Mewaspadai Berbagai Penyakit yang Dapat Menyerang Guru

Mewaspadai Berbagai Penyakit yang Dapat Menyerang GuruBeberapa hari yang lalu saya menerima kiriman SMS dari sahabat saya dengan judul Waspada terhadap penyakit yang dapat menyerang guru!. Isi pesan tersebut berisi berbagai  jenis penyakit medis yang sering kita dengar, tetapi  dalam konotasi yang diplesetkan.

Selanjutnya, untuk memenuhi rasa penasaran tentang beredarnya isu penyakit “nyeleneh” ini, saya pun mendatangi Mbah Google untuk meminta informasi tentang hal ini.   Ternyata memang benar, di dunia maya pun sudah banyak beredar isu tentang penyakit ini.

Jika Anda merasa penasaran dengan jenis-jenis penyakit tersebut, Anda  dapat menelusuri sendiri melalui Mbah Google, Om Yahoo, atau mesin browser lainnya.

Terlepas benar-tidaknya isu ini, mari kita senantiasa  waspada dan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah dan memberantas penyakit  yang diyakini  akan dapat menghambat dan mengganggu pencapaian mutu pendidikan di negeri  ini.

Catatan:

Karena isue ini telah berkembang menjadi topik diskusi yang kontroversi, saya mengambil keputusan untuk tidak lagi menampilkan “jenis-jenis penyakit dimaksud”. Mohon maaf dan terima kasih atas diskusi masukan  Anda    [revisi, 02 April 2010]

==========

Materi Terkait:

Tentang AKHMAD SUDRAJAT

=Ω= seorang praktisi pendidikan di Kabupaten Kuningan yang sedang belajar menjadi diri sendiri =Ω=
Catatan ini telah ditulis dalam SERBA SERBI dan di-tag dengan , , , , , , , , . Penunjuk permalink.

56 Respon untuk Mewaspadai Berbagai Penyakit yang Dapat Menyerang Guru

  1. batikmania berkata:

    Kok nggak diulas di sini, penyakit apa sajakah itu? Agak penasaran juga sih, pengen tahu, tapi belum bisa meluangkan waktu untuk tanya google ataupun yahoo. Ada bocoran? ;)

  2. SITI KAMARIAHNGADIMIN berkata:

    Setelah membaca sms tsb, saya lebih introspkesi diri bahwa kita sebagai sosok yang digugu dan ditiru alias guru harus lebih membenahi diri dan memperkaya diri dengan segala teknik dan strategi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.

  3. firman m. berkata:

    setuju dengan jalius_hr.
    semua yang ada sebagai pemacu untuk guru menambah wawasan dan melengkapi kekurangan yang diderita, tersinggung tidak namum terlanjur disebarluaskan menjadi bumerang bagi guru untuk bahan pelecehan

  4. suherlan berkata:

    sebenarnya qt ga perlu tersinggung, marah, atau takut diejek oleh siswa…gara-gara penyakit plesetan yang disebarluaskan via SMS tsb….tetapi hendaknya qt bisa mawas diri dan melakukan self evaluation, sudah sejauh mana usaha qt dalam meningkatkan kompetensi ….dan jangan sampai ada penyakit tambahan seperti DISENTRI : disertifikasi namun tidak mawas diri

    SMS ini telah menjadi sebuah wacana pro-kontra di kalangan guru sendiri, tentunya dengan argumentasi masing-masing. Nuhun tos ngiring ngaramekeun di dieu

  5. wartono berkata:

    setiap perbuatan tergantung niatnya mas… guru punya tabungan yng paling banyak di akhirat bila memang benar-benar amanah….

  6. saiful berkata:

    Mas tolong saya dikirimi apa saja yang dimaksud penyakit guru itu, karena (maaf) saya belum sempat tahu tentang info yang dimaksud penyakit guru dalam hal ini! Terima kasih

    Bapak bisa mencarinya melalui google, gunakan keyword yang relevan

  7. wulan harmadisastra berkata:

    ya…senada dg Teh Lilis,saya juga menerima sms itu…heuheu…
    tapi kayanya si pengirim sms itu kelupaan satu penyakit lagi…yaitu penyakit “marakayangan ” alias “gentayangan”…guru gentayangan adalah guru yang selalu ikut seminar,workshop,pelatihan…pindah dari satu seminar ke seminar lain…pindah dari satu workshop ke workshop lain…pindah dari satu pelatihan ke pelatihan lain..sehingga,dia tidak memiliki waktu untuk mengajar siswanya di kelas..pendek kata, yang pinter itu jadinya si guru itu,kalau dia diikutkan lomba guru teladan,dia pasti juara…tapi kalo siswa2nya yang diikutkan lomba,mereka bakal kalah dech…

    Tambahan lagi penyakit baru….Terima kasih mari kita senantiasa merefleksi untuk perbaikan diri

  8. Lilis Yuningsih ,S.Pd berkata:

    Hatur nuhun pa, namung ulah bosen ngalereskeun we margi teu acan dipasihan terang ngalereskeun nyalira…

  9. Lilis Yuningsih ,S.Pd berkata:

    Lilis Yuningsih
    Aduuuh mas Tukul memang harus jadi inspirasi kita juga, menurut saya sih ga usah ada yang berang, marah atau saling tuding.Seperti pepatah bijak mengatakan : jadikan ’setiap orang adalah guru’ dan kehidupan ini adalah universitasnya….maka kita boleh berharap akan makin bijak lah kita..Mari kita lihat dari sisi yang positip saja seperti pepatah bijak lain mengatakan :”Lakukan saja apa yang bisa dilakukan, sebaik-baiknya, dan sebenar-benarnya…….” .Saya jadi ingat ketika kepsek saya briefing dg kalangan terbatas, beliau bisik2 bahwa beliau menerima sms tentang penyakit2 yang perlu diwas[adai oleh para guru tapi beliau tidak tega mengirimkannya pada kami guru2, takut ada yang sensitif katanya. Tapi tidak menerima dari beliau saya tetap menerima dari sahabat saya, toh sms itu malah membuat saya senyum2 sendiri. Tapi entah kalau saya menerima sms itu dari kepsek saya, apakah saya jg masih bisa tersenyum atau merasa ditegur ? Akhirnya kepsek saya malah membahas berbagai penyakit berbahaya dan perlu diwaspadai itu didepan siswa sebagai wejangan bagi mereka ( Tentu saja sudah melalui proses editing dan tidak disebutkan bahwa sumber asalnya adalah dari sms yang tersebar dan bahwa yang dimaksud adalah penyakit guru he..he..}. Mohon maaf tidak bermaksud menggurui para guru dan ga usah ada yang marah ya….peace ah….

    Punten… ku abdi nu ieu bae di-approve-na. Nuhun…..

  10. suaidin berkata:

    Saya juga menerima SMS serupa yang dipelestrkan terhadap kinerjan guru di sekolah, menamng menimbulkan pro kontra, malah ada guru yang berang mengirim edit SMS trsb ke Pengawas sekolah, dibawahnya ditambah Penyakit ini juga di miliki oleh pengawas sekolah katanya.Sebenarnya kalalu mau jujur , guru dilapangan sudah maksimal melaksanakan tugas sesuai kondisi sekolah masing-masing, apalagi dengan telah di BIMTEK KTPS yang berkali algamdulillah guru sekarang banyak perubahan uatamnya materi pembelajaran dan penilaian.Kita akui penyakit itu ada .tp jika ingin guru sembuh dari penyakit itu maka sarana pendukung pembelajaran harus dipenuhi disekolaah.sebenarnya manusia diciptakan dalam keadaan terbaik, Tidak ada kekurangan atau kelemahan dalam diri manusia, yang ada hanyalah manusia belum mampu mengelola apa yang disebutnya “kelemahan atau kekurangan” menjadi sebuah potensi yang luar biasa. kelemahan atau kekurangan itu justru menjadi sumber kekuatan …paling dahsyat apa bila intake dan daya dukung terpenuhi “serta tentu diperlukaan kerja keras dan ketekunan”.TUKUL ARWANA TELAH MEBUKTIKANNYA PADA DUNIA, dengan segala kelemahannya, wajahnya, mulutnya, pengetahuan yang pas-pasan mampu mengolahnya menjadi pelawak yang sukses dan membuat manuasia terhubr.heheheh

    Kita bisa belajar dari Mas Tukul atas kecerdasan spiritual yang dimilikinya, dimana dia sanggup merubah rasa sakit menjadi kekuatan (salah satu ciri kecerdasan spiritual), ketika diejek atau diomelin oleh mitra mainnya tapi justru dia dapat menjadikannya sebagai peluang untuk maju seperti yang kita saksikan sekarang.

  11. Bakharuddin berkata:

    Terima kasih info nya …satu lagi ..penyakit Gayus …(jadi makelar)….he he..

    Menurut hemat saya, GAYUS itu jenis penyakit kronis yang melanda birokrasi kita, khususnya dalam bidang penegakan hukum dan perpajakan. Apakah di pendidikan juga ada GAYUS?

  12. web berkata:

    yups….syu setuju pak….!

    OK….

  13. jalius_ hr berkata:

    Bpk ibuk yang sy hormati.
    Setiap orang ada penyakait. termasuk guru. masing masing penyakait yang kita derita berbeda-beda.

    Yang menjadi persoalan bagi kita adalah istilah tersebut terlanjur berkembang dan dikembangkan. Istilah ini nanti akan menjadi presedan buruk bagi anak didik disekolah-sekolah. Nanti anak-anak akan memberikan gelar-gelar tertentu pada gurunya sesuai dengan jenis penyakit itu. Inilah yang akan merusak moral anak-anak. Anak seenaknya saja melecehkan guru, pada hal seharusnya mereka hormati. Seorang anak wajib menghargai baik gurunya kalau ingin ilmunya berkat.

    Saya menyarankan agar tuliasan tersebut diatas dihapus saja, tidak usah disebar luaskan.

    Wasalam
    Jalius.HR

    Terima kasih atas masukannya, saya telah merevisi tulisan di atas, dengan tidak menampilkan lagi jenis-jenis penyakitnya

  14. Iman79 berkata:

    sms yang beredar seolah menyelentik perasaan guru, namun saya yakin penyakit itu hanya ada pada oknum guru saja bukan berarti guru in general. saya adalah seorang pengawas di daerah kepulauan tepatnya di kabupaten Kayong Utara Prov Kalimantan Barat, tidak semua yang di sms kan itu benar guru guru di daerah kepulauan pulau maya karimata dari satai sampai ke pulau betok, dan dari pancur sampai ke padang karimata yang sangat jauh dari pelupuk mata, namun mereka masih tetap aktif mengajar, membimbing dan melatih aanak anak pulau. dengan segala keterbatasan mereka tegar berdiri di depan kelas laksana dewa yang tak kenal lelah membimbing putra bangsa. tolong pada yang menyebar sms hentikan lah kaji dan analisa faktor faktor yang positifnya juga yang ada pada seorang guru.
    untuk menangkal / menahan agar guru/kita tak kena penyakit itu maka kita harus profesional, penuh tanggung jawab dan memiliki perasaan bahwa kita tidak hanya bekerja namun selain bekerja kita berdakwah dan beribah.

    Teima kasih atas tanggapannya, saya juga mohon maaf dan sudah merevisi tulisan saya di atas

  15. Lilis Yuningsih ,S.Pd berkata:

    Mohon maaf bukan bermaksud menggurui para guru karena saya pun belum menjadi guru yang baik. Dalam pemikiran sederhana saya, saya mencoba menjawab pertanyaan teman saya tadi mengenai bagaimana mencegah penyakit2 yang perlu diwaspadai para guru tersebut.Diantaranya dengan senantiasa bersyukur atas pekerjaan yang sekarang kita tekuni dan coba cintai (sebagai guru),mencoba sadari bahwa pekerjaan kita adalah ladang amal yang hasilnya dapat kita petik/panen baik di dunia maupun di akhirat.Selalu bersemangat dan melihat kesulitan2 yang menghadang dari sisi yang positif yaitu anggap sebagai tantangan.Sebagai contoh ketika kita menyadari bahwa siswa yang kita hadapi sekarang jauh berbeda dengan siswa yang dihadapi guru 5-10 tahun ke belakang, siswa sekarang pengetahuan dan keterampilan tentang ICT nya jauh lebih maju juga bahasa Inggrisnya (seperti kita ketahui bersama dengan program pemerintah mendirikan sekolah SBI terjadi aselerasi kebutuhan di masyarakat dimana siswa SD pun sekarang beramai-ramai kursus computer dan bahasa Inggris). Hal ini kalau tidak disikapi positif oleh kita gurunya mungkin itu yg menyebabkan penyakit MUAL, KUSTA, TBC pada guru.Tetapi kalau disikapi dengan positif dan cerdas justru potensi anak yang sedemikian bagus ini justru menjadi tantangan tersendiri untuk senantiasa meng”upgrade” dirinya agar tidak tertinggal oleh siswanya yang canggih2 itu.Sehingga potensi anak bisa lebih berkembang lagi dengan strategi para guru dengan cara yang efektif dan efisien.Demikian sedikit pemikiran sederhana saya, mohon maaf sekai lagi dan terima kasih.

    • AKHMAD SUDRAJAT berkata:

      Memang, di tengah-tengah tantangan pendidikan yang serba kompleks, saat ini guru telah menjadi tumpuan harapan untuk mengangkat mutu pendidikan nasional kita.
      Kepadanya dituntut untuk senantiasa mengasah dan menguasai kompetensi secara utuh.
      Mewaspadai berbagai penyakit di atas adalah bentuk lain untuk senantiasa memelihara
      kompetensi.
      Tentu saja, upaya memelihara kompetensi ini tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru itu sendiri, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama semua pemangku pendidikan. Terima kasih

      Ada lagi yang ingin sumbang saran?

Silahkan... sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s