Sisi Lain dari Mesin Pencari

oleh: Akhmad Sudrajat

TTelah dimaklumi bahwa kini di jagat maya ini telah tersedia sejumlah mesin pencari (search engine) yang siap membantu para pengguna internet untuk menemukan dan menjelajahi berbagai alamat-alamat situs yang dikehendakinya. Cukup dengan menuliskan satu kata kunci tertentu pada mesin pencari, maka dalam sekejap sang mesin pencari akan bekerja membantu kita menunjukkan tempat-tempat atau alamat dimana kata kunci yang dimaksud berada. Jika beruntung, kita akan diajak pada tempat yang benar-benar tepat sesuai kebutuhan, tetapi jika kurang beruntung, kita terpaksa harus berusaha memilih dan mencari-cari lagi, yang jumlahnya mungkin hingga ribuan bahkan jutaan.

Setiap mesin pencari memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing dan di antara sejumlah mesin pencari yang tersedia, konon Google disebut-sebut sebagai mesin pencari yang dianggap paling canggih dan banyak digemari oleh para peselancar, dikarenakan kemampuannya untuk membantu kita mencarikan tempat-tempat secara lebih detail, meski mungkin tidak selamanya dapat menunjukkan hasilnya secara tepat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh sang peselancar.

Google Pendidikan

Dibalik kecanggihan mesin pencari dalam menunjukkan alamat-alamat yang dibutuhkan ini ternyata sempat menimbulkan kegelisahan tersendiri. Contoh kasus, misalkan seorang guru biologi di SMP dan SMA memberikan tugas kepada para siswanya untuk menggali informasi tentang “lalat” di internet. Namun, ketika para siswa melaksanakan pencarian informasi di internet, dengan menggunakan kata kunci “lalat” pada mesin pencari, boleh jadi bukannya para siswa memperoleh informasi  tentang seluk beluk lalat yang sebenarnya, tetapi malah mereka bisa terperosok pada tempat “lalat” yang berbeda, yang justru bisa membahayakan dan merusak mentalnya. Di sinilah, tampaknya, moralitas, kearifan dan pemahaman dari para pengguna jasa mesin pencari sangat diperlukan dalam memilah dan memilih informasi yang berguna bagi dirinya. Para siswa dan anak-anak muda kita, selain perlu dibelajarkan bagaimana menggali informasi di internet yang jumlahnya bisa mencapai trilyunan byte, penting juga mereka dibelajarkan dan dibimbing bagaimana mereka seharusnya melakukan pilihan-pilihan yang terbaik bagi dirinya dalam berinternet.

Selain dibutuhkan oleh para peselancar, mesin pencari juga dimanfaatkan oleh para pemilik website atau blogger untuk mempromosikan situs atau blog-nya. Berbagai cara yang dilakukan para pemilik website atau blogger untuk mensiasati agar setiap tulisan atau halaman dalam situsnya dapat diindeks dan ditempatkan pada urutan teratas dalam setiap mesin pencari, terutama di Google dan di beberapa mesin pencari terkenal lainnya. Mereka yang sangat paham tentang seluk beluk IT dan perilaku dari setiap mesin pencari, mungkin bisa mengotak-atiknya sedemikian rupa (menggunakan teknik SEO, misalnya), sehingga setiap tulisannya dapat diindeks dan ditempatkan pada halaman muka (teratas) dalam mesin pencari. Bahkan, ada diantaranya yang sengaja mengeluarkan sejumlah biaya agar situs atau blog-nya dapat ditempatkan di urutan teratas dalam mesin pencari. Semakin berada pada urutan teratas dalam mesin pencarian, biasanya akan semakin tinggi pula traffic yang menuju ke arah situs dan blog yang bersangkutan dan dengan sendirinya pula, maksud dan tujuan dari si pembuat website atau blog pun akan semakin efektif, baik tujuan yang bersifat komersial maupun non-komersial. Sementara orang awam seperti saya, cenderung berjalan apa adanya. Artinya, kalau lagi mujur, mungkin tulisan atau situs yang dibuat bisa berada pada halaman teratas dalam mesin pencari, tetapi bisa juga berada pada halaman paling buncit atau malah sama sekali tidak dilirik oleh sang mesin pencari.

Terlepas dari kecanggihan yang dimiliki setiap mesin pencari beserta manfaatnya, yang namanya mesin tetap saja mesin, dia hanya bisa bekerja secara mekanistik sesuai aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh perancangnya. Mereka tidak bisa berimprovisasi di luar ketentuan baku yang telah ditetapkan, dan jika hal itu dilakukannya pasti sang mesin pencari itu atau mungkin komputer kita sedang mengalami error.

Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa Google merupakan salah satu mesin pencari yang banyak digunakan orang, termasuk di Indonesia. Andaikan saja, Google ini seorang manusia, mungkin dia akan terheran-heran dan pusing melihat para pengguna jasa layanan Google di Indonesia, sebab konon berdasarkan data statistik yang dimilikinya, para pengguna Google dari Indonesia banyak yang minta diantarkan ke tempat-tempat yang berbau mesum, dengan menggunakan kata-kata kunci (key words) yang sejenis itu. Karena memang dia statusnya hanya sebagai mesin yang dirancang harus patuh, maka dia pun tetap mengantarkannya, meski mungkin dengan rasa dongkol.

Melihat kecenderungan ke arah sana, tidak sedikit para blogger maupun pemilik website memanfaatkannya sebagai peluang untuk meningkatkan traffic, dengan cara membuat nama situs, judul tulisan, kata kunci atau tag tulisan yang berbau mesum pula. Walau pun isi situsnya mungkin sama sekali tidak membahas tentang “permesumen”, tetapi sialnya ada juga yang memang benar-benar situs mesum yang oleh pemiliknya sengaja mempromosikan “permesuman” kepada kepada khalayak. Dengan kata lain, dia sedang berusaha “memasyarakat mesum dan memesumkan masyarakat”. Memang terasa aneh, tapi itulah realitanya!

[ AKHMAD SUDRAJAT seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , ,
Ditulis dalam PENDIDIKAN
4 comments on “Sisi Lain dari Mesin Pencari
  1. […] Sisi Lain dari Mesin Pencari […]

  2. afriandi75 mengatakan:

    Itulah bagian dari dampak globalisasi di bidang teknologi… Terlepas dari dampak tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka kita semua tidak bisa terhindar dari teknologi yang terus berkembang dan berkembang. Namun, sebagai orang tua dan pendidik kita akan selalu berusaha mengingatkan kepada anak-anak didik tentang kedua dampak tadi. Semoga segala usaha dan upaya untuk mendidik anak ke tingkat perkembangan yang baik bisa terealisasi. Artinya, tidak ketinggalan dengan perkembangan kemajuan iptek namun akhlakul karimmah senantiasa berbanding lurus sebagai pendamping yang positif bagi tumbuh kembangnya para tunas bangsa. Amin….

  3. Kabul RKM mengatakan:

    Syamsudin : Benar, tapi siapa yang akan mengontrol anak-anak ketika mereka berada di warnet misalnya? orang tua jelas tidak mungkin selalu berada di dkatnya setiap waktu

  4. Syamsuddin Ideris mengatakan:

    Memang Pak! Mesin pencari di internet ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi bisa memberikan manfaat memudahkan pencarian informasi di jagat maya dengan cepat. Tapi di sisi lain informasi negatif seperti pornografi juga bisa diakses dengan mudahnya.

    Sebenarnya tinggal manusianya saja lagi, apakah mau menggunakan mesin pencari sebagai kebaikan atau keburukan. Tapi disitulah masalahnya jika yang menggunakan mesin pencari adalah anak-anak atau remaja yang belum matang pemikiran dan masih gamang. Kalau tanpa kontrol dari orang tua atau pihak terkait maka kebanyakan mereka akan mencari informasi yang bersifat negatif.

    Benar nggak pak?

Komentar ditutup.