Pengertian, Fungsi, dan Mekanisme Penetapan KKM

A. Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal

Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi kurva. Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal.

Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM.

Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap.

Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dan atau orang tuanya. Kriteria ketuntasan minimal harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB) sebagai acuan dalam menyikapi hasil belajar peserta didik.

B. Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal

Fungsi kriteria ketuntasan minimal:

  1. sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasardapat diketahui ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan.Pendidik harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dasar dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layananpengayaan;
  2. sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaianmata pelajaran. Setiap kompetensi dasar (KD) dan indikator ditetapkan KKMyang harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkandapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilaimelebihi KKM.  Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan;
  3. dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasiketerlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan pencapaian KKM sebagai tolok ukur. Oleh karena itu hasil pencapaian KD berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan informasi tentang peta KD-KD tiap mata pelajaran yang mudah atau sulit, dan cara perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan sarana prasarana belajar di sekolah;
  4. merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara pendidik, peserta didik, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan penilaian. Peserta didik melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah didesain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi dan dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran dan penilaian di sekolah;
  5. merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiapmata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat.

C.  Prinsip Penetapan KKM

Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal perlu mempertimbangkan beberapa ketentuan sebagai berikut:

  1. Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang dapat dilakukan melalui metode kualitatif dan atau kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilakukan melalui professional judgement oleh pendidik dengan mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman pendidik mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Sedangkan metode kuantitatif dilakukan dengan rentang angka yang disepakati sesuai dengan penetapan kriteria yang ditentukan;
  2. Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi
  3. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut;
  4. Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar Kompetensi (SK) merupakan rata-rata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam SK tersebut;
  5. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari semua KKM-SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran, dan dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB/Rapor)peserta didik;
  6. Indikator merupakan acuan/rujukan bagi pendidik untuk membuat soal-soal ulangan, baik Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS) maupun Ulangan Akhir Semester (UAS). Soal ulangan ataupun tugas-tugasharus mampu mencerminkan/menampilkan pencapaian indikator yang diujikan. Dengan demikian pendidik tidak perlu melakukan pembobotan seluruh hasil ulangan, karena semuanya memiliki hasil yang setara;
  7. Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimungkinkan adanya perbedaan nilai ketuntasan minimal.

D. Langkah-Langkah Penetapan KKM

Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran. Langkah penetapan KKM adalah sebagai berikut:

  1. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu kompleksitas. Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD, SK hingga KKM mata pelajaran;
  2. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian;
  3. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua, dan dinas pendidikan;
  4. KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik.

Info selanjutnya tentang Pengertian, Fungsi, dan Mekanisme Penetapan KKM dapat diunduh melalui tautan di bawah ini:

===============

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam PEMBELAJARAN
32 comments on “Pengertian, Fungsi, dan Mekanisme Penetapan KKM
  1. syahrul mengatakan:

    maksih pak atas penjelasan tentang KKM….sementara mungkin penjelasan tu bisa bantu tugas ayah saya….
    kapan-kapan kalo ada yg belum jelas Aku nanya, boleh ya????…

  2. helen mengatakan:

    saya ingin menanyakan bagaimana cara menentukan KKM

  3. ihsan dacholfany (Mhs Fak.Tarbiyah ISID Gontor-Staff Pengajar PP.Gontor 1997) mengatakan:

    RELEVANSI METODE DENGAN SITUASI &
    RELEVANSI METODE DENGAN MURID
    Mhs Fak.Tarbiyah ISID Gontor-Staff Pengajar PP.Gontor 1997)

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Dalam setiap proses belajar mengajar sekurang-kurangnya terdapat unsur tujuan yang akan dicapai belajar, guru yang aktif membimbing murid, metode belajar mengajar dan situasi belajar. Pengajaran sebagai suatu sistem menuntut agar semua unsur tersebut saling berhubungan satu sama lain atau dengan kata lain tidak ada satu unsur yang dapat ditinggalkan tanpa menimbulkan kepincangan dalam proses belajar mengajar.
    Dalam makalah ni akan dibicarakan tentang relevansi metode-metode pengajaran agama islam dengan berbagai unsur lainnya seperti tersebut diatas. Dengan relevansi dimaksudkan kesesuaian atau keserasian metode belajar mengajar dengan unsur tujuan yang akan dicapai, dengan bahanyang akan diajarkan, dengan murid yang belajar dan dengan situasi belajar mengajar. Setiap metode itu mempunyai ciri dan kegunaan secara khusus, seorang guru tidak cukup hanya dengan mengetahui berbagai metode dan kegunaannya. Ia harus menguasai relevansi setiap metode itu dengan unsur-unsur lainnya dalamproses belajar mengajar.

    B. Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan situasi ?
    2. Bagaimana gambaran relevansi metode dengan situasi?
    3. Bagaimana gambaran relevansi metode dengan murid?

    C. Tujuan
    Tujuan pembuatan makalah ini untuk mengetahui bagaimana relevansi metode dengan situasi dan relevansi metode dengan murid

    BAB II
    ISI

    1. Relevansi metode dengan situasi
    a. Pengertian situasi
    Yang termasuk dalam situasi disini adalah keadaan peserta didik (yang menyangkut kelelahan mereka), keadaan cuaca, keadaan guru (kelelahan guru), keadaan kelas-kelas yang berdekatan dengan kelas yang akan diberi pelajaran dengan metode tertentu.
    Apabila peserta didik telah lelah (yang diajar dengan metode ceramah) maka guru sebaiknya mengganti metode mengajarnya misalnya dengan metode sosiodrama. Demikian pula apabila guru melihat bahwa para peserta didik sedang bersemangat (dalam membicarakan peristiwa dalam masyarakat) maka guru menggunakan metode diskusi. Apabila kelas disekitar kelas yang sedang diberi pelajaran ribut, maka sebaiknya guru menggunakan metode pemberian tugas atau metode Tanya jawab (sebab metode ini menuntut konsentrasi peserta didik).
    b. Gambaran relevansi metode dengan situasi
    Pada umumnya sistem pendidikan didasarkan pada asumsi bahwa sejumlah jenis tingkah laku tertentu dapat diperolah dalam situasi social. Setiap guru senantiasa berada dalam situasi yang terdiri dari sejumlah factor yaitu factor murid (keadaan dan latar belakangnya) dan sekolah (suasan , staf, fasilitas, dan perlengkapannya). Analisis terhadap factor-faktor ini akan dapat memberi petunjuk bagi guru-guru mengenai langkah-langkah apa yang harus ditempuh dalam menyusun kegiatan belaja mengajar yang efisien dan efektif.
    Berikut ini akan dicoba menggambarkan bagaimana relevansi situasi sekolah dengan metode mengajar:

    1. Guru
    guru adalah seorang yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang dapat memudahkan dalam melaksanakan peranannya dalam membimbing muridnya. Ia harus sanggup menilai diri sendiri tanpa berlebih-lebihan, sanggup berkomunikasi dan bekerja bersama dengan orang lain. Selain itu perlu diperhatikan pula dalam hal mana ia memiliki kemampuan dan kelemahan.
    Dengan demikian guru sebagai bagian dari situasi belajar mengajar cenderung untuk mengambil keputusan-keputusan yang berbeda dengan guru lainnya. Namun kadang-kadang sukar untuk meyakinkan guru-guru bahwa dengan keputusannya yang berbeda itu tidaklah berarti bahwa yang satu benar dan yang lainnya salah. Agaknya lebih cocok dikemukakan bahwa keputusan yang satu lebih baik dari yang lain yang kelak akan terbukti dari pengalaman. Tentu saja keputusan-keputusan dimaksud dipertimbangkan secara rasional. Para pembaru dalam bidang pengajaran pada tahun-tahun yang lalu adalah orang-orang yang tidak mengikat dirinya dengan apa yang dikatakan benar pada masanya melainkan mengerjakan banyak hal menurut keputusan mereka sendiri.
    Metode mengajar yang digunakan termasuk dalam keputusan yang diambil sendiri oleh guru yang bersangkutan. Tiap guru yang akan menggunakan metode tertentu ia harus mengerti tentang metode itu (misalnya jalan pengajaran serta kebaikan dan kelemahannya, situasi-situasi yang tepat dimana metode itu efektif dan wajar) dan trampil dalam menggunakan metode itu. Missal Guru A memilih dan memutuskan untuk menggunakan metode ceramah untuk mengajar bahan sejarah “masuknya islam ke Indonesia” karena ia merasa dirinya adalah salah seorang pembicara yang baik yang dapat merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar selanjutnya. Sebaliknya guru B setelah mempertimbangkan kemampuannya dan fasilitas yang ada akhirnya memutuskan menggunakan metode kerja kelompok. Dari contoh tersebut vdapat dilihat bahwa metode yang dipakai mempunyai relevansi dengan situasi (dalam hal ini factor guru).
    2. Suasana kelas
    yang dimaksud dengan suasana kelas dalam uraian ini adalah hubungan social antara guru dengan murid dan murid dengan murid. Di madrasah sering kita jumpai hubungan social yang bersifat otokratis dan demokratis. Pada suasana otokratis guru memegang seluruh tanggung jawab dan inisiatif. Murid cenderung menjadi pasif, penurut, bekerja sendiri-sendiri yang memungkinkan timbulnya persaingan tidak sehat. Pada suasana demokratis/pembagian tugas dan tanggung jawab antar guru dengan murid. Murid mempunyai kecenderungan untuk bekerja sama, penuh inisiatif, tidaka hanya menerima pelajaran tetapi juga mengemukakan pendapat-pendapatnya.
    Guru yang menghadapi suasana kelas yang demokratis akan menggunakan metode yang memungkinkan anak bekerja sama, bersaing secara sehat dan mencegah berbagai masalah, misalnya metode diskusi dan metode proyek. Sebaliknya, metode-metode demikian tidak relevan dengan suasana kelas yang otokratis.
    Keadaan kelas yang gaduh karena suara-suara bising, dalam situasi seperti ini jelas tidak mungkin menggunakan metode ceramah, diskusi dan sosiodrama.
    3. Alat-alat
    Yang dimaksud alat disini adalah semua perlengkapan yang ikut menentukan penggunaan suatu materi pelajaran cukup tersedia bagi murid, maka kemungkinan metode assignment recitation dapat digunakan, sebaliknya kalau buku tidak ada atau tidak cukup, akan dipilih metode ceramah.

    2. Relevansi metode dengan murid
    Semua guru mengetahui bahwa murid-murid berbeda satu dari yang lainnya. Kemungkinan perbedaan itu cukup besar dan tidak ada dua orang anak yang identik. Terdapat beberapa kecenderungan umum yang dapat diamati, tetapi pada dasarnya setiap anak adalah individu. Masalah perbedaan individu ini mendapat perhatian secara teoritis dalamlembaga pendidikan guru pada umumnya. Beberapa perbedaan murid cukup jelas dan dengan segera dapat diamati dan diketahui oleh guru pada saat pertama kali memasuki kelas, perbedaan itu terutama mengenai fisik. Perbedaan-perbedaan lainnya seperti perbedaan kepribadian dan watak akan kelihatan setelah beberapa waktu kemudian. Untuk menyadari perbedaan-perbedaan itu perlu waktu agak lama, namun demikian dalam jangka waktu tertentu akan jelas bahwa terdapat ketidakseragaman dalam materi yang dipelajari, dalam kecepatan belajar, sikap terhadap pelajaran dan dalam cara belajar. Begitu juga kita jumpai murid dalam kelas memiliki tingkat pengalaman yang berbeda di rumah atau di sekolah yang terdahulu (ibtidaiyah). Disebabkan oleh perbedaan-perbedaan tersebut diatas, setiap kesempatan belajar yang diberikan di sekolah akan berbeda bagi murid yang berbeda.
    Kalau kita perhatikan bahwa sistem pengajaran di sekolah masih mengikuti sistem klasikal dimana murid dengan berbagai ragam perbedaannya mendapat pelajaran yang sama pada waktu yang sama, maka metode yang relevan untuk memenuhi perbedaan-perbedaan individual (walaupun tidak seluruhnya) ialah dengan metode proyek, pemberiaan tugas-tugas tambahan dan pengelompokan berdasarkan kemampuan.
    Pelaksanaan metode-metode yang menjamin pemenuhan perbedaan individual masih merupakan persoalan bagi guru. Hal itu disebabkan oleh karena pengaruh ujian dan banyak guru berkomentar bahwa suatu hal yang mustahil melayani murid secara individual bila mereka mempersiapkan diri untuk suatu ujian yang sama. Para guru itu lupa bahwa tidak hanya ada satu jalan ke Roma, ada berbagi cara untuk mencapai tujuan yang sama. Kalau memang murid berbeda dalam kenyataannya dalam berbagai aspek.

    BAB III
    PENUTUP

    Kesimpulan
    Dengan relevansi dimaksudkan kesesuaian atau keserasian metode belajar mengajar dengan unsur tujuan yang hendak dicapai, dengan bahan yang diajarkan, dengan murid yang belajar dan dengan situasi belajar mengajar. Setiap metode mempunyai ciri dan kegunaannya secara khusus, seorang guru tidak cukup hanya dengan mengetahui berbagai metode dan penggunaannya. Ia harus mengetahui relevansi setiap metode itu dengan unsur-unsur lainnya dalam proses belajar mengajar.

  4. Suryati mengatakan:

    Blog ini sangat membantu kerja kepala sekolah, untuk melaksanakan program KBM kearah peningkatan yang lebih baik.

  5. m ihsan dacholfany uninus S-3 mengatakan:

    B. Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal
    Fungsi kriteria ketuntasan minimal:
    1. sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai
    kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasar
    dapat diketahui ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan.
    Pendidik harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian
    kompetensi dasar dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layanan
    pengayaan;
    2. sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian
    mata pelajaran. Setiap kompetensi dasar (KD) dan indikator ditetapkan KKM
    yang harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkan
    dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilai
    melebihi KKM. Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus
    mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan;
    3. dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi
    program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi
    keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan
    pencapaian KKM sebagai tolok ukur. Oleh karena itu hasil pencapaian KD
    berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan
    informasi tentang peta KD-KD tiap mata pelajaran yang mudah atau sulit,
    dan cara perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan saranaprasarana
    belajar di sekolah;
    4. merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan
    antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM
    merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara pendidik, peserta
    didik, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan
    upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan
    penilaian. Peserta didik melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif
    mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah
    didesain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi
    dan dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran.
    Sedangkan pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan
    pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses
    pembelajaran dan penilaian di sekolah;
    5. merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap
    mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin
    untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM
    merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam
    menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM
    yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok
    ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat.
    Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

  6. m ihsan dacholfany mengatakan:

    KKM ditetapkan pada awal tahun pelajaran
    KKM ditetapkan oleh forum MGMP sekolah
    Nilai KKM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0 – 100
    Nilai ketuntasan belajar maksimal adalah 100
    Sekolah dapat menetapkan KKM dibawah nilai ketuntasan belajar maksimal
    Nilai KKM harus dicantumkan dalam LHBS

    kreterian ketetapan kkm
    Kompleksitas (Kesulitan & Kerumitan)
    Daya dukung
    Intake siswa

  7. emirita mengatakan:

    pak bantu dong utk pengertian fungsi penetapan KKM dn prinsipnya.
    pnting bnget pak.Urgent
    buat bhn tugas….

    Makash pak…
    salam sukses.

  8. meeca mengatakan:

    saya juga mau pak etrkait pengertian mekanisme..
    buat bahan tugas akhir juga

    terima kasih……….

    sukses selalu……..

  9. win mengatakan:

    tlong dong pengertian mekanisme n sma2 yang berhbungan dgn mkanisme.
    coz pnting bnget….
    buat bhn skripsi ku….

  10. yogie mengatakan:

    sebenarnya saya msh bingung dgn kkm, apalagi dalam hal cara menghitung kkm karena banyak sekali pendapat yg berbeda. toong dong bantuin

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 13.443 pengikut lainnya.