Pada tanggal 22 Juli 2009 yang lalu jutaan penduduk di belahan benua Asia, -khususnya yang berada di wilayah belahan India, Nepal, Myanmar, Bangladesh, Bhutan, dan China- telah menyaksikan fenomena alam yang sangat langka yaitu gerhana matahari total-. Peristiwa yang terjadi di luar angkasa ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan awam maupun ilmuwan. Siapa pun yang sempat menyaksikan peristiwa ini, dalam hati kecilnya mungkin terselip rasa kagum dan takjub atas peristiwa alam yang mungkin hanya bisa dinikmati sekali dalam sepanjang hidupnya ini. Bagaimana jika melihat bumi dan sekelilingnya dari luar angkasa? Inilah saudara-saudara kita, muslim dan muslimah, yang telah beruntung dapat menyaksikan bumi dari luar angkasa, yang tentunya menjadi pengalaman sangat berharga dan takkan terlupakan bagi mereka.
Muslim pertama yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa adalah Pangeran Sultan bin Salman AbdulAziz Al-Saud dari Arab Saudi. Pada tahun 1985, Al-Saud ikut bersama kru yang menjalankan misi ruang angkasa STS-S1G dengan menggunakan pesawat Discovery milik AS, untuk mengorbitkan satelit komunikasi ARABSAT 1-B. Dalam misi ini, Al-Saud bukan hanya menjadi Muslim pertama yang pergi ke ruang angkasa tapi juga menjadi anggota kerajaan Saudi pertama yang berhasil menjelajah ruang angkasa. Setelah menyelesaikan misinya, Al-Saud kemudian mendirikan organisasi non-profit Asosiasi Penjelajah Ruang Angkasa, sebagai wadah berkumpulnya para astronot dan kosmonot dari seluruh dunia. Al-Saud sendiri yang menjadi direktur asosiasi itu selama beberapa tahun.
Dua tahun setelah keberangkatan Al-Saudi, tepatnya pada bulan Juli 1987, Muslim asal Suriah bernama Mohammed Faris ikut dalam misi Soyuz TM-3 ke stasiun ruang angkasa Rusia, Mir. Mohammed Faris, anggota Angkatan Udara Suriah berpangkat kolonel itu, menjalankan misi penelitian ke Mir.
Lima bulan kemudian, Musa Manarov, seorang Muslim keturunan Azerbaijan yang berpangkat kolonel di Angkatan Udara Uni Sovyet juga berangkat ke luar angkasa dalam misi Soyuz TM-4 ke stasiun ruang angkasa Mir. Manarov bersama tim Soyuz TM-4, menjadi Muslim pertama yang tinggal di ruang angkasa selama satu tahun penuh. Ia kembali ke bumi pada Desember 1988. Musa Manarov kembali melakukan penjelajahan ke luar angkasa pada Desember 1990 dalam misi Soyuz TM-11. Kali ini ia tinggal selama satu tahun tiga bulan di ruang angkasa dan melakukan lebih dari 20 jam perjalanan, menjelajah ruang angkasa.
Muslim lainnya yang juga pernah menjalankan misi ke luar angkasa adalah Abdul Ahad Mohmand asal Afghanistan. Pilot Angkatan Udara Afghanistan itu ikut dalam misi Soyuz TM-6 pada bulan Agustus 1988 sebagai kosmonot yang melakukan riset selama delapan hari di Mir. Dalam misi ini, Mohmand bahkan menjadi pahlawan penyelamat bagi kru lainnya, ketika kapsul yang akan membawanya kembali ke bumi mengalami kendala saat akan memasuki atmosfir bumi.
Kurang dari 10 tahun setelah misi Mohamd, Muslim-muslim lainnya menyusul, mengikuti berbagai misi ke ruang angkasa. Antara lain Tokhtar Aubakirov dari Kazakhstan yang ikut dalam misi Soyuz TM-13 ke Mir tahun 1991. Kemudian tahun 1994, misi Soyuz TM-19 mengikutsertakan Talgat Musabayev, seorang Muslim yang juga asal Kazakhstan.
Jika perjalanan ruang angkasa selama bertahun-tahun didominasi oleh kaum lelaki Muslim, pada bulan September 2006, muslimah AS keturunan Iran, Anousheh Ansari berhasil mendobrak rekor menjadi muslimah pertama sekaligus turis pertama dalam program perjalanan ke ruang angkasa. Ansara melakukan “wisata ruang angkasa”nya dengan menggunakan Soyuz TM-9 yang menjadi bagian dari misi Expedition 14.
Pada bulan Oktober tahun 2007, seorang ahli bedah ortopedi dari Universiti Kebangsaan Malaysia bernama Muszaphar Shukor berhasil menembus atmosfir bumi bersama para astronot Rusia dalam peluncuran stasiun ruang angkasa Soyuz TMA-11. Shukor sukses menjalankan misi ruang angkasanya selama 11 hari dan kembali ke bumi pada 21 Oktober 2007, tepatnya di wilayah Kazakhstan pukul 10.43 waktu setempat.
Kapan giliran muslim Indonesia?
Sumber:
http://www.eramuslim.com/
http://Kompas.com

Alhamdulillah….
Terus kapan para muslim dan muslimah akan menjadi lokomotif kemajuan di muka bumi ini ? Mungkin ga ya ?
Mba’…….. kpn2 log mu kruang angks lg,ajk2 q dunkzzzzz…,,, q kn jg pngen buangetz k cna, y itung2 perwakilan dr Indonesia gtu.Amiennn
alhamdulillah ternyata muslimin tidak kalah dengan org2 non muslim
saya senang sekali walaupun saya hanya membaca……….
semangat buat muslimin sedunia……..
Ketika salah satu astronot AS pergi ngangkasa mampir dibulan pulangnya terus mencari yang didengar disana lalu mengucapkan sahadat karena merasakan kebesaran Allah dan mendengar Allah hu Akbar Allah hu Akbar beberapa kali, suara adzan disana.
Kalao saja astronot muslim bisa menceritakan pengalaman bathiniyah disana, sungguh menakjubkan, mari kita cari.dimana?
Sebenarnya muslim/muslimah kita bisa juga. Hanya kesempatan saja yang belum diusahakan (kesempatan harus dijemput, tidak menunggu). Kualitas sdm kita tidak kalah dengan negara lain. Nyatanya, banyak siswa Indonesia yang menang di olimpiade sains di luar negeri.
Tantangan buat pemerintah agar bisa melobi (menjemput bola) sehingga kita bisa menunjukkan bahwa Indonesia BISA.
link keblog saya bisa ga pak?
Sebagai muslim saya bersyukur karena jumlah muslim yang ke luar nagkasa jauh lebih banyak daripada orang kafir. Ini membuktikan bahwa kecerdasan orang muslim memang di atas orang kafir. Seperti dikehendaki Alla swt, hendaknya kita lebih unggul daripada kafirun
Allahu akbar
Suparto Mohammad
Wah ada yawh, ternyata hoohooho
ulasan yang menarik
salam kenal bos
thanks infonya
salam kenal
Tulisan yang sangat menarik, semoga dari bangsa kita ada yang mampu mewujudkannya
info yang sangat bagus, kritis dan membangun….. trim’s
Selama ini saya nggak tahu kalo banyak muslim yang sudah ke luar angkasa…..
luar biasa, ,muslim seharusya memang jadi contoh… rhmt bagi selurh alam,kita BISA
@ Kang Adhi
Tulisan di atas sengaja saya ambil dari tempat lain, untuk dijadikan sebagai refleksi dan tantangan bagi para pengunjung blog ini, untuk suatu saat dapat melahirkan ahli-ahli aeronautika yang tangguh sekelas Habibie, sehingga dapat menerbangkan orang-orang Indonesia ke luar angkasa, menjelajah jagat raya nan luas ini.
Saya pun turut menyesalkan Ibu Pratiwi harus batal meng-angkasa. Padahal jika beliau jadi terbang, tentu kita semua akan merasa amat berbangga hati
Subhanallah, meski peran muslim dalam riset fisika makro, khususnya perjalanan antariksa masih bisa dihitung dengan jari, tapi saya bangga, Jadi inget bu Pratiwi sudarmono yang hampir jadi orang Indonesia pertama.
Kapan Indonesia mulai mengembangkan riset aeronatika lebih serius.
Semoga segera lahir Habibie-habibie baru yang menguasai iptek dan imtaq yang handal.
iya ya,, apa kabar bu pratiwi ya?