Masa Orientasi Sekolah

Oleh : Akhmad Sudrajat

Setiap memasuki tahun pelajaran baru, pada umumnya hampir di setiap sekolah menyelenggarakan kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS), yang wajib diikuti oleh setiap calon siswa. Secara teoritik, kegiatan Orientasi Sekolah memang memiliki tujuan yang positif, yakni membantu para calon siswa untuk mengenal dan memahami lingkungan sekolahnya yang baru, baik lingkungan fisik, seperti : ruang kelas, tempat ibadah, laboratorium dan fasilitas belajar lainnya, maupun lingkungan sosio-psikologis, seperti guru-guru, teman dan iklim serta budaya yang dikembangkan sekolah, sehingga diharapkan para calon siswa dapat segera mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru di sekolahnya.

Tetapi, mari kita lihat realita praktiknya! Hingga saat ini, pada beberapa sekolah masih ditemukan kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang masih terjebak dalam praktek perpeloncoan, yang kerapkali mengabaikan aspek-aspek kemanusiaan, seperti mewajibkan para calon siswa untuk mengenakan atribut dan membawa berbagai kelengkapan yang “aneh-aneh”. Jika melanggar ketentuan-ketentuan yang “aneh-aneh” itu, mereka harus siap-siap menerima sanksi tertentu, bahkan mungkin ada pula yang disertai dengan pemberian hukuman yang bersifat fisik.

Boleh jadi, akibat dari praktek Orientasi Sekolah semacam itu bukannya menjadikan para calon siswa terpahamkan dan dapat memperoleh well adjustment, namun malah mungkin justru sebaliknya, keruntuhan harga diri dan kerusakan mental yang mereka dapatkan! Tentu saja, hal ini merupakan awal yang buruk bagi kelangsungan belajar siswa ke depannya.

Jika merujuk pada pemikiran Irwin A. Hyman dan Pamela A. Snook (1999), praktek orientasi semacam itu sudah menunjukkan ciri-ciri dari sekolah berbahaya (dangerous school)

Kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) pada dasarnya merupakan sebuah proses pembelajaran dan apabila dikaitkan dengan beberapa prinsip pembelajaran modern yang saat ini sedang dikembangkan di Indonesia, seperti pembelajaran menyenangkan, pembelajaran humanistik, pembelajaran demokratis, dan sejenisnya, maka model orientasi yang bercirikan pengingkaran hak-hak martabat kemanusiaan seperti di atas agaknya menjadi sangat kontradiktif dan kontraproduktif.

Oleh karena itu, sudah waktunya perlu dilakukan evaluasi terhadap praktik Orientasi Sekolah semacam itu untuk segera digantikan dengan model-model kegiatan Orientasi Sekolah yang lebih humanis. Kegiatan orientasi bukanlah ajang untuk menunjukkan superioritas senior terhadap yunior, dan bukan pula ajang untuk melampiskan motif-motif destruktif yang terselubung. Tetapi justru merupakan upaya untuk menyambut hangat dan penuh kecintaan terhadap para calon siswa agar mereka merasa betah sekaligus memiliki kebanggaandan keyakinan bahwa dia benar-benar telah memilih sekolah yang tepat bagi dirinya.

Lantas, seperti apakah Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang humanis itu ? Kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang humanis setidaknya memiliki beberapa ciri, diantaranya adalah :

  • Memandang calon siswa sebagai sosok manusia utuh dengan segenap potensi kemanusiaan yang dimilikinya, yang patut dihargai dan dihormati keberadaannya. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya jika masa orientasi ini digunakan pula sebagai moment untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi potensi-potensi yang dimiliki calon siswa untuk dikembangkan lebih lanjut.
  • Pembimbingan dilakukan dalam suasana hubungan kemitraan yang sejajar dan penuh keakraban, baik antara calon siswa dengan calon siswa, maupun calon siswa dengan warga sekolah lama, termasuk dengan para guru.
  • Reinforcement perilaku yang lebih mengedepankan pemberian ganjaran (reward) dan sedapat mungkin menghindari bentuk hukuman fisik maupun psikis (punishment).
  • Metode kegiatan dikemas secara kreatif dalam bentuk dinamika kelompok yang menyenangkan dan lebih mengedepankan pada aktivitas para calon siswa.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengganti model kegiatan orientasi ke arah yang lebih humanis, apalagi jika kesalahkaprahan dalam praktek kegiatan orientasi sudah berlangsung sejak lama dan dilakukan secara turun temurun. Akan tetapi kita percaya bahwa dengan komitmen, kesadaran dan kecerdasan dari seluruh warga sekolah kiranya bukan hal yang mustahil untuk dapat mewujudkannya.

=================

Materi terkait:

Kegiatan MOS yang Aneh dan Menyebalkan

[ AKHMAD SUDRAJAT seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: , ,
Ditulis dalam PEMBELAJARAN, PENDIDIKAN
8 comments on “Masa Orientasi Sekolah
  1. agus mengatakan:

    setuju puolll. Sudah waktunya mengadakan perubahan pelaksanaan mos klo kita ingin maju.

  2. Asep Ismail Pamungkas mengatakan:

    demi kehumanisan kegiatan MOS di sekolah seperti yang telah dipaparkan. kebetulan saya seorang guru SMP, sekiranya sudikah anda mengirimkan ke email saya beberapa agenda kegiatan MOS yang ideal begitu juga macam-macam permainan kelompok yang menyenangkan untuk dilaksanakan tanggal 12 juli mendatang di sekolah saya.
    trims.

  3. Indra Pratama mengatakan:

    Walaupun berkali-kali dikumandangkan bahwa MOS itu untuk menghindari perpeloncoan yang tidak jelas, tapi sampai saat ini masih ada unsur2 perpeloncoan yang tersisa. Kadang2 alasannya biar menarik atau lucu2an, tapi semua itu terkesan menzalimi dan mempersulit siswa baru.

    Bayangkan saja, mereka siswa baru disuruh memakai atribut aneh2 dan panitia hanya bisa berdalih untuk melatih kreativitas junior mereka. Apa itu tidak terkesan berlebihan dan menyulitkan siswa baru? yang sewajarnya sajalah dan jelas2 perlu.

  4. nafilah alis mengatakan:

    Masa Orientasi Siswa (MOS), OPSPEK, dan sejenisnya, secara teoritis bernilai positif, karena memiliki tujuan sebagai ajang perkenalan, adaptasi dan penciptaan kondisi keakraban sesama warga sekolah, serta penggalian potensi siswa baru. Namun sangat disesalkan, pada praktiknya banyak terjadi penyalah gunaan wewenang dari para senioritas terhadap yuniornya, sehingga situasinya jauh dari tujuan yang sebenarnya, menyimpang dari nilai-nilai edukatif.Sehingga hasilnyapun jelas tidak positif. Bahkan di salah satu SMA di Jawa Timur, MOS ini telah memakan korban meninggal, sebagaimana diberitakan dalam media televisi akhir-akhir ini. Kemana dan dimana peran para pendidik dalam kegiatan MOS tersebut? kepada para pembuat kebijakan tolong evaluasi kegiatan MOS, dan kepada para pengawas sekolah, ayo awasi,amati, dan monitor agar kegiatan MOS benar-benar bermanfaat dan bernilai positif edukatif.

  5. AR mengatakan:

    MOS hanya merupakan arogansi senior dan manfaat yang diperoleh (kalau ada) jauh lebih kecil dari kerugiannya. Untuk tugas ini tugas itu kan harus beli biasanya belum lagi untuk cari-carinya harus keluarkan ongkos.

    Orang tua ikut repot, harus meninggalkan pekerjaan untuk bantu anak carikan barang yang aneh-aneh. Kasihan para orang tua yang kondisi ekonominya pas-pasan.

    Tapi sayangnya masih banyak para guru yang peduli akan hal ini…

  6. 125 mengatakan:

    aduh…mos sih boleh ya mos..
    tapi jangan niat ngerjain donk..!
    masa disuruh bawa ini itu lah, emang dikira kagak pake biaya apa ?? apa lagi repot nyari barang..
    plus mesti punya fisik dan mental yg ckup kuat..
    apa lagi sperti di skolah saya yang mos nya di lapangan..aduh gila seharian di lapangan apa kagk panas ?? blom lagi mesti lari2 dan nahan malu nanyi2 kalo ada tugas salah…
    nanyinya lagu mbah surip lagi..”tak gendong..tak gendong..” depan 1 angkatan, emang kagak malu apa…!
    lagian acara beginian kagak ada hubungannya sama pendidikan, yang ada cuma buang waktu aja..

  7. just me mengatakan:

    MOS… hmmm..sebetulnya dengan adanya MOS ini memberikan celah kepada pengelola sekolah dan para senior untuk dapat memotivasi para calon siswa baru serta membawa mereka kedalam kondisi belajar dan kondisi kebersamaan dengan semua civitas akademika, jika MOS tersebut dilaksanakan dengan benar, tentunya.

    dalam agenda MOS, lebih baik diadakan pengenalan secara mendalam terhadap visi, misi, dan tujuan dari institusi pendidikan yang mereka pilih, selain itu dapat juga diselipkan pembinaan mental dan kesatuan tujuan dengan mengadakan kegiatan semacam outbond untuk membina kekompakan dan bukan menjadi ajang balas dendam para senior.

    ya…gitu deh

  8. dion mengatakan:

    sesungguhnya apa yang diharapkan, sudah diamanatkan secara eksplisit dalam panduan MOS. ini menegaskan sejatinya kita mesti introspeksi pada tataran prakteknya.

Komentar ditutup.