5 Cara Guru Belajar

Perubahan paradigma pendidikan yang cukup dramatis pada saat sekarang ini, mau tidak mau menuntut para guru untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan perubahan yang ada. Salah satu cara yang efektif agar dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan perubahan yang ada yaitu melalui belajar secara terus menerus. Dengan demikian, tuntutan untuk belajar tidak hanya terjadi pada siswa yang dibelajarkannya, tetapi guru itu sendiri pun justru dituntut untuk senantiasa belajar tentang bagaimana mengajar yang baik. Banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk belajar, diantaranya:

  1. Guru belajar dari praktik pembelajaran yang dilakukannya. Cara belajar guru yang pertama ini dilakukan melalui usaha untuk senantiasa memonitor, menganalisis dan melakukan refleksi atas setiap praktik pembelajaran yang dilakukannya. Melalui cara seperti ini guru akan memperoleh sejumlah pengetahuan dan pemahaman baru (the best practice) tentang siswa, sekolah, kurikulum, dan berbagai strategi pembelajaran. Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (1, 2) merupakan salah satu bentuk cara belajar guru semacam ini (Cochran-Smith and Lytle, 1993).
  2. Guru belajar melalui interaksi dengan guru lain. Cara belajar guru yang kedua dapat dilakukan melalui interaksi dengan guru lain, baik secara formal maupun informal. Secara formal, misalnya melalui kegiatan mentoring (tutorial) yang dilakukan oleh guru senior yang berpengalaman terhadap guru baru (novice), berdasarkan penugasan secara resmi dari sekolah. Dalam hal ini, guru baru dapat menimba berbagai pengetahuan dan keterampilan dari mentornya (Feiman-Nemser and Parker, 1993). Sedangkan secara informal dapat dilakukan melalui kegiatan pembicaraan yang tidak resmi, misalnya pada saat berada di ruang guru, halaman sekolah dan tempat-tempat lainnya yang sifatnya tidak resmi. Bentuk lain belajar melalui interaksi dengan guru lain adalah melalui kegiatan MGMP/MGBK dan pertemuan profesional lainnya, dimana guru dapat saling belajar dan berbagi pengetahuan. Kegiatan supervisi pembelajaran, baik oleh guru senior, kepala sekolah maupun pengawas sekolah, termasuk ke dalam kategori cara belajar ini. Demikian juga, program lesson study merupakan salah satu bentuk cara belajar guru melalui interaksi dengan guru lain.
  3. Guru belajar melalui ahli/konsultan. Cara yang ketiga, guru dapat belajar melalui ahli/konsultan. Dalam kegiatan ini, sekolah menyediakan seorang atau beberapa orang ahli/konsultan khusus dari luar untuk membelajarkan para guru di sekolah. Secara berkala, ahli/konsultan tersebut dihadirkan di sekolah untuk membelajarkan guru, misalnya dalam bentuk workshop atau layanan konsultasi. Melalui cara ini, para guru akan memperoleh pemahaman tentang berbagai inovasi pendidikan sekaligus memperoleh bimbingan dalam penerapannya. Dalam konteks ini, pengawas sekolah (educational supervisor) seyogyanya dapat diposisikan sebagai tenaga konsultan yang dibutuhkan untuk kepentingan peningkatan kemampuan guru.
  4. Guru belajar melalui pendidikan lanjutan dan pendalaman. Asumsi yang mendasari cara yang keempat ini, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang, semakin lebih baik pula tingkat kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan kemampuan guru, seyogyanya guru didorong untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau mengikuti pendidikan pendalaman akademik. Pendidikan lanjutan artinya guru melanjutkan studi sesuai dengan bidangnya, misalkan seorang guru Bimbingan dan Konseling yang sudah memiliki tingkat pendidikan S1, kemudian dia melanjutkan lagi studinya ke S2 Program Magister Bimbingan dan Konseling, dan seterusnya. Sedangkan pendidikan pendalaman, bisa dilakukan melalui kursus-kursus dan pendidikan alternatif yang relevan. Misalnya, guru Ekonomi yang berlatarbelakang S1 Pendidikan Ekonomi, untuk pendalaman bidang akademiknya dia bisa mengikuti pendidikan S1 alternatif di Fakultas Ekonomi. Di samping memperoleh kemampuan yang lebih baik, kegiatan pendidikan lanjutan berkolerasi pula dengan tingkat penghasilannya (Renyi, 1996). Di Amerika, kegiatan pendidikan pendalaman banyak dilakukan pada musim summer atau setelah selesai jam sekolah. Demikian pula, di negara-negara tertentu, guru-guru banyak mengikuti program in service trainning dengan dititipkan (pencangkokan) di Perguruan Tinggi untuk beberapa lama.
  5. Guru belajar melalui cara yang terpisah dari tugas profesionalnya. Cara yang kelima ini, guru belajar tentang hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan tugas-tugas profesionalnya, seperti pengembangan kemampuan intelektual dan moral terkait perannya sebagai orang tua, mengikuti pelatihan sebagai pengurus organisasi di masyarakat, pelatihan kepemimpinan dalam bisnis dan sebagainya. “They learn about nondidactic forms of instruction…”, demikian dikemukan oleh Lucido (1988). Meski tidak berhubungan langsung dengan tugas profesionalnya, beberapa hasil-hasil pelatihan tersebut dapat ditransfer untuk kepentingan penguatan kemampuannya sebagai guru.

[adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , ,
Ditulis dalam PEMBELAJARAN, PSIKOLOGI
27 comments on “5 Cara Guru Belajar
  1. karta abas mengatakan:

    Sebagai guru jangan cepat merasa puas dengan apa yang telah ia miliki,namun ia senantiasa berusaha untuk menimba pengetahuan agar wawasan,keterampilan dan pengetahuannya selalu aktual sehingga tidak ketinggalan jaman

  2. satia mengatakan:

    i like it 4 rubrik…

  3. sulhimunir mengatakan:

    Juga dengan cara berlangganan : Tentang Pendidikan; akhmad sudrajat

  4. jafar mengatakan:

    Pada prinsipnya, belajar merupakan sebuah kewajiban tiap insan (muslim—sampai liang lahat). Celakanya apabila seseorang merasa paling “berilmu”, hal ini akan membelenggu dia untuk menerima masukan/ kritikan dari orang yang “menurut dia” level dibawahnya.

  5. anto mengatakan:

    adanya informasi ini jelas akan menambah pengetahuan dalam proses pembelajaran sehingga ada perubahan dalam mengajar sehingga bangsa ini pendidikan akan terus maju walaupun jika dibandingkan dengan negara jepang pendidikan di indonesia baru 50 % saya pada tahun 2000 pernah ke jepang melihat sekolah di sana begitu ketatnya dan disiplin di sekoah2 tersebut jam 6.30 teng siswa sudah masuk sekolah .sebelum jam 6.30 guru sudah datang sebelumnya 15 menit dan kurang 10 menit bel masuk guru sudah mempersiapkan pembelajaran.tidak ada yang namanya guru ,kepsek ,Tu datang sampai terlambat dan tidak ada guru yg meninggalkan kelas selama pembelajaran , dan yang diajarkan bukan hanya pembelajaran tapi lebih ditujukan pada kompetensi siswa,penyaluran bakat siswa ,siswa SD cerdasnya sama dengan siswa smp di Indo.mdh2han kita bisa mengikuti langkah mereka

  6. muhammad arif mengatakan:

    Saya sangat setuju ide bapak, sedikit saya tambahkan bahwa ketika kita berani untuk mengajar maka kita juga harus mau belajar.terima kasih

  7. samsul bahri mengatakan:

    saya sangat setuju, belajar itu ternyata bisa dari orang lain. saya saja sering belajar dari anak dan siswa saya. yang penting kita jangan gengsi.

  8. Moh.Afif mengatakan:

    Saya sangat setuju atas pendapat bapak sebagaimana dimuat dalam artikel.terus terang kita memang tanpa disadari belajar dari pengalaman orang lain tanpa sepengatahuan yang ditiru.semuga artikel bapak bermamfaat dan saya sanagat senag jika bapak bisa bertukar fikiran lewat email

  9. Lilis Yuningsih ,S.Pd mengatakan:

    Pepatah orang bijak mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna tetapi kita wajib mengejar kesempurnaan, demikian juga seorang guru wajib belajar dan belajar untuk mencoba mengejar kesempurnaan itu. Menurut saya belajar bisa dengan berbagai cara diantaranya seperti yang telah disebutkan pak Akhmad, dan jangan lupa salahsatu cara lainnya adalah belajar dengan sistim ONLINE dan banyak membaca tulisan-tulisan para blogger jempolan seperti pak Akhmad ini.Terima kasih pada para pemerhati pendidikan semoga ilmu yang dishare menjadi ladang amal dan dihitung sebagai amal ibadah oleh Alloh S.W.T. amiin yaa Robbal alamin.

  10. yusrizalfirzal mengatakan:

    Saya setuju dengan tulisan Bapak. sekarang yang jadi masalah adalah kemauan guru untuk belajar. pada umumnya guru-guru kita malas untuk menambah pengetahuannya, apakah itu pengetahuan tentang pedagogi maupun pengetahuan tentang mata pelajaran yang diajarnya.

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 14.048 pengikut lainnya.