Menjadi Guru Profesional

Meski saat ini telah lahir Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosensebagai landasan yuridis profesi guru, tetapi untuk menjadikan guru di Indonesia sebagai sebuah pekerjaan profesional yang sejatinya (A True Professional) tampaknya masih perlu dikaji dan direnungkan lebih jauh.

Wikipedia menyebutkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dari sebuah pekerjaan profesional yang sejatinya, yakni: (1) academic qualifications – a doctoral or law degree – i.e., university college/institute; (2) expert and specialised knowledge in field which one is practising professionally; (3) excellent manual/practical and literary skills in relation to profession; (4) high quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavours; (5) a high standard of professional ethics, behaviour and work activities while carrying out one’s profession (as an employee, self-employed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc.)

Merujuk pada pemikiran Wikipedia di atas, mari kita telaah lebih lanjut tentang guru sebagai seorang profesional. Berdasarkan kriteria yang pertama, seorang guru bisa dikatakan sebagai seorang profesional yang sejatinya apabila dia memiliki latar belakang pendidikan sekurang-sekurangnya setingkat sarjana. Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa untuk dapat memangku jabatan guru minimal memiliki kualifikasi pendidikan D4/S1. Ketentuan ini telah memacu para guru untuk berusaha meningkatkan kualiafikasi akademiknya, baik atas biaya sendiri maupun melalui bantuan bea siswa pemerintah. Walaupun, dalam beberapa kasus tertentu ditemukan ketidakselarasan dan inkonsistensi program studi yang dipilihnya. Misalnya, semula dia berlatar belakang D3 Bimbingan dan Konseling tetapi mungkin karena alasan-alasan tertentu yang sifatnya pragmatis, dia malah melanjutkan studinya pada program studi lain.

Terkait dengan kriteria kedua, guru adalah seorang ahli. Sebagai seorang ahli, maka dalam diri guru harus tersedia pengetahuan yang luas dan mendalam (kemampuan kognisi atau akademik tingkat tinggi) yang terkait dengan substansi mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Dia harus sanggup mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi dan mengendalikan tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya. Misalnya, seorang guru Biologi harus mampu menjelaskan, mendeskripsikan, memprediksikan dan mengendalikan tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan Biologi, walaupun dalam hal ini mungkin tidak sehebat ahli biologi (sains).

Selain memiliki pengetahuan yang tinggi dalam substansi bidang mata pelajaran yang diampunya, seorang guru dituntut pula untuk menunjukkan keterampilannya secara unggul dalam bidang pendidikan dan pembelajaran (kemampuan pedagogik), seperti: keterampilan menerapkan berbagai metode dan teknik pembelajaran, teknik pengelolaan kelas, keterampilan memanfaatkan media dan sumber belajar, dan sebagainya. Keterampilan pedagogik inilah yang justru akan membedakan guru dengan ahli lain dalam bidang sains yang terkait. Untuk memperoleh keterampilan pedagogik ini, di samping memerlukan bakat tersendiri juga diperlukan latihan secara sistematis dan berkesinambungan.

Lebih dari itu, seorang guru tidak hanya sekedar unggul dalam mempraktikkan pengetahuanya tetapi juga mampu menuliskan (literary skills) segala sesuatu yang berhubungan bidang keilmuan (substansi mata pelajaran) dan bidang yang terkait pendidikan dan pembelajaran, misalnya kemampuan membuat laporan penelitian, makalah, menulis buku dan kegiatan literasi lainnya. Inilah kriteria yang ketiga dari seorang profesional.

Kriteria keempat, seorang guru dikatakan sebagai profesional yang sejatinya manakala dapat bekerja dengan kualitas tinggi. Pekerjaan guru termasuk dalam bidang jasa atau pelayanan (service). Pelayanan yang berkualitas dari seorang guru ditunjukkan melalui kepuasan dari para pengguna jasa guru yaitu siswa.

Kepuasaan utama siswa selaku pihak yang dilayani guru terletak pada pencapaian prestasi belajar dan terkembangkannya segenap potensi yang dimilikinya secara optimal melalui proses pembelajaran yang mendidik. Untuk bisa memberikan kepuasan ini tentunya dibutuhkan kesungguhan dan kerja cerdas dari guru itu sendiri.

Kritera terakhir, seorang guru dikatakan sebagai seorang profesional yang sejati apabila dia dapat berperilaku sejalan dengan kode etik profesi serta dapat bekerja dengan standar yang tinggi. Beberapa produk hukum kita sudah menggariskan standar-standar yang berkaitan dengan tugas guru. Guru profesional yang sejatinya tentunya tidak hanya sanggup memenuhi standar secara minimal, tetapi akan mengejar standar yang lebih tinggi. Termasuk dalam kriteria yang kelima adalah membangun rasa kesejawatan dengan rekan seprofesi untuk bersama-sama membangun profesi dan menegakkan kode etik profesi.

Berdasarkan uraian di atas, ada sebuah refleksi bagi saya dan mungkin  juga Anda. Bahwa untuk menjadi guru dengan predikat sebagai profesional yang sejati tampaknya tidaklah mudah, tidak cukup hanya dinyatakan melalui selembar kertas yang diperoleh melalui proses sertifikasi. Tetapi betapa kita dituntut lebih jauh untuk terus mengasah kemampuan kita secara sungguh-sungguh  guna memenuhi  segenap kriteria yang telah dikemukakan di atas, yang salah satunya dapat dilakukan melalui usaha belajar dan terus belajar yang tiada henti.

Jika tidak, maka kita mungkin hanya akan menyandang predikat sebagai “guru-guruan”, alias pura-pura menjadi guru atau malah mungkin menjadi guru gadungan yang justru akan semakin merusak dan membahayakan pendidikan. Semoga saya dan Anda sekalian tidak termasuk kategori yang satu  ini dan mari belajar !

==========

Materi terkait:

[ AKHMAD SUDRAJAT seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Dikaitkatakan dengan: , , , ,
Ditulis dalam PENDIDIKAN
22 comments on “Menjadi Guru Profesional
  1. wawan mengatakan:

    ass pak ..,saya bukan guru BK, tapi saya sepakat profesional bukan selembar kertas..penerapan kemampuan kompentesi dan pengadian dilapangan, bukan sekedar harapan tunjangan profesi yang memberatkan anngaran negara.saya berprisip rejeki datang sesuai keikhlasan kita bekerja, jadilah “guru ajar” jangan “jadi guru bayar” apalagi “guru kurang ajar” makaten pak matur nuwun
    wassalam

  2. neni mengatakan:

    ass pak.. idealnya dan memang seharusnya seperti itu yah pak…sy baca bulak balik tulisan bapak dan sy bercermin he he ternyata belum nyampai pada yang profesional itu
    sy agak bingung pak karena bagaimana sy bisa profesional.. karena sy belatar belakang pkn tapi sudah 6 taun di tempatkan di BK..tp sy berusaha belajar pak dan meskipun baru berani menulis di blog bapak saya banyak membaca tulisan tulisan bapak dan sangat membantu saya makasih..
    saya di kuningan pak.. mungkin bapak tidak kenal saya tapi saya tahu bapak..
    makasih
    wass

    @ Ibu neni
    Saya kira ibu harus tetap optimis bila Ibu hendak menggeluti profesi BK secara total. Untuk meng-upgrade kemampuan, banyak cara yang bisa ibu lakukan. Disamping belajar melalui the best practice dalam keseharian, bila perlu Ibu lanjutkan lagi pendidikan (S2 atau S1 alternatif) dengan mengambil program studi yang relevan. Terima kasih.

  3. omiyan mengatakan:

    semua pekerjaan memang sebaiknya profesional dalam artian menguasai bidangnya karena bila sesuatu hal diberikan kepada yang bukan ahlinya hancur donk kelak generasi dan bangsa ini

  4. Pustaka Pohon Bodhi mengatakan:

    Menurut saya, pendidikan memang elemen terpenting sebuah negara. Tapi pendidikan kita tidak mengajarkan dasar-dasar penting dari tata negara dan sosial ekonomi kepada murid-muridnya.

    Semua permasalahan kita dimulai dari uang (sistem kredit (hutang) sebagai uang dan bunga).

    Saya harap guru-guru di Indonesia bisa lebih familiar dengan topik tersebut dan mengajarkannya kepada murid-murid mereka.

    Topik ini saya bahas lebih rinci di blog saya:
    http: //pohonbodhi.blogspot. com

    Saya berharap bisa dibaca oleh semua pelaku pendidikan di Indonesia.

    Salam…

  5. qee mengatakan:

    sampai kapan pun pekerjaan sebagai guru tetap yang terbaik.
    karena gurulah yang telah mengeluarkan bibit2 harapan umat. tetapi, untuk menjadi guru yang proesional bagus untuk merujuk ke tulisan ini, agar bibit2 di indonesia lebih berbobot.
    maju indonesiaku…sejahterahkan guru!!!

  6. Sri wahyuni mengatakan:

    Asalamu’alikum
    Guru sebagai pekerja profesional sejati bisa dan harus asal memenuhi antara lain… (1) Kemandirian, (2) Kekinian

    Kemandirian artinya pekerjaan itu tidak dapat digantikan orang lain, tentu dia ahli dalam bidangnya maka harus memenuhi syarat yang kedua Kekinian artinya terus mengikuti perkembangan bidangnya, dan tentunya bersamaan dengan tumbuh kembangnya diri maka akan tidak puas bila bekerja tidak : high quality, kreatif, inovatif dll.

    Guru sebagai profesi dan sebagai agen pembelajaran, pekerjaab tidak lepas dari komponen2 dalam sistem pembelajaran. Komponen dipilah menjadi (1) kondisi pembelajaran, (2) metode pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran.
    Kondisi pembelajaran sebagai faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Metode sebagai cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran di bawah kondisi pembelajaran yang berbeda .
    Kondisi pembelajaran tidak dapat dimanipulasi. tetapi dapat berinteraksi dengan strategi pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajaran adalah karakteristik siswa. Ini semua garapan guru sebagai pekerja yang profesional, tidak ada alasan siswa T3 (tingak, Tinguk, Tok), menangnya kita bisa memilih, kurang fasilitaslah, kurang danalah, gak rumusnya bagi guru yang profesional sejati.
    Guru Indonesia bisa, tahun 1970 guru Indonesia jadi kiblatnya negara tetangga mengapa sekarang tidak ?
    Ayo sejajarkan profesio guru sama dengan dokter, dll
    Wassalam

  7. st rochmah mengatakan:

    Mengapa mesti bertanya ?
    Apakah guru bisa menjadi pekerjaan profesional yang sejatinya ?

    Kita sering nonton di TV mengenai artis-artis yang mengatakan ‘ saya kerja seprofesional mungkin, jadi kalau dituntut untuk berperan sebagai … ya saya pasti beracting yang benar benar profesional”
    Akhirnya muncul kasus Kiki Fatmala dan Saipul Jamil yang katanya bekerja seprofesional mungkin.
    Walaupun menurut saya untuk profesional seseorang harus mendapatkan pendidikan yang memang berkaitan dengan pekerjaannya, la Saipul itu apa sekolah acting tho ?

    Kembali ke guru yang profesional, sekolah SD, SMP, SMA/SPG, UN/IKIP/STKIP/PT baik S1, S2, bahkan S3 masak ga profesional ?
    Malu lah sama artis-artis yang suka ngomong aja belepotan, tingkah lakunya nyebelin, tindak tanduknya jauh dari sopan, pakai baju selalu kurang bahan, hobinya kawin cerai, dll.

    Saya yakin kok, profesional itu ada di Bapak Ibu guru semua, hanya mungkin kadarnya ada yang baru 60 %, 70%, 75%, 80%, dan nanti juga bertambah.
    Insyaalloh.

  8. Dadang firdaos mengatakan:

    Pengaflikasian pelajaran dngn baik pd kehidupan sehari-hari merupakan bagian penting dalam melihat berhasil tidaknya profesionalitas tercipta. Smua adalah ibadah yg saling keterkaitan. Memang bukan hal mudah untuk mencerdaskan bangsa. Berbagai macam stimulus pun telah dilaksanakan demi untuk lebih gairahkan lg pendidikan di Indonesia yg sedang mati suri. Salam pendidikan yg benar2 mendidik.

  9. baitul alim mengatakan:

    semoga kesejahteraan guru akan menjadi lebih baik,menginggat bahwaguru sangat berpengaruh pada kualitas pendidikan di indonesia.salam kenal,kunjung balik ya

  10. Umar Puja Kesuma mengatakan:

    Dengan keadaan, fasilitas, dan penghargaan yang masih apa adanya ini. Menjadi profesional pada sebagian guru mungkin masih sulit. Akan banyak alasan dan perdebatan seputar itu.
    Namun begitu, bukan berarti menanggalkan asa untuk menjadi guru yang lebih baik. Guru yang betul-betul profesional, loyal, dan berdedikasi tinggi pada pendidikan.

    Salam Istimewa!

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s