkatkan pembelajaran, belajar adalah menciptakan pengetahuan secara aktif dan bukan hanya mengumpulkan informasi secara pasif, meningkatkan Kerja sama diantara pembelajar untuk meningkatkan hasil belajar,
    , berpusat aktivitas sehingga dapat dirancang dalam waktu yang jauh lebih singkat . Dalam proses ini peserta didik tidak seperti sedang nonton film hanya duduk menikmati, menerima dan sekali2 berkomentar tentang apa yg ditontonnya.

    • AKHMAD SUDRAJAT says:

      Munculnya teori-teori pendidikan alternatif seperti yang Ibu kemukakan di atas tampaknya juga merupakan bentuk dari pendidikan kritis

  8. AKHMAD SUDRAJAT says:

    Benar Pak!
    Upaya merubah paradigma memang tidaklah mudah, karena didalamnya melibatkan kebiasaan dan keyakinan yang mungkin sudah terbentuk sejak lama.

  9. M Mursyid PW says:

    Komennya ngikut p Teguh saja, plus mohon izin kopas artikel ini utk koleksi.

  10. nurilq says:

    Assalamu ‘alaikum. Terima kasih saya sampaikan, saya sebagai pendidik merasa beruntung masih banyak orang yang berfikir tentang pendidikan berdasarkan realita yang ada. Saya hanya ingin mencari solusi bgaimana saya dapat menjadikan anak didik saya dapat taat dalam menjalankan agama, saya kira modal dasar dari segala ilmu agar menjadi ilmuwan yang baik dan sukses apabila mempunyai dasar-dasar agama yang kuat. Namun saat ini banyak orang tua sendiri menekankan pada anaknya untuk memahami dasar-dasar agama padahal banyak orang tua yang segala tindakannya tidak mencerminkan seorang yang beragama. Maaf bila ini kurang berkenan, Billahit Taufiq W H. Wasslam.

    • AKHMAD SUDRAJAT says:

      Setuju…Pak
      Pendidikan Agama sudah seharusnya menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan seseorang, yang didalamnya melibatkan peran orang tua, terutama melalui keteladanan

  11. Kenyataan yang terjadi untuk para pendidik yang telah berhasil mendidik siwa-siswinya sebenarnya juga merupakan implementasi dari teori di atas, hanya saja pendidik tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan sudah tetuang dalam teori pendidikan, bahkan ada pendidik yang betul-betul melakukan sesuai dengan teori pendidikan, tetapi ia sendiri belum pernah membaca teori-teori tersebut. Ini terjadi biasanya untuk guru-guru yang kreatif. Saya yakin guru-guru seperti ini bila mengetahui tentang teori-teori dari pakar pendidikan akan lebih berkembang dan mungkin memunculkan inovasi-inovasi baru yang lebih. Kelemahannya kadang-kadang buku-buku tentang ini sulit dicari. Keberadaan blog ini merupakan salah satu solusi tentu saja.

    • AKHMAD SUDRAJAT says:

      Pendidikan dipandang sebagai ilmu yang berangkat dari teori-teori tertentu.
      Teori akan menunjang terhadap pengembangan praktik, demikian pula sebaliknya praktik akan menopang terhadap pengembangan teori.

  12. PUDWIYANTO says:

    setuju dengan pendapat rekan mangeka, kritisi pendidikan sebenarnya telah ada sejak ilmu pendidikan itu sendiri mulai dikenal, dan itu akan memunculkan paradigma-paradigma bahkan teori-teori baru. Yang lebih penting adalah memilih dan menetapkan strategi mendidik yang sesuai dengan akar budaya agar tidak kehilangan jati diri.

    • AKHMAD SUDRAJAT says:

      Pendidikan kritis biasanya muncul sebagai reaksi atas dampak yang muncul dari suatu kemampanan.

Silahkan... sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s