Perubahan paradigma pendidikan dari behavioristik ke konstruktivistik tidak hanya menuntut adanya perubahan dalam proses pembelajaran, tetapi juga termasuk perubahan dalam melaksanakan penilaian pembelajaran siswa. Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran lebih ditekankan pada hasil (produk) yang cenderung hanya menilai kemampuan aspek kognitif, dan kadang-kadang direduksi sedemikian rupa melalui bentuk tes obyektif. Sementara, penilaian dalam aspek afektif dan psikomotorik kerapkali diabaikan.
Dalam pembelajaran berbasis konstruktivisme, penilaian pembelajaran tidak hanya ditujukan untuk mengukur tingkat kemampuan kognitif semata, tetapi mencakup seluruh aspek kepribadian siswa, seperti: perkembangan moral, perkembangan emosional, perkembangan sosial dan aspek-aspek kepribadian individu lainnya. Demikian pula, penilaian tidak hanya bertumpu pada penilaian produk, tetapi juga mempertimbangkan segi proses.
Kesemuanya itu menuntut adanya perubahan dalam pendekatan dan teknik penilaian pembelajaran siswa. Untuk itulah, Depdiknas (2006) meluncurkan Model Penilaian Pembelajaran siswa, dengan apa yang disebut Penilaian Kelas.
Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang Model Penilaian Kelas ini, silahkan klik tautan di bawah ini.
∞∞∞∞∞000∞∞∞∞∞
Makalah dan Artikel Filsafat, Sosial dan Budaya
Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran
Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling
Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan
Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan
∞∞∞∞∞000∞∞∞∞∞
DOWNLOAD :





seng temenan dol!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
pohon yang kecil akan sulit berkembang bila pohon yang besar terus ngoyomi!!
Asslamuailkum, pak matornuwon..berkat bapak saya bisa kerja tugas!!jazakallah..
mangnya apa sih tujuan penilaian hasil belajar kalo sebenarnya yang diharapkan bukan sekedar nilai.
sebenarnya jika kita mau berfikir bahwa semua apa yang dilakukan oleh setiap guru itu baik dengan kata lain memberikan hasil penilaian tidak dengan melihat dari aspek aspek yang ada,mereka menilai hanya dengan apa yamg mereka lihat setiap hari tanpa memperhatikan apakah siswa itu mampu untuk mendapatkan nilai yang diharapkan.jadi sebelum seorang guru itu menilai hassildari sebuah proses pembelajaran maka seharusnya tau dulu konsep dari sebuah arti penilaian pembelajaran agar peserta didik berhasil dari sebuah proses pembelajaran.
perlu anda ketahui tidak semudah itu mengimplementasikan konsep anda.
teori teralalu banyak tapi implementasi yang praktis sangat minim!
tolong juga difikirkan formula peng-implementasi-an yang praktis. karena saat ini saya sedang memikirkan dan menyusun hal itu.
Makhrus Ali, S.Pd
Blog Nizamudinshamazia.WordPress.com
saya sependapat denagan pendapat anda.
Luar biasa, Bila guru kompeten terhadap penilaian hasil belajar siswa, karena sampai saat ini masih saja dijumpai ada guru yang ngaji (baca: ngarang biji) dalam melakukan penlian hasil belajar siswa. Entah apa sebabnya ? apakah karena sibuk banyak mengajar dimana-mana atau kurang faham dengan penilaian yang sesungguhnya, Wallahu a’lam.
Untuk calon guru harus faham bentul penilian hasil belajar agar kelak menjadi guru yang betul-betul profesional, selain itu agar tidak salah faham dalam menafsirkan arti dari penilian hasil beajar siswa.
Untuk penulis (Akhmad Sudrajat) kami berharap dapat menuliskan tentang Analisis Ulangan Harian dan Analisis Butir Soal, ini untuk menambah wawasan kami agar pengetahuan kami selalu ter-upgrade dengan yang baru. Semoga bermanfaat (Sukarin NH, Lina Wijayanti, Fatimah R, Nanik Evi, Nasruddin)
kami setuju dengan pendapat anda !!!
karena menurut kami penilaian pembelajaran tidak hanya meliputi satu aspek saja,yakni pada aspek kognitif. melainkan terdapat aspek-aspek lain yang dapat mendukung dalam proses pembelajaran, seperti: perkembangan moral, perkembangan emosional, perkembangan sosial,dan aspek-aspek kepribadian individual.
keberhasilan suatu pembelajaran tidak hanya terpaku terhadap penilaian secara angka atau hasil tes, akan tetapi juga terhadap perubahan perilaku yang terjadi pada diri siswa.
untuk mencapai penilaian yang lebih valid, seorang guru harus mampu mengenal kepribadian siswanya.dengan demikian akan menimbulkan saling keterbukaan antara guru dengan siswa. sehingga mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Kami setuju dengan pendapat-pendapat di atas.Hasil belajar merupakan hasil proses belajar.Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa.Hasil belajar adalah tingkat perkembangan mental yang lebih baik yang terwujud dalam rana kognitif,afektif,psikomotor.Istilah fasilitator pun melalui adopsi dalam lungkungan pendidikan formal di sekolah yakni berkenan dengan pesan guru pada saat melaksanakan interaksi belajar mengajar.Penilaian pembelajaran tidak hanya menekankan pada penilaian kognitif saja.Melainkan penilaian kepribadian siswa.Seperti perkembangan emosional,sosial,moral dan aspek-aspek perkembangan kepribadian individu lainnya.