Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).
1. Belajar mengetahui (learning to know)
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).
2. Belajar berkarya (learning to do)
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).
3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)
4. Belajar berkembang utuh (learning to be)
Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.





makasih ya udah membantu saya dalam menyelesaikan tugas …….
HEALTHY PERSONALITY
KEPRIBADIAN SEHAT
Orang dengan kepribadian sehat adalah mereka yang dinilai baik dalam penyesuaian diri. Mereka dinilai begitu karena dapat berfungsi secara efisien dalam dunia masyarakat. Mereka mengalami semacam ‘harmonis dari dalam’ dalam arti bahwa mereka membuat damai bagi orang lain dan diri mereka sendiri. Seperti Frank nyatakan bahwa inti kepribadian sehat adalah suatu image diri bahwa orang lain dapat menerima dan hidup dengannya tanpa merasa bersalah, cemas, marah tanpa menjadi rendah diri, atau menganggu orang lain.
Jourard in Hurlock (1979: 423) memberikan definisi kepripadian sehat yaitu seseorang yang dapat berperilaku sesuai dengan norma yang ada di dalam masyarakatnya dan kata hatinya. Jadi ada dua hal penting dalam kepribadian sehat. Pertama, bahwa seseorang harus tidak hanya memainkan perannya dalam kepuasan hidup tetapi juga dia harus memperoleh kepuasan dari hidupnya. Kepuasan membawa kestabilan emosi yang dikenal sebagai kebahagian atau kesenangan.Tanpa ini, kepribadian tidak dapat sehat. Seseorang yang sangat tidak puas dengan dirinya sendiri dan peran yang diharapkan dia mainkan dalam hidupnya, cepat atau lambat akan menjadi keribadian yang tidak sehat.
Kepuasan banyak tergantung pada apakah pola kehidupannya memenuhi kebutuhan, minat, dan aspirasinya. Ketika perkawinannya memenuhi harapannya dia akan merasa puas. Sebaliknya jika seseorang merasa bahwa perannya sebagai orang tua tidak memenuhi harapannya atau pekerjaan tidak sesuia dengan aspirasinya, meskipun dia memainkan perannya yang dapat memuaskan anggita kelompok sosialnya, dia akan tidak puas. Cavan in Hurlock (1979: 423) menekankan bahwa seseorang dengan penyesuaian yang baik dapat memuaskan kebutuhannya dengan cepat dan dalam sistem kontrol sesuai dengan budayanya. Maslow mendiskripsikan seorang dengan kepribadian yang sehat sebagai orang yang mengaktualisasikan diri. Dengan mengatualisasikan diri, Maslow in Hurlock (1979: 423) mengartikan proses pemenuhan potensi yang telah menjadi sifat dalam dirinya. Hal ini mungkin jika dia dapat mendapatkan kepuasan pada kebutuhan pokoknya seperti kepuasan fisik, keamanan, penghargaan, dan cinta. Jika kebutuhan fisik ini terpuaskan, seseorang dapat kemudian mengembalikan energinya kedalam tugas pekerjaan yang akan memudahkannya memenuhi potensi-potensi yang menjadi sifatnya. Kedua, pentingnya kepribadian sehat adalah seseorang harus memainkan perannya dalam memuaskan orang lain. Dia tidak dpat berperilaku yang hanya memberikan dia kepuasan. Namun dia harus bertindak dalam cara-cara yang sesuai dengan hukum, aadat, kode moral yang berlaku dalam kelompok sosialnya. Jika dia gagal dalam berperilaku sesuai standar, kebahagiannya akan terganggu. Hal ini akan membawa perasaan bersalah, malu yang keduanya mempengaruhi kepribadian sehat.
JUMLAH KEPRIBADIAN SEHAT
Jauh lebih sulit menentukan jumlah orang dengan kepribadian sehat daripada jumlah orang dengan kepribadian sakit. Ada dua alasan utama untuk itu. Pertama tidak adanya dokumentasi tentang orang-orang dengan kepribadian sehat. Dokumen bagi kepribadian sakit telah tersedia pada institusi jiwa, klinik kesehatan mental, dan laporan-laporan tentang orang-orang dengan kepribadian sakit pada sekolah, akdemi atau sekolah kejuruan. Karena tidak adanya dokumen tentang kepribadian sehat maka untuk mengetahui jumlahnya adalah dengan mengurangi jumlah penduduk dengan jumlah yang kepribadian yang sakit.
Hal yang kedua tentang alsan kesulitan mengetahui jumlah orang dengan kepribadian yang sehat yaitu penentuan orang dengan kepribadian sehat. Banyak orang menganggap orang dengan kepribadian sehat yaitu mereka yang tidak menjadi pengganggu atau orang yang dapat menyesuaikan dirinya kepada orang lain.Namun kriteria ini salah jika dilihat pada persyaratan bahwa penyesuaian dirinya harus membawa dia pada kepuasan.
Sebagian orang lagi menganggap sehat sama dengan normal atau ideal atau rata-rata. Dan ada juga yang mengartikan sehat berarti 100 persen sehat, tidak sakit. Seperti kesehatan fisik, masih timbul pertanyaan apakah ada orang yang tidak mempunyai gangguan jiwa? Thomson in Hurlock (1979: 424) yang melihat masalah ini pada anak mengatakan bahwa:
Penyesuaian normal adalah sesuatu yang relatif. Setiap anak mengalami kecemasan, menunjukkan perilaku yang tidak diterima orang lain, gagal mencapai tujuan yang sesungguhnya paling penting bagi dia dan juga mengalami masa-masa dimana dia merasa tidak bahagia.
Jadi sangat sulit untuk menentukan bahkan secara kasar berapa banyak orang dengan kepribadian sehat. Mungkin bisa dikatakan bahwa jumlah orang dengan kepribadian sehat lebih banyak dari jumlah orang dengan kepribadian sakit. Atau bisa juga dikatakan bahwa orang dengan kepribadian sehat jumlahnya menurun karena informasi tentang orang dengan kepribadian sakit meningkat. Dari berbagai alasan yang diberikan tentang menurunnya kepribadian sehat berikut ini adalah penyebab kepribadian sakit:
- meningkatnya stress yang diakibatkan karena kehidupan moderen.
- meningkatnya penggunaan yang serba otomatis yang menghalangi perasaan pripadi dan harga diri.
- Kurang disiplin dan lemahnya kekuatan hukum yang menghilangkan perasaan aman.
- Meningkatnya tekanan untuk mencapai keberhasilan.
- Meningkatnya tekanan untuk mencapai popularitas dan untuk diterima pada lingkungan sosial.
- Meningkatnya keinginan untuk maju yang berarti mobilitas sosial dengan akibat yang merusak rasa aman dan rasa memiliki.
- Perubahan sosial yang cepat yang berarti diduakan tentangkan peran seseorang yang diharapkan dimainkan terutama peranan pria dan wanita.
- munculnya orang tua yang karena sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap mereka sering mengembangkan kepribadian yang sakit.
- Gangguan dalam pola kehidupan keluarga dimana dimasa lampau dapat memberikan rasa aman bagi semua anggota keluarga.
- Gangguan kepercayaan agama dimana sebelumnya merupakan sumber pedoman penting bagi keamanan pribadi.
-Meningkatnya kriminal pola perilaku antisosial pada massmedia.
MENGENAL KEPRIBADIAN-KEPRIBADIAN SEHAT
Seperti kepribadian sehat dapat diketahui dengan sukses hanya dengan pelatihan begitu juga untuk mengetahui kepribadian yang sehat. Hanya dari perilaku eksternal saja tidak dapat memberikan kita semuanya tentang kepribadian sehat. Dari pelatihan dan perilaku eksternal seseorang belum dapat dijadikan patoan untuk mengenal kepribadian sehat karena kita harus dipikirkan kembali apakah seseorang tersebut mendapatkan kepuasan dari perannya dalam kehidupan dan apakah perilakunya dapat memberikan kepuasan kepada orang lain?
Penilaian baik pada kepribadian sehat atau sakit dapat dibuat oleh ahli ilmu kepribadian dengan standar yang didasarkan pada penelitian pada orang-orang yang dianggap berkepribadian baik atau berkepribadian buruk untuk menentukan apa ciri-ciri-ciri mereka. Ciri-ciri tersebut kemudian digunakan sebagai norma/ukuran yang digunakan untuk mengevaluasi. Tes-tes, pengamatan perilaku , laporan pribadi orang tersebut dan teknik-teknik diagnostik lainnya digunakan untuk melihat bagaimana orang tersebut membandingkan dengan norma apakah dia melakukan perilaku yang sesuai.
Satu point untuk menekankan norma untuk menilai kepribadian sehat bahwa norma itu didasarkan pada ciri-ciri yang dikenal dan dinilai tidak hanya oleh orang awam sendiri tetapi juga para ahli kepribadian yang telah melakukan penelitian yang memberikan wawasan tentang apa terdapat pada kesehatan mental yang baik dan buruk.
Seperti yang telah dilakukan oleh Maslow in Hurlock (1979: 425) dalam penelitiannya terhadap orang-orang yang dapat menyesuaiakan diri baik personal dan sosial yang baik, dapat diketahui bahwa sifat-sifat atau karakter orang orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik secara umum dan bukan pada satu orang secara khusus. Inilah yang memberikan dasar untuk memformulasikan konsep kepribadian sehat secara eksplisit dan konsep detail kepribadian sehat.
CIRI-CIRI KEPRIBADIAN SEHAT
Dari hasil-hasil penelitian dapat diketahui secara umum tentang ciri-ciri kepribadian sehat yaitu: penghargaan diri yang realistis, pengharapan situasi yang realistik, evaluasi realistik keberhasilan, penerimaan tanggung jawab, otonomi, control emosi yang dapat diterima, orientasi tujuan, orientasi luar, penerimaan sosial, arah filsafat hidup, dan kebahagiaan.
Pengharagaan diri dengan realistis
Orang yang dapat menyesuaikan diri melihat dirinya sendiri seperti apa adanya dia bukan seperti dia yang akan datang. Kesenjangan antara kenyataan dan konsep diri yang ideal begitu besar dialami oleh orang yang berkepribadian sakit. Karena orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat mengharagai dirinya sendiri, kemampuannya, dan keberhasilannya secara realistis, dia tidak perlu menggunakan mekanisme pembelaan untuk mencoba meyakinkan diri sendiri dan orang lain apabila dia menghadapi kegagalan diluar harapannya atau dengan menyalahkan orang lain serta kondisi lingkungan yang tidak dapat dikontrolnya. Tidak juga dia menggunakan pembunuh sakit jiwanya karena stress dan cemas yang dia derita ketika mendapat kegagalan diluar harapannya. Namun tidak berarti bahwa dia menyerah dengan apa yang terjadi tapi dia lebih bersikap realistis. Orang yang realistis tidak akan menyalahkan diri sendiri atau orang lain atau membuktikan bahwa dia benar tapi dia akan menerima kritik dan mencoba memperbaiki kualitas yang orang lain nilai tidak benar atau tidak menyenangkan. Dia siap dan mau berubah. Dengan begitu dia lebih mudah untuk menerima dirinya dan bahagia dengan dirinya dan memandang dirinya berharga meskipun tidak sempurna.
Penghargaan situasi dengan realistis
Orang yang beradaptasi dengan baik tidak mengharapkan kesempurnaan dan tidak mengharapkan situasi yang sempurna pula. Dia menghadapi situasi dengan sikap realistis, menerima keburukan dengan kebaikan. Hal ini tidak berarti bahwa dia merasa kalah atau menyalahkan orang lain ketika situasinya tidak disukainya. Namun dia mau melakukan apa yang bisa dilakukannya untuk membuat situasi tersebut dapat disukainya. Orang seperti ini mempunyai pendekatan yang konstruktif dalam hidup. Dalam menghargai situasi dengan realistis, orang tersebut menyadari bahwa tak seorangpun dapat menjadi sebuah hukum untuk dirinya dan dapat melakukan apa saja yang dia inginkan ketika dia menginginkannya. Dia menyadari bahwa pasti ada aturan bagi perilaku yang melindungi hak orang lain dan hak dirinya dan dia mau mengikutinya walaupun kadang kala tidak disukainya. Dia juga menyadari bahwa sukses tidak dapat dicapai dengan mudah namun melalui kerja keras, perjuangan dan setelah itu baru akan didapat kesenangan setelah berjuang dalam waktu yang lama.
Orang yang dapat menghargai situasi dengan realistis menyadari bahwa kadang-kadang situasi adalah situasi kerja dan kadang-kadang menjadi situasi bermain. Dia akan tahu kapan bekerja dan kapan bermain. Selanjutnya orang tersebut juga menyadari bahwa jika dia mengahadapi hambatan dari lingkungannya karena diluar kontrolnya, dia akan hanya menjumpai kekalahan jika dia terus melawanya. Karena dalam kondisi yang demikian pendekatan realistis dalam situasi seperti itu bukan dengan komplain atau mengembangkannya menjadi lebih kompleks tetapi mencoba mengubah situasi sehingga hambatan tersebut akan dipecahkan.
Mengevaluasi Keberhasilan dengan realistis
Orang dengan penyesuaian diri yang baik dapat mengevaluasi keberhasilannya dengan realistis dan berreaksi dengan cara yang rasional. Sebaliknya orang dengan penyesuaian diri yang rendah akan menganggap keberhasilannya sebagai kemenangan pribadi dan menunjukan kepada orang lain akan kehebatannya dengan mengekspresikan kesombongan dan memberikan komentar ejekan kepada orang lain yang kurang berhasil.
Bagi orang yang berkepribadian sehat menilai tugas yang telah dia lakukan baik sukses maupun gagal adalah berdasarkan penilaian orang lain serta mencoba untuk menemukan apakah keberhasilannya karena kurang adanya persaingan yang membuat keberhasilan itu lebih mudah dari pada sesungguhnya, apakah dia telah mempunyai pengatuan yang cukup untuk meraih keberhasilan tersebut atau karena dia telah bekerja keras.
Hal yang sama jika dia mendapatkan kegagalan dalam tugasnya. Dia akan mengevaluasi dengan realistis. Apakah kegagalannya karena ia telah bersaing dengan orang yang memang jauh lebih baik dari kemampuannya, dan dia menyadari bahwa apakah dia telah bekerja keras dan jika belum apakah kekurangan usaha tersebut dikarenakan kemalasan, takut gagal atau sebab-sebab lainnya. Selanjutnya dia akan membuat aspirasi baru yang lebih realistis dimasa mendatang.
Menerima Kenyataan
Salah satu dari orang dengan kepribadian sehat adalah kemauannya menerima realitas dan tidak menghindarinya. Mungkin dia tidak menyukai sesuatu tapi dia akan cukup realistis untuk mengubah sehingga dia akan menyukainya.
Dalam banyak fakta, menerima dengan realistis adalah sangat penting bagi kepribadian sehat. Orang harus belajar menerima keterbatasannya baik fisik maupun mental, jika dia tidak dapat mengubah fakta yang dia terima, dengan melakukan apa yang dia bisa dengan apa yang dia punya. Dia juga akan berkompensasi dengan keterbatasan tersebut dengan memperbaiki keterbatasan tersebut sehingga menjadi paling kuat.
Setiap kelompok budaya meminta orang untuk memegang peran dan memainkan sesuai dengan harapan mereka. Misalnya peran wanita dan pria sudah tetap karena jenis kelamin tidak dapat diubah.
Orang yang menerima kenyataan dengan realistis akan menganggap bahwa hidup ini sulit. Oleh karena itu dia menyadari bahwa keberhasilan akan didapat melalui kegagalan dan kekecewaan seperti yang diungkapkan oleh Laowton in Hurlock (1979: 427) bahwa hidup adalah perjuangan yang tanpa akhir dan berjuang meraih keberhasilan merupakan kekuatan dan penilaian yang terbaik.
Bagi orang dengan kepribadian sehat, mereka tidak mencoba lari dari kenyataan walaupun situasi atau kondisi tersebut sangat tidak menyenangkan, mereka akan menerima kenyataan tersebut dan diambil pengalamannya (hikmahnya).
Penerimaan Tanggungjawab
The “let John do it” (biar saja John yang mengerjakannya) adalah pernyataan orang dengan penyesuaian diri yang buruk. Mereka adalah orang yang malas menerima tanggungjawab atau merasa tidak mampu melakukan pekerjaan itu. Sebaliknya orang dengan penyesuaian diri yang baik adalah orang yang bertanggungjawab. Dia merasa percaya diri akan kemampuannya untuk mengatasi kehidupan dengan permasalahannya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Oang dengan penyesuaian diri baik akan menolak menerima tanggungjawab jika dia tidak siap melaksanakannya dengan sukses. Dia tahu bahwa dengan melakukan begitu dia tidak akan mendapatkan restu sosial untuk kegagalannya tetapi akan mengurangi kepercayaan dirinya yang akan membawa dia ragu-ragu menerima tangungjawab-tanggungjawab dimasa mendatang. Dia menerima tantangan kemampuannya tetapi terlalu tinggi untuk kemampuannya.
Orang yang menyesuaikan diri dengan baik menerima tanggungjawab dengan banyak pertimbangan. Dia menerima tanggungjawab untuk diri sendiri dan untuk perilakunya. Jika sesuatunya terjadi kesalahan dan jika dia dikritik, dia menerimanya dan mau mengakui kesalahan yang dibuatnya, mencoba memperbaikinya.
Otonomi
Orang dengan penyesuaian yang baik tidak saja bertanggungjawab tetapi juga mandiri. Barret-Lenaard (5) mengatakan bahwa orang tersebut mempercayai dan menggantungkan kemampuannya untuk mengatur dan menafsirkan data pengalamannya. Dia mengarahkan dengan bebas urusannya. Oleh karena itu orang tersebut menghargai dirinya sebagai individu yang telah memilih pola kehidupannya untuk menemukan kebutuhannya dan mau menghormati orang lain walaupun dia tidak menyetujui mereka. Orang dengan penyesuaian yang baik menunjukkan kemandiriannya dengan beberapa cara. Dalam membuat keputusan, dia dapat membuat keputusan penting dengan sedikit konflik, kecemasan, atau sedikit nasihat.
Orang dengan penyesuaian yang baik tidak tergantung pada orang lain. Dia menurut Brower (18) adalah orang yang mempunyai motivasi diri sendiri.
Orang dengan penyesuaian yang baik menyesuaikan diri dengna adat istiadat sehingga tidak mau mengubah ide, minat, aktivitas yang sudah menjadi ketentuan adat.
Kontrol Emosi
Setiap orang diharapkan dapat mengontrol emosi sehingga tidak akan melukai orang lain atau dirinya sendiri. Orang dengan penyesuaian diri yang baik dapat hidup dengan nyaman karena emosinya. Hal ini terjadi karena mereka telah mengembangkan tingkat toleransi stress, toleransi kecemasan, toleransi depresi, toleransi sakit hati dan toleransi kekurangan. Dalam mendiskripsikan tentang perilaku emosional bagi orang dengan penyesuaian yang baik, Lawton (79) menyatakan bahwa: mereka dapat menunujukan kemarahan secara langsung ketika terluka dan bertindak sesuai dengan jenis dan jumlah terlukanya. Mereka dapat menunjukkan kasih sayang secara langsung dan memberikan bukti cintanya dengan perilaku yang sesuai dengan jumlah dan jenis kasih sayang tersebut. Mereka dapat menahan sakit terutama sakit emosi dan frustrasi kapan saja jika hal itu bukan merupakan kekuatannya untuk mengubah penyebabnya.
Orientasi Tujuan
Sebagaian besar orang mempunyai tujuan untuk dicapai. Namun ada perbedaan vagi orang dengan penyesuaian yang baik dan buruk. Pertama bagi orang dengan penyesuaian baik akan membuat tujuan yang realistis sedangkan orang dengan penyesuaian yang buruk akan membuat tujuan yang tidak realistis. Ketika orang dengan penyesuaian yang baik menemukan bahwa tujuan yang dibuat tidak realistis mereka akan mau menurunkan tujuan tersebut menjadi ke tingkat yang lebih realistis. Perbedaan utama kedua adalah orang dengan penyesuaian baik akan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan dalam mencapai tujuan bahkan jika mereka menemui kemunduran mereka tidak akan frustrasi. Mereka akan memperbaiki ketrampilan dan pengetahuannya atau menurunkan tujuan menjadi lebih realistis. Sebaliknya orang dengan penyesuaian buruk tidak menggunakan waktu dan usaha dan potensi dasar mereka tetapi mereka akan meminta bantuan dari orang lain atau berfantasi.
Bagi orang dengan penyesuaian yang baik, tujuan dibuat oleh dirinya dan tidak membebankan dirinya dan orang lain sehingga mereka mempunyai motivasi yang baik untuk melakukan semua yang dia bisa untuk mencapai tujuan tersebut.
Orientasi Luar
Orang dengan penyesuaian baik berorientasi keluar atau dapat disebut “extrovert” sedangkan mereka dengan penyesuian buruk berorientasi kedalam atau pada diri sendiri atau disebut “introvert”. Hampir semua anak-anak adalah berorientasi pada diri sendiri karena mereka tidak berdaya dan bergantung pada orang lain untuk melakukan sesuatunya untuk dirinya. Namun setelah mereka mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mereka akan mulai mandiri terutama anak laki-laki akan menjadi lebih extrovert daripada anak perempuan. Bagi mereka yang berorientasi keluar mereka menunjukkan ketertarikan pada orang, situasi, dan benda-benda. Mereka mendapatkan kepuasan lebih banyak datang dari kehidupan sosial yang dinyatakan dalam berbagai cara seperti tidak mementingkan diri sendiri tentang waktu, usaha, dan harta. Mereka mau merespon kebutuhan orang lain sesuai yang mereka mampu. Kemampuan berempati dengan orang lain, mengerti dan bersimpati pada orang lain dalam kebahagiaan dan kesedihan tanpa merasa cemburu akan kesuksesan orang lain atau mengejek kegagalan orang lain. Sedangkan bagi orang dengan penyesuaian buruk menunujukan ketertarikan terhadap situasi, orang maupun benda dilihat pada diri sendiri. Beberapa indikasi orang dengan orientasi keluar adalah di simpulkan oleh Barret-Lennard (5) yaitu:
Dia sungguh-sungguh menghargai dan menilai orang lain seperti yang dia lakukan terhadap dirinya sendiri. Dia senang dan terbuka kepada orang lain karena dia merasa senang dan terbuka pada dirinya sendiri. Dia tidak menyembunyikan perasaannya karena memang tidak ada yang perlu disembunyikan. Dia tidak mengunah dirinya untuk menyenangkan orang lain atau tidak menggunakan orang lain sebagai kamping hitam ketidakpuasan dirinya.
Dukungan Sosial
Orang dengan kepribadian sakit jauh dari rasa menyenangkan jika dibandingkan dengan orang berkepribadian buruk karena biasanya mereka lebih populer, lebih bahagia, dan lebih merasa puas dalam hidup. Mereka biasanya dinilai oleh orang lain positif baik konsep dirinya maupun partisipasinya dalam kehidupan sosial yaitu tantangan, tuntutan, dan harapan.
Filsafat sebagai arah Hidup
Sebagaimana telah dibicarakan bahwa Orang dengan penyesuaian yang baik berorientasi pada tujuan hidup dan begitu juga mereka mengarahkan kehidupan mereka dengan filsafat yang membantu mereka memformulasikan rencana untuk mencapai tujuan mereka dalam cara yang sesuai secara sosial. Filsafat hidup tersebut mungkin berdasarkan kepercayaan agama, apa yang mereka yakini benar, atau berdasarkan pengalaman pribadi.
Orang dengan penyesuaian buruk melakukan apa yang dia inginkan tanpa mempertimbangkan orang lain atau dia melakukan apa yang orang lain minta bahkan jika dia tahu bahwa hal tersebut salah oleh norma sosial. Sebaliknya orang dengan penyesuaian baik mempunyai moral berdasarkan pada jumlah yang terbesar adalah untuk kebaikan. Filosofi hidup mereka dipengaruhi oleh kepercayaan agama. Sebaliknya orang dengan penyesuaian buruk cenderung menolak semua agama dan menyatakan bahwa menjadi atheis atau mereka berpegang teguh pada keyakinan ortodoks yang lebih menekankan pada praktek agama dari pada kepercayaan agama. Bagi mereka agama merupakan penyokong atau mekanisme melarikan diri dari perasaan ketidak amanan dan ketidak bahagiaan.
Kebahagiaan
Salah satu dari sifat terpuji orang dengan penyesuaian baik adalah bahagia. Artinya kebahagian lebih banyak dialami mereka daripada kesedihan. Sebaliknya orang dengan penyesuaian buruk mengalami ketidakbahagian lebih besar dari kebahagiaan.
Kondisi-Kondisi yang mendukung Kebahagiaan
Ada tiga kondisi yang mendukung kebahagiaan bagi orang dengan penyesuaian baik yaitu Keberhasilan, Penerimaan, dan Kasih sayang (Achievement, Dukungan, Affection).
KEBERHASILAN
Banyak orang percaya bahwa orang merasa bahagia bila dia tidak mempunyai beban tanggungjawab. Namun hal ini tidak seluruhnya benar. Anak yang tidak diberi tanggungjawab akanmerasa bosan dan tidak bahagia, mereka menderita perasaaan ketidak mampuan dan rendah diri karena tidak mempunyai pekerjaan yang dapat dibanggakan atau dipuji. Bagi orang tua akan merasa tidak bahagia ketika mereka sudah pensiun atau ketika anak-anak mereka sudah dewasa meninggalkan rumah.
Sebaliknya kebahagiaan membawa kepada perasaan kepuasan dan bangga. Jika keberhasilannya diketahui oleh orang lain, kebahagiaan dan kepuasaan personal lebih besar.
Ada tiga faktor mempengaruhi banyaknya kepuasaan yang didapat adari kebahagiaan. Pertama semakin sekat keberhasilan dengan harapannya semakin besar kepuasannya. Jika harapannya tidak realistis, kesempatan mendapatkan keberhasilan sesuai harapannya menjadi begitu kecil sehingga ketidakpuasan pasti terjadi.
Kedua, kepuasan akan lebih besar jika keberhasilan tersebut sesuai bidang yang diminatinya. Karena apa yang dinilai oleh seseorang ditentukan oleh gengsi diantara anggota kelompok sosial, maka faktor ketiga tentang banyaknya kepuasan tergantung pada bagaiman anggota masyarakat menilai keberhasilannya. Misalnya Jika seorang ibu memuji keberhasilan anaknya maka keberhasilan anak tersebut akan memberikan kepuasan yang besar. Ketika anak dewasa, sikap orang –orang diluar rumah akan mempengaruhi kepuasannya dengan keberhasilan yang dicapainya.
DUKUNGAN
Semakin populer seseorang semakin lebih beralasan baginya untuk merasa puas pada dirinya dan dan pada akhirnya merasa bahagia. Dukungan sosial memainkan peran penting untuk menentukan tingkat kebahagiaan.
AFFECTION
Ada keyakinan bahwa orang-orang yang mendapat sedikit kasih asayang adalah orang-orang dengan penyesuaian buruk. Seorang anak dengan keterbatasan fisik yakin bahwa dia tidak dicintai. Hal ini mempengaruhi kepribadiannya.
Popularitas dan kasih sayang tidak harus ada bersama-sama. Misalnya seseorang yang banyak teman karena wibawa orang tuanya yang banyak uang sehingga mampu menjamu teman-temannya sebagai simbol status yang dapat meningkatkan kecemburuan teman lainnya dan tidak ada jaminan dia disukai orang lain. Orang-orang akan menyukai dia untuk apa yang dia bisa kerjakan pada mereka bukan untuk dirinya sebagai pribadi.
Seorang pemimpin hanya dikagumi dan dihormati tapi tidak dicintai karena mereka biasanya sebagai orang yang dingin, menjaga jarak yang tidak membuat orang lain mau menunjukkan kehangatan emosional terhadapnya.
Variasi-variasi dalam kondisi yang mendukung kebahagiaan
Tiga kondisi kebahagiaan yaitu keberhasilan, dukungan dan kasih sayang tidak bisa terjadi salah satunya saja untuk mendapatkan kebahagiaan namun harus ketiganya. Orang yang populer akan tidak bahagia bila dia tidak menerima kasih sayang dari orang-orang yang penting baginya; tidak bahagia jika dia sukses tapi tidak dicintai; orang dengan keberhasilan ekonomi tapi tidak bahagia jika tidak didukung dan dicintai atas segala jerih payah yang telah diraihnya.
Secara relatif sedikit orang-orang mendapatkan ketiga kondisi tersebut diatas. Hal ini terjadi karena banyak orang mempunyai harapan yang tidak realistis. Mereka ingin mendapatkan lebih dari yang dia mampu atau keinginan untuk bekerja untuk mendapatkan apa yang dinginkan.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa salah satu dari inti kebahagian mereka adalah kepuasan akan kebutuhannya. Jika seseorang mempunyai kebutuhan untuk dicintai/dikencani, misalnya, namun harus menunggu untuk mendapatkan seseorang yang mencintai dan bahkan melamarnyapun tidak akan membawa kebahagiaaan. Sebaliknya jika dia mendapatkan kencan dimana pada saat itu dia memang membutuhkannya maka maka dia akan bahagia. Sama halnya jika seseorang dengan motivasi ingin sukses tapi keberhasilannya tersebut didapat setelah dia berusia tua maka dia akan tidak merasa terlalu bahagia. Wilson (134) dalam penelitiannya menyimpulkan:
Orang yang bahagia adalah orang muda yang sehat, berpendidikan, berpenghasilan baik, ekstrovert, optimis, tidak pencemas, beragama, menikah dengan orang dapat membahagiakan dirinya, bermoral baik, mempunyai aspirasi sederhana dan cerdas.
SYNDROME KEPRIBADIAN SEHAT
Bain (3) menyimpulkan suatu syndrome kepribadian sehat sebagai berikut:
Dia berpikir, bertindak, dan berperasaan sesuai dengan apa yang dia masyrakat harapkan….. Dia puas dan didorong oleh kehidupan yang dia jalani. Dia mempunyai kebiasaan berbahagia dan kebiasaan membuat dan memutuskan kebiasaan dengan effektif. Dia tidak terlalu takut dengan masa depan dan yang terjadi dimasa lalu…… Dia tidak mempunyai perasaan berdosa tetapi dia mendapatkan keuntungan dari pengalaman. Dia mempunyai rasa humor yang bisa membuat orang lain tertawa bukan mentertawakan orang lain. Dia tahu keterbatasan kemampuannya dan berpetindak sesuai dengan keterbatasannya. Dia memberikan penilaian yang adil dan tepat pada orang lain dan juga orang lain melakukan penilaian yang sama terhadapnya. Dia menetapkan tujuan dan idealnya secara konsistent dengan pengetahuannya dan dia adalah orang yang terbuka untuk segala kemungkinan. Dia menghargai dirinya sendiri karena dia menghargai orang lain… Dia ingin kesempatan untuk merealisasikan potensi dirinya selagi tidak menghalangi orang lain.
PENYEBAB-PENYEBAB KEPRIBADIAN SEHAT
Tak seorangpun dilahirkan kepribadian sakit atau sehat. Jenis pola kepribadian yang seseorang kembangkan tergantung pada pengalaman kehidupannya. Jika pengalaman ini menyenangkan, kepribadiannya akan sehat. Jika pengalamannya tidak menyenangkan, kesempatan baginya untuk mengembangkan kepribadian sakit.
Kepribadian sehat, seperti kepribadian sakit, akibat dari penyebab fisik maupun jiwa namun jiwa berpengaruh lebih besar daripada fisik.
Penyebab Fisik
Pikiran yang sehat biasanya ditemukan pada tubuh yang sehat. Seseorang dengan kesehatan yang baik, mempunyai tubuh dalam kondisi fit, dan hanya mengalami penyakit yang kecil saja lebih mempunyai sikap sehat terhadap diri sendiri dan terhadap kehidupan secara umum daripada orang yang menderita penyakit kronis, keluarga tidak harmonis atau kondisi-kondisi yang jiwa lainnya atau menderita penyakit keras walaupun hanya sementara. Karena setiap orang mempunyai kelemahan fisik walaupun hanya kecil, maka setiap orang mempunyai potensi untuk berkembangnya kepribadian yang tidak sehat pada kehidupan terutama pada diri sendiri dan yang pasti akan terjadi ketika usia tua karena kelemahan fisiknya.
Penyebab Psikhologis
Faktor jiwa yang merupakan faktor utama yang berkontribusi pada kepribadian sehat yaitu dukungan diri. Orang dapat menerima dirinya jika stress, kecemasan, frustrasi dan emosi lainnya yang menyebabkan penilaian konsep diri minim/kecil. Jika konsep dirinya positif , dia akan menerima dirinya sebab dia akan menyukai dirinya. Jika konsep dirinya tidak menyenangkan, dia akan menolak dirinya atau menerima dirinya hanya sebagian. Karena dukungan/penerimaan diri begitu penting bagi kepribadian sehat, kondisi-kondisi penyebab penerimaan diri dan bagaimana penerimaan diri mempengaruhi kepribadian sehat akan dibahas berikut ini.
DUKUNGAN DIRI
Dukungan diri adalah tingkat suatu individu menyadari sifat-sifat dirinya dalam kehidupannya. Jersild (71) mengatakan bahwa:
Orang yang menerima dirinya mempunyai pengharagaan kemampuan dirinya yang realistis dikombinasikan dengan apresiasi nilai kehormatannya, yakin dengan standar dan aturan tanpa membebankan orang lain, menilai secara realistis keterbatasannya, serta menyadari kelemahannya tanpa menyalahkan orang lain.
Kondisi-kondisi menyenangkan bagi dukungan diri
Banyak kondisi yang menentukan berapa besar seseorang menyukai dirinya seperti: pengertian diri, harapan realistis, tidak menghambat lingkungannya, sikap sosial yang baik, tidak menderita stress yang parah, keberhasilan sesuai harapan, mengenal orang dengan penyesuaian baik, prespektif diri, pembinaan masa kanak yang baik dan konsep diri yang stabil.
Pengertian pada diri sendiri
Seseorang akan mengerti tentang dirinya akan tergantung tidak pada kemampuan intelektualnya saja tetapi juga pada kesempatannya menemukan jati diri. Dia harus mempunyai kesempatan untuk mencoba kemampuannya tanpa dihalangi oleh orang lain dan dia harus diizinkan mengadu ketrampilan dan kemampuannya.
Kurangnya pengertian diri mungkin berasal dari kebodohan dan ketidak pedulian, kurangnya kesempatan menemukan dirinya sendiri atau dari keingingan hanya melihat dirinya saja seperti yang dia inginkan. Semakin dia dapat mengerti dirinya maka semakin baik dia mendukung dirinya dan sebaliknya.
Harapan yang realistis.
Ketika harapannya akan keberhasilan realistisnya didapat, dia akan menerima dirinya. Harapan menjadi realistis jika dia membentuknya sesuai dengan dirinya, sesuai dengan keterbatasannya bukan karena pengaruh orang lain. Misalnya tujuan yang ingin dia capai adalah rewlistis tapi dia kurang mempunyai pengetahuan atau ketrampilan untuk mencapai tujuan tersebut maka dia tidak dapat menegmbangkan potensi dirinya.
Tidak Ada hambatan lingkungan
Ketidak mampuan mencapai tujuaan dapat terjadi karena hambatan lingkungan misalnya diskriminasi karena ras, sex, atau agama.
Sikap Sosial yang menyenangkan
Karena sikap dari anggota kelompok sosial membentuk sikap diri seseorang maka seseorang yang mengalami sikap sosial yang menyenangkan dapat menerima dirinya. Ada tiga kondisi yang mengevaluasi sikap sosial yang menyenangkan yaitu tidak ada prasangka, memiliki ketrampilan sosial dan mau menerima perilaku, penampilan, pembicaraan berdasarkan nilai-nilai norma dan moral kelompok masyarakatnya.
Tidak ada stress emosi yang parah
Tidak adanya stress membuat kemungkinan bagi seseorang melakukan yang terbaik dan menjadi orang berorientasi keluar bukan sebagi orang berorientasi pada diri sendiri.
Banyaknya keberhasilan
Banyaknya kegagalan akan membuat seseorang menolak dirinya sedang banyaknya keberhasilan akan membawa seseorang mendukung dirinya.
Pengenalan Orang Baik
Orang yang mengetahui tentang orang baik akan mempengaruhi sikap postifnya. Oleh karena itu keteladanan orang tua di rumah sangat berpengaruh pada kepribadian anak karena pada anak-anak merupakan pembentukan karakter.
Prespektif diri
Seseorang yang dapat melihat diri sendiri layaknya orang melihat dirinya mempunyai pengertian diri yang lebih besar daripada seseorang yang mempunyai perspektif diri cenderung sempit dan menyimpang.
Pembinaan Masa kanak-kanak yang baik
Meskipun jenis penyesuaian yang seseorang buat mungkin berubah seiring dengan kemajuan kehidupannya, inti konsep diri yang menentukan penyesuaian kehidupan dirinya terletak pada masa kanak-kanak. Misalnya pembinaan demokrasi dalam keluarga akan menjadikan anak menjadi seorang yang menghargai dirinya karena didalam pembinaan demokrasi dalam keluarga anak dihargai sebagai manusia dan belajar menghargai orang lain.
Konsep diri yang stabil
Orang dengan konsep diri yang stabil memandang dirinya dengan cara yang sama setiap saat. Jika seseorang mengembangkan kebiasaan dukungan diri, dia harus melihat dirinya sendiri dalam cahaya yang menyenangkan yang dapat menguatkan konsep diri sehingga dukungan diri akan menjadi kebiasaan.
Pengaruh Penerimaan Diri
Semakin seseorang menerima dirinya, semakin baik penyesuaian diri dan sosialnya. Seseorang yang membuat penyesuaian diri akan bahagia dan sukses, populer, menikmati kontak sosial, dan akan mempunyai kehidupan yang penuh dengan kekayaan. Pentingnya penerimaan diiri dalam remaja di jelaskan oleh Jersild sebagai berikut:
Remaja yang secara realistis menerima dirinya mempunyai harta yang berharga. Dalam dunianya, menghargai apa yang dia punyai walaupun dengan hasil yang kecil adalah lebih kaya daripada orang yang mendapat keberkahan banyak tetapi menyesalkan dirinya sendiri. Hal seperiti berlaku juga pada setiap usia.
Pengaruh Penyesuaian diri
Orang yang menerima dirinya tidak berpikir bahwa dirinya sebagai seorang yang baik dan sempurna tapi dia dapat mengenal kebaikan dan kejelekannya. Dia akan memikirkan kebaikannya sebelum memikirkan keburukannya dan lebih memberikan penekanan pada kebaikan daripada keburukan. Kita semua harus hidup dengan diri kita 24 jam sehari dan karena itu kita harus memikirkan banyak tentang diri kita sendiri paling tidak cukup memberikan kepercayaan pada ego kita untuk memperbaiki diri kita. Sebagai akibat akan memikirkan banyak akan diri sendiri, orang yang penerima diri sendiri mempunyai kepercayaan diri dan penghargaan diri, mau menerima kritik dan mengambil hikmahnya yang akan dapat memperbaiki kesalahan dan kelemahannya.
Jersild telah menyimpulkan pengaruh penerimaan diri pada penyesuian diri pada remaja:
Sifat-sifat utama remaja yang menerima dirinya adalah spontanitas dan tanggungjawab diri. Mereka menerima kualitas kemanusiaan mereka tanpa menyalahkan diri mereka sendiri untuk kondisi yang tidak terkontrol. Mereka tidak memandang diri mereka sebagai orang-orang yang akan marah karena ketidak berhasilan dalam mendapatkan yang diinginkan tetapi mereka merasa mempunyai hak untk mengungkapkan ide-ide, aspirasi dan keinginan mereka dan tidak menyesalkan dirinya tidak mendapatkan kepuasan hidupnya.
Pengaruh Penyesuaian sosial
Orang dengan penyesuaian baik membuat penyesuaian sosial lebih baik dari orang yang berorientasi pada dirinya karena merasa ketidak cukupan atau rendah diri. Orang yang menerima dirinya adalah orang yang toleran pada orang lainmelupakan kelemahan mereka dan keburukan mereka. Toleransi kepada orang lain sering bersamaan dengan menolong orang lain. Karena orang yang menerima dirinya bukan orang yang berorientasi pada diri sendiri dan tidak menyalahkan orang lain atas kesalahan mereka, dia mau membantu orang-orang yang perlu bantuannya. Seperti yang dikatakan oleh Barandt (15) bahwa mereka bebas menjadi diri mereka sendiri, menyadari potensi diri mereka dan membantu orang lain menyadari diri mereka sendiri. Secara umum semakin orang menerima dirinya semakin dia diterima orang lain. Namun harus diingat bahwa banyak faktor lain masuk dalam penerimaan sosial.
USIA PERKIRAAN UNTUK KEPRIBADIAN SEHAT
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa salah satu faktor prinsip yang mempengaruhi pola kepribadian sehat adalah sikap sosial yang berlaku terhadap orang dari kelompok usia tertentu. Dalam menentukan usia kapan dapat dikatakan kepribadian menjadi sehat adalah pada tingkat pengertian diri sendiri yang dia punya. Pengertian diri tidak dapat diharapkan berkembang baik hingga sseseorang mendekati usia remaja. Pada usia remaja sebagian besar anak laki-laki dan perempuan menjadi kritis pada dirinya dan memuja dirinya. Mereka mengerti dirinya dimana mereka dapat melihat diri mereka seperti apa adanya bukan seperti cita-cita mereka atau seperti mereka dalam pandangan keluarga mereka.
ALAT UNTUK MENCAPAI KEPRIBADIAN SEHAT
Karena kepribadian sehat bukanlah didapat dari keturunan tetapi berkembang melalui belajar dan pengalaman hidup, hampir semua orang bisa mendapatkan kepribadian sehat. Jadi sesuatu yang orang harus peroleh untuk dirinya. Untuk mendaptkan itu menghendaki motivasi bagaimana mengetahui caranya.
Alat untuk penerimaan diri
Tentang bagaimana mencapai kepribadian yang sehat telah bayak disarankan dalam bab-bab sebelumnya. Tujuan utama dari semua saran-saran yang diberikan adalah menunjukan kepada seseorang kesenjangan antara kenyataan dengan konsep diri yang ideal yang penting bagi penerimaan diri. Saran-saran berikut ini diberikan kepada orang agar dapat dikembangkan penerimaan diri walaupun tidak dapat diurutkan yang mana lebih penting dan kurang penting karena semuanya penting tergantung pada usia, sex, status sosial ekonomi dan kondisi lainnya dari orang tersebut.
• Yakinkan bahwa fondasi konsep diri yang sehat telah dibentuk dan bahwa pada awal pengalaman memperkuat konsep diri dan yakinkan juga bahwa konsep diri tersebut telah menjadi kebiasaan dalam hidup.
• Yakinkan bahwa dia tidak akan berkembang kepribadian yang tidak diinginkan dan tidak akan berubah kepribadiannya untuk menjadi yang lebih baik tanpa usahanya.
• Sadari permulaan gangguan kepribadian seperti menyalahkan orang lain atau menimbun khayalan dunia ketika segala sesuatunya menjadi salah.
• Jika gangguan kepribadian tidak dapat sembuh walaupun sudah diberikan treatment maka ganti lingkungan tempat kita berada.
• Bantu orang untuk memperoleh kepribadian sehat dalam keterbatasannya.
• Bantu orang memperbaiki kerusakan fisik seperti kegemukan yang dapat mempengaruhi penilaian sosial dengan menyamarkan kegemukannya.
• Yakinkan bawa kebutuhan penting seseorang seperti keberhasilan, penerimaan diri, kasih sayang yang sesuia dengan tingkat perkembangan dan usia.
• Selama tahun-tahun awal pembentukan hidup, adil, kuat, konsisten, cinta disiplin diperhatikan.
• Ketika seseorang tersesat dalam perilakunya, berikan petunjuk, bantuan, dukungan untuk kembali kepada perilaku yang benar.
• Sediakan lingkungan yang kaya untuk belajar bagaimana hidup dengan orang dengan sukses.
• Bantu dia meningkatkan wawasan sosialnya sehingga dia akan mengerti orang lain dengan lebih baik dan dapat mengontrol perilakunya dalam suatu cara yang membuat orang lain menerimanya.
• Bimbing dia dalammengembangkan konsep diri yang stabil dengan membantunya menutup kesenjangan antara kenyataan dan konsep diri ideal.
• Yakinkan bahwa konsep diri yang stabil akan juga menyenangkan.
• Hindari memberikan semangat kepada orang sehingga akan menjadikan dia ambisius.
• Bantu dia mengembangkan faktor-faktor sukses seperti ketekunan, kesempurnaan, ketepatan, keingintahuan, keaslian, kepemimpinan, kebanggaan dalam keberhasilan, dan kreativitas dalam pemikirannya.
• Beri contoh penyesuaian diri dan sosial yang baik dan lihat dia mempunyai kontak dengan orang –orang yang mempunyai standar sosial dan ideal untuk mencapai kehidupan.
• Dorong dia untuk menerima dan sepakat terhadap harapan sosial dalam berbeda peran terutama peran pada jenis kelamin yang berbudaya.
• Berikan kesempatan dia untuk meraih sukses terutama sesegera mungkin setelah dia mengalami kegagalan, hindari kegagalan menjadi semakin kompleks.
• Bantu dia meningkatkan pengerian dirinya sehingga dia mempunyai penghargaan lebih baik terhadap kekuatannya dan kelemahannya.
• Bantu dia mengembangkan toleransi stress untuk menghindari membenci diri yang membawa dia kepada penolakan diri.
• Yakinkan bahwa dia mempunyai citra yang menyenangkan dengan menekankan potensi dirinya dan membantunya memperoleh ketrampilan yang diperlukan untuk mengembangkan potensi diri dalam kehidupan nyata bukan dalam dunia khayalan.
• Biarkan dia tahu bahwa orang –orang yang penting dalam hidupnya tetap setia padanya dan mereka percaya padanya dan mengharapkan yang terbaik darinya.
• Yakinkan bahwa dia mengalami kegetaran jiwa dalam mencapai tujuan dan kegiatab yang dia rasa baik, bermakna, dan berharga.
• Dari semua poin diatas, coba untuk menjadikan dia menjadi realistis tentang dirinya dengan membantunya menutup kesenjangan antara kenyataan dan konsep idealnya.
EMOTIONAL DETERMINANTS
Emosi apakah itu hanya sementara or terus menerus akan mewarnai persepsi diri dan lingkungan serta perilaku seseorang. Seseorang yang terbiasa dengan perasaan frustrasi akan lebih mengundang permusuhan dan selalu menurutkan kata hati jika dibandingkan dengan seseorang yang selalu berada dalam perasaan optimis dan percaya diri. Emosi dapat membuat kehidupan menjadi lebih menyenangkan dan dapat meningkatkan pergaulan sosial serta penyesuaian diri. Sebaliknya emosi juga dapat membuat kehidupan menjadi menyakitkan serta dapat menghambat pergaulan sosial. Emosi dapat meberikan pengaruh pada kepribadian baik secara langsung maupun tak langsung. Pengaruh langsung datang dari gangguan fisik dan mental sementara pengaruh tidak langsung datang dari reaksi anggota kelompok sosial terhadap seseorang yang mengalami emosi. Jika emosi tersebut tidak menyenangkan seperti sangat takut, cemburu dan tidak terkontrol maka akan merusak pola kepribadian. Tapi jika menyenangkan dan terkontrol maka akan memberikan pengaruh yang menyenangkan pada pola kepribadian.
Pengaruh Langsung
Secara langsung, emosi mempengaruh fisik dan fungsi mental seperti sikap, keinginan, dan nilai-nilai. Gangguan mental disebabkan oleh emosional yang mengakibatkan menurunnya efesiensi mental. Dibawah tekanan stress, seseorang akan tidak stabil dan tidak dapat dipreiksi dan penampilannya menjadi tidak konsisten terutama ketika beragumentasi. Pengaruh langsung lainnya yang dapat mempengaruhi emosi atau penyesuaian diri adalah yang dapat memberikan warna pada minat, sikap, suka dan tidak suka seseorang. Orang yang selalu menyatakan suka dari pada menyatakan tidak suka adalah orang orang yang mempunyai sikap lebih positif dan sehat serta mampu bersosialisasi lebih baik dari pada orang yang selalu menyatakan tidak suka. Seorang anak yang yang menyayangi ibunya akan selalu mengerjakan apa yang disenagi ibunya.
Pengaruh tidak Langsung
Pengaruh tidak langsung dari emosi terhadap kepribadian datang dari penilaian orang lain pada perilaku emosi kita dan cara mereka memperlakukan kita karena yang dipengaruhi oleh bagaimana kita telah membentuk emosi. Misalnya orang lain akan menilai kita dengan baik jika kita selalu mengkontrol emosi yang negative atau tidak menyenangkan. Jadi kemampuan seseorang untuk membangun emosi yang baik akan dinilai baik oleh orang lain.
Anak-anak mengembangkan emosi mereka dengan orang-orang terdekat mereka seperti orang tua, saudara, teman tetangga, guru, teman sekolah dsb.
Pengaruh Emosi ditinjau secara saintifik
Hipocrates mencoba menjelaskan terjadinya emosi pada 400 sebelum masehi. Ditemukan bahwa emosi terjadi karena ketidak seimbangan salah satu dari lima unsur yang ada didalam tubuh yaitu darah, empedu hitam, empedu kuning, lendir dan syaraf. Misalnya seseorang yang dominan pada empedu hitam akan mempunyai temperamen yang melankoli yaitu mudah sedih, lamban, mudah tertekan, tidak aktif.
Dalam penelitian saintifik modern ditemukan bahwa pengaruh emosi terhadap kepribadian terjadi akibat dari penyesuaian secara fisik terhadap lingkungan. Kuhlen menyatakan bahwa pengaruh emosi karena kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan kehidupan sosialnya terutama yang paling tinggi terjadi pada awal kehidupannya.
EMOSI YANG DOMINAN
Setiap orang akan mengalami apa yang disebut ketidak seimbangan emosi. Orang-orang yang selalu gembira akan mengembangkan kepribadian yang selalu gembira walaupun mereka sedih atau takut tetapi mereka akan menyadari hikmah dari peristiwa yang membuat mereka sedih tersebut.
Temperamen Versus Mood
Temperamen adalah bagian dari kepribadian yang lebih bersifat permanen sedangkan mood lebih bersifat sementara. Namun keduanya dapat saja mempunyai reaksi emosi yang sama. Walaupun demikian temperamen lebih mewarnai karakter seseorang dalam penyesuaian diri sedangkan mood hanya tampil pada saat tertentu.
Penyebab emosi yang dominan
Telah dapat dibuktikan sekarang bahwa penyebab emosi dominan seseorang adalah lingkungan seperti hubungan orang tua dan anak, faktor fisik, faktor kejiwaan.
Misalnya anak yang datang dari keluarga yang kurang harmonis akan mempunyai dominan emosi yang tidak menyenangkan. Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan baik akan mempunyai dominan emosi yang baik pula.
Perubahan dalam emosi dominan.
Karena emosi dominan terjadi karena faktor fisik, kejiwaan dan lingkungan dan bukan karena keturunan maka dominan emosi dapat berubah terutama pada usia muda karena emosi dominan mereka belum menjadi kebiasaan. Secara umum ada tiga macam penyebab perubahan emosi dominan yaitu lingkungan, fisik dan kemampuan intelektual. Seseorang yang menerima perlakuan yang menyenangkan dari orang sekitarnya akan mengubah konsep dirinya dan reaksi emosinya pada orang lain.
Usia tua akan menyebabkan penurunan fisik dan akan mengubah emosi dominan seperti lebih apatis, tidak responsif dan kehilangan rasa antusiasnya.
Pengaruh emosi dominan terhadap kepribadian
Bagaimana seseorang menyesuaikan kehidupannya tergantung sebagian besar pada domina emosi dan bagaimana mengekspresikan emosinya.
Seseorang dengan emosi yang terganggu akan selalu mengekspresikan emosi yang negatif sedangkan seseorang dengan dominan emosi yang menyenangkan akan mengekpresikan kepribadian yang menyenangkan.
Emosi dominan dinyatakan dalam ekspresi wajah dan perilaku seperti senang, bahagia, malu, sedang bermasalah bahkan sering ekspresi wajah dapat memberitahukan cerita tentang dirinya. Emosi dominan dapat mempengaruhi penilaian orang lain terhadapnya dan konsep dirinya.
Keseimbangan emosi
Orang yang berhasil dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya adalah orang yang telah berhasil dalam menghadapi perbedaan bukan orang yang mempunyai pengalaman emosi yang menyenangkan.
Anak-anak yang selalu dilindungi dari hal-hal atau pengaruh negatif sesungguhnya akan membuat mereka frutrasi, kekecewaan, atau kesulitan-kesulitan lainnya ketika mereka dewasa. Stiap anak perlu menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan untuk membangun toleransi, mempelajari bagaimana memecahkan persoalan atau menghadapi persoalan tanpa emosional. Toleransi dapat dicapai hanya ketika seseorang mempelajari bagaimana menghadapi persoalan dengan emosi negatif maupun positif dan dia harus dapat menghadapinya sendiri tanpa bantuan orang tua, guru maupun temannya.
Bentuk-bentuk toleransi emosional
Frustrasi , ketakutan, cemburu atau iri hati adalah empat bentuk emosi yang pernah dialami dan dihadapi dengan penuh toleransi.
Mendapatkan jaminan kesehatan mental
Kesehatan mental didapat melalui situasi yang menyenangkan dan kurang menyenangkan. Anak dididik bahwa tidak semua yang dia harapkan akan menjadi kenyataan.
KEHILANGAN EMOSI
Kehilangan kasih sayang adalah sangat berbahaya bagi perkembangan kepribadian. Banyak orang kehilangan kasih sayang setelah terjadi perceraian. Hal ini akan merdampak bagi konsep diri sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Kehilangan emosi yang menyenangkan seperti rasa ingin tahu, kebahagiaan, aspirasi dan keberhasilan berdampak pada kepribadian seperti sakit hati, pembantah, apatis dsb. Lebih khusus lagi dampak kehilangan emosi adalah pada fisik seperti kehilangan nafsu makan, kurus, pendiam, apatis, lesu tanpa gairah. Dampak pada penyesuaian sosial seperti kurang responsif, kurang mampu bekerjasama, kurang dapat bergaul, permusuhan. Dampak pada emosi misalnya merasa kurang aman, perilaku yang asosial, cemas, pemarah, kurang berempati, dsb. Variasi variasi lain kehilangan emosi pada kepribadian seperti mencari perhatian, bersikap dingin pada hal-hal yang sebenarnya menarik, agresif.
Kasih Sayang yang berlebihan
Terlalu banyak memberikan kasih sayang pada anak-anak menyebabkan pemberian yang berlebih-lebihan pada perlindungan, pengasuhan yang menyebabkan anak menjadi tidak mandiri, manja, egois, kurang percaya diri, konservatif., mudah frustrasi.
Keseimbangan antara kehilangan dan kelebihan kasih sayang
Anak-anak dan remaja mauoun orang dewasa memerlukan kasih sayang tetapi mereka menginginkan kasih sayang tersebut yang tepat sesuai dengan usia dan minat/interest mereka. Kalau bayi ingin selalu dekat dengan ibunya sedangkan para remaja tentu berbeda. Para remaja tidak menolak kasih sayang orang tua mereka tapi cara mengungkapkan kasih sayang itu harus berbeda dengan kasih sayang yang mereka terima sewaktu mereka masih kecil. Mereka tidak akan mau lagi diciumi ibunya apalagi didepan teman-temannya. Media yang tepat dalam hubungan emosi dan kasih sayang menurut Garisson adalah tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit kasih sayang diberikan kepada anak.
PENGUNGKAPAN EMOSI
Bagaimana seseorang mengungkapkan emosinya berpengaruh pada perkembangan kepribadian baik langsung maupun tak langsung.Dampak langsung datang dari kemampuan pengungkapan emosi sesuai dengan situasi yang menstimulasi adanya pengungkapan emosi. Misalnya seseorang akan berlari dan bersembunyi ketika ketakutan, berkelahi karena marah atau tertawa ketika ada yang lucu atau adanya sesuatu yang menyenangkan. Belajar mengontro emosi bagi kebanyakan remaja merupakan hal yang paling sulit.
Belajar Mengontrol Emosi
Seseorang harus belajar bagaimana mengontrol emosi sesuai dengan yang diinginkan kelompok sosial yang pada akhirnya akan memuaskan bagi dirinya. Untuk mencapai tujuan ini seseorang harus belajar menghadapi situasi yang mestimulasi penggunaan emosi dalam cara yang logis dan rasional. Secara tidak langsung pengungkapan emosi mempengaruhi pola kepribadian seseorang dengan mempengaruhi penilaian orang lain terhadapnya. Jika dia mempunyai temperamen yang pemarah maka dia akan tidak diterima orang lain dan dia akan merasa malu. Selanjutnya dia akan belajar bagaimana mengontrol emosinya supaya agar diterima orang lain. Semua manusia menunjukkan emosi kontrol yang lebih baik diluar rumah dari pada dirumah. Tekanan sosial membuat orang berusaha mengontrol dirinya.
Menahan emosi
Emosi yang dipendam terlalu lama maka akan meledak secara emosional bahkan sangat dahsyat. Akibatnya orang lain akan menilai negatif dan tidak dewasa sedangkan dia sendiri akan merasa malu, sakit hati atau merasa ketidakmampuan.
Akibat dari menahan emosi
Akibat dari ketidak mampuan menahan emosi orang akan memberikan penilaian yang kurang menyenangkan. Oleh karena itu dia akan melakukan regresi (pengurangan emosi), pelampiasan emosi kepada hal-hal yang lain atau dengan penyamaran/kamuflage untuk menutupi perilaku emosinya, berfantasi atau dengan melakukan kegiatan atau kreativitas yang bermanfaat.
Dampak kontrol emosi pada kepribadian
Kontrol emosi akan berdampak pada kepribadian yang menyenangkan jika memenuhi dua syarat yaitu: cara pengungkapan emosi harus memenuhi kebutuhan pribadi dan memberikan dia kepuasan dan kedua harus memenuhi penerimaan sosial. Jika hanya memenuhi salah satunya maka akibatnya akan merusak kepribadin.
TERHARU
Menangis dan tertawa dapat membantu seseorang menjadi merasa lebih relax. Bentuk-bentu terharu dari fisik seperti sakit kepala, lesu dan tidak bergairah. Untuk mengurangi perasaan terharu seseorang dapat melakukan aktivitas seperti bermain, tertawa, menangis, sex, mandi uap, pijat dan senam. Selain itu perasaan terharu dapat atasi dengan komunikasi kepada orang lain.
Akibat dari perasaan terharu ini dapat berdampak pada kepribadian baik secara langsung maupun tidak langsung seperti bertingkah laku yang dapat menyenangkan orang lain atau berusaha untuk menahan emosi.
EMOSIONAL STRESS
Bagi sebagian orang stress mungkin karena ketakutan, namun bagi sebagian lagi akibat dari konflik. Konflik dapat menyebabkan kecemburuan, iri hati atau emosi yang tidak menyenangkan lainnya. Stres lazimnya karena emosi sebagai akibat hal-hal yang tidak menyenangkan. Sumber stres adlah konflik. Stres terjadi ketika pencapaian tujuan dihambat oleh lingkungan atau hambatan dari fisik dan jiwanya. Bagaimana dia merespon hambatan-hambatan tersebut dipengaruhi oleh apa yang sudah dia pelajari yang akan memberikan kepuasan dirinya. Hambatan dari luar seperti cara orang tua mendidiknya apakah dengan kekerasan, kelembutan atau dengan fondasi agama turut mempengaruhi munculnya stress. Hambatan dari dalam diakibatkan karena kekurangan fisik seperti buta, asma dsb yang membatasi aktivitasnya sehingga akan menyebabkan frustrasi.
Bentuk Umum Stress
Bagi sebagian orang, stress emosi didapat dari kecemasan, sedangkan sebagian orang lainnya didomniasi oleh frustrasi, kecemburuan, iri dan dengki.
Kecemasan
Kecemasan adalah sakit karena ketidak nyamanan jiwa yang membahayakan diri sendiri . Kecemasan biasanya disebabkan karena imajinasi yang sering tidak rasional dan subjektif.
Penyebab Kecemasan
Penyebab kecemasan adalah orang tua yang terlalu melindungi, memberikan terlalu banyak critik, sikap menyepelekan keberhasilan seseorang oleh orang –orang terdekatnya.
Dampak Kecemasan terhadap kepribadian
Kecemasan akan berdampak pada perkembangan kepribadian yang dinyatakan dalam perilakunya. Kecemasan adalah bukti kurangnya penyesuaian diri dan konsep dalam mempelajari kesulitan penyesuaian diri.
Frustrasi
Frustrasi adalah stress emosi yang disebabkan oleh kebingungan, kejengkelan, dan kemarahan. Hal ini terjadi karena tujuan yang ingin dicapai terganggu. Orang tersebut akan sadar dengan ketidak mampuannya untuk memuaskan keinginnya dan kegagalannya untuk mencapai tujuan yang telah dia tetapkan sehingga dia merasa tak berdaya dan menderita karena luka hatinya.
Penyebab Frustrasi
Penyebab frustrasi datang dari fisik dan lingkungan sosial, dari kekurangan dirinya atau dari konflik antara keinginan dan kenyataan.
Dampak frustrasi pada Kepribadian
Bagaimana seseorang berreaksi pada frustrasi mempengaruhi penilaian orang lain terhadap dirinya dan sebaliknya cara dia menilai dirinya sendiri. Misalnya reaksi dengan agresif, tidak aktif, berhenti dari aktivitas yang sedang dilakukannya, regresif, menyalahkan orang, menyerang, dsb.
Kecemburuan dan Iri hati
Bagus banget
aduh yang bikin tulisan ini asyik euy, bisa dipakai buat bahan makalah pengantar pendidikan yang ditugaskan ma dosen ,
terima kasih buanyakkk…
kalau bisa singkat jelas padat…
biar gak perlu lagi dirangkum…
sekali lagi asyik and terima kasih
Sekali lagi terimakasih buanyak Pak, saya ingin sekali membagikan apa yang sudah bapak tulis. Bolehkan?? Sama seperti sebelumnya, saya masih baru dalam weblog, jadi tulisan bapak saya publishkan di blog saya. Mohon izin dan restu.
Terimakasih,
Salam,
smskalit