Langsung ke isi
8 Agustus 2008 / AKHMAD SUDRAJAT

Konferensi Kasus untuk Mengatasi Masalah Siswa

Konferensi kasus merupakan kegiatan pendukung atau pelengkap dalam Bimbingan dan Konseling untuk membahas permasalahan siswa (konseli) dalam suatu pertemuan, yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa (konseli).

Memang, tidak semua masalah yang dihadapi siswa (konseli) harus dilakukan konferensi kasus. Tetapi untuk masalah-masalah yang tergolong pelik dan perlu keterlibatan pihak lain tampaknya konferensi kasus sangat penting untuk dilaksanakan. Melalui konferensi kasus, proses penyelesaian masalah siswa (konseli) dilakukan tidak hanya mengandalkan pada konselor di sekolah semata, tetapi bisa dilakukan secara kolaboratif, dengan melibatkan berbagai pihak yang dianggap kompeten dan memiliki kepentingan dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli).

Kendati demikian, pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Artinya, tidak semua pihak bisa disertakan dalam konferensi kasus, hanya mereka yang dianggap memiliki pengaruh dan kepentingan langsung dengan permasalahan siswa (konseli) yang boleh dilibatkan dalam konferensi kasus. Begitu juga, setiap pembicaraan yang muncul dalam konferensi kasus bersifat rahasia dan hanya untuk diketahui oleh para peserta konferensi.

Konferensi kasus bukanlah sejenis “sidang pengadilan” yang akan menentukan hukuman bagi siswa. Misalkan, konferensi kasus untuk membahas kasus narkoba yang dialami siswa X. Keputusan yang diambil dalam konferensi bukan bersifat “mengadili” siswa yang bersangkutan, yang ujung-ujungnya siswa dipaksa harus dikeluarkan dari sekolah, akan tetapi konferensi kasus harus bisa menghasilkan keputusan bagaimana cara terbaik agar siswa tersebut bisa sembuh dari ketergantungan narkoba.

B. Tujuan
Secara umum, tujuan diadakan konferensi kasus yaitu untuk mengusahakan cara yang terbaik bagi pemecahan masalah yang dialami siswa (konseli) dan secara khusus konferensi kasus bertujuan untuk:

  1. mendapatkan konsistensi, kalau guru atau konselor ternyata menemukan berbagai data/informasi yang dipandang saling bertentangan atau kurang serasi satu sama lain (cross check data)
  2. mendapatkan konsensus dari para peserta konferensi dalam menafsirkan data yang cukup komprehensif dan pelik yang menyangkut diri siswa (konseli) guna memudahkan pengambilan keputusan
  3. mendapatkan pengertian, penerimaan, persetujuan dari komitmen peran dari para peserta konferensi tentang permasalahan yang dihadapi siswa (konseli) beserta upaya pengentasannya.

C. Prosedur
Konferensi kasus dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Kepala sekolah atau Koordinator BK/Konselor mengundang para peserta konferensi kasus, baik atas insiatif guru, wali kelas atau konselor itu sendiri. Mereka yang diundang adalah orang-orang yang memiliki pengaruh kuat atas permasalahan dihadapi siswa (konseli) dan mereka yang dipandang memiliki keahlian tertentu terkait dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli), seperti: orang tua, wakil kepala sekolah, guru tertentu yang memiliki kepentingan dengan masalah siswa (konseli), wali kelas, dan bila perlu dapat menghadirkan ahli dari luar yang berkepentingan dengan masalah siswa (konseli), seperti: psikolog, dokter, polisi, dan ahli lain yang terkait.
  2. Pada saat awal pertemuan konferensi kasus, kepala sekolah atau konselor membuka acara pertemuan dengan menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakan konferensi kasus dan permintaan komitmen dari para peserta untuk membantu mengentaskan masalah yang dihadapi siswa (konseli), serta menyampaikan pentingnya pemenuhan asas–asas dalam bimbingan dan konseling, khususnya asas kerahasiaan.
  3. Guru atau konselor menampilkan dan mendekripsikan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli). Dalam mendekripsikan masalah siswa (konseli), seyogyanya terlebih dahulu disampaikan tentang hal-hal positif dari siswa (konseli), misalkan tentang potensi, sikap, dan perilaku positif yang dimiliki siswa (konseli), sehingga para peserta bisa melihat hal-hal positif dari siswa (konseli) yang bersangkutan. Selanjutnya, disampaikan berbagai gejala dan permasalahan siswa (konseli) dan data/informasi lainnya tentang siswa (konseli) yang sudah terindentifikasi/terinventarisasi, serta upaya-upaya pengentasan yang telah dilakukan sebelumnya.
  4. Setelah pemaparan masalah siswa (konseli), selanjutnya para peserta lain mendiskusikan dan dimintai tanggapan, masukan, dan konstribusi persetujuan atau penerimaan tugas dan peran masing-masing dalam rangka pengentasan/remedial atas masalah yang dihadapi siswa (konseli)
  5. Setelah berdiskusi atau mungkin juga berdebat, maka selanjutnya konferensi menyimpulkan beberapa rekomendas/keputusan berupa alternatif-alternatif untuk dipertimbangkan oleh konselor, para peserta, dan siswa (konseli) yang bersangkutan, untuk mengambil langkah-langkah penting berikutnya dalam rangka pengentasan masalah siswa (konseli).

C. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyelenggarakan konferensi kasus, antara lain:

  1. Diusahakan sedapat mungkin kegiatan konferensi kasus yang hendak dilaksanakan mendapat persetujuan dari kasus atau siswa (konseli) yang bersangkutan
  2. Siswa (konseli) yang bersangkutan boleh dihadirkan kalau dipandang perlu, boleh juga tidak, bergantung pada permasalahan dan kondisinya.
  3. Diusahakan sedapat mungkin pada saat mendeskripsikan dan mendikusikan masalah siswa (konseli) tidak menyebut nama siswa (konseli) yang bersangkutan, tetapi dengan menggunakan kode yang dipahami bersama.
  4. Dalam kondisi apa pun, kepentingan siswa (konseli) harus diletakkan di atas segala kepentingan lainnya.
  5. Peserta konferensi kasus menyadari akan tugas dan peran serta batas-batas kewenangan profesionalnya.
  6. Keputusan yang diambil dalam konferensi kasus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional, dengan tetap tidak melupakan aspek-aspek emosional, terutama hal-hal yang berkenaan dengan orang tua siswa (konseli) yang bersangkutan
  7. Setiap proses dan hasil konferensi kasus dicatat dan diadminsitrasikan secara tertib.
  1. M Yohanes D Fernandez Akoli / Jan 9 2013 11:22

    BK konfrehensif merupakan suatu tindakan cepat seorang konselor dalam mengatasi persoalan klien ketika diketahui bermasalah. konferehensi kasus jika itu merupakan salah satu jalan makmaka perlu seorang konselor mempertimbangkan personil yang diikut sertakan. menjadi pendengar yang baik adalah kunci !! mengeksplor / menggali , bukan menasihati atau mengajari adalah tehnik terbaik ketika kita mau mendapatkan keterangan klien. Trimakasih Fernandez

  2. Anonymous / Jan 9 2013 11:13

    jika ingin membantu dalam pemecahan suatu kasus, paling penting mengenal terlebih dahulu data pribadi klien, kedua mengenal kasusnya, dan ketiga tehnik pemecahan untuk jenis kasus tersebut ( ex. Reinforcement positif, behavioristik dll ) . jika salah menterjemahkan kasus tersebut dan salah penanganannya maka hasilnya tidak akan membantu klien tersebut malah bisa membuat klien tambah parah. Trimakasih Fernandez

  3. sri hariyanti / Mar 14 2012 10:02

    saya setuju sekali dengan pendapat penulis bahwa, konferensi ini bisa berhasil apabila tidak ditunggangi dengan emosional, tujuannya jelas, bukan untuk mengadili siswa yg bermasalah namun mencari solusi agar siswa itu bisa keluar dari masalahnya….

  4. juliyanti siregar / Jan 19 2012 18:05

    bnr sekali,,,tidak semua kasus harus di konferensikan.

  5. rusdianto / Des 3 2011 20:45

    Kolaborasi, aspirasi serta partisipasi dari semua pihak yang berkompeten merupakan aspek dorongan serta inovator yang unggul dalam proses konferensi.

  6. niar chan / Jan 8 2010 12:58

    assalamu alaikum…
    saya mau minta tolong…….
    ada resume tntang kasus dan penyelesaian masalah dalam manajemen pendidikan g’….
    trima kasih…..

  7. merry / Nov 18 2009 12:59

    saya ingin bertanya…
    masalah-masalah apa saja yang sering timbul saat mengajar dikelas maupun dilihat dari guru, siswa, fasilitas…..thanks sebelumnya…

  8. mey / Nov 11 2009 12:14

    thanks banget. sangat membantu kami

  9. andi barax / Jun 27 2009 12:39

    ad makalh yg d cantmkan referensi nx g…

  10. Yarmis Syukur / Des 15 2008 02:10

    Saya sependapat dengan penulis bahwa tidak semua kasus perlu dikonferensikan. Sehubungan dengan itu, maka pertimbangan untuk menghadirkan berbagai orang ahli seperti dokter, psikholog dsb telah didasari oleh sebesar-besarnya kebutuhan klien dan permasalahan yang akan dibahas. Selanjutnya akan menggunakan hasil konferensi kasus tersebut dalam hubungan konselor-klien pada pertemuan yang telah direncanakan bersama.

Silahkan sampaikan apa yang ada dalam pikiran Anda!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s