Penalaran Deduktif dan Induktif

oleh : Pudjo Sumedi AS., Drs.,M.Ed.* dan Mustakim, S.Pd.,MM**

Kalau binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau jawa yang dilestarikan, melainkan manusia jawa. Upaya pelestarian dipimpin oleh seekor professor Harimau (Andi Hakim Nasution).

Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Manusia selalu dihadapkan untuk memilih baik-buruk, indah-jelek, jalan benar-jalan salah. Dalam melakukan pilihan ini, manusia berpaling pada pengetahuan. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun terbatas untuk survival. Manusia mengembangkan pengetahuan untuk mengatasi kebutuhan kelangsungan hidupnya.

Manusia mampu mengembangkan pengetahuan karena 2 hal :

  1. Punya bahasa yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi dan pilihan-pilihan yang melatarbelakangi informasi tersebut. (Bertrand Russel : Tak ada anjing yang berkata : ”Ayahku miskin, tapi jujur ”).
  2. Kemampuan berpikir menuntut suatu alur kerangka pikir tertentu, atau penalaran. Instink binatang lebih peka dari manusia, namun binatang tidak bisa bernalar.

Hakikat Penalaran

Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.

Ciri-ciri Penalaran :

  1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika (penalaran merupakan suatu proses berpikir logis).
  2. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.

Cara berpikir masyarakat dapat dibagi menjadi 2, yaitu : Analitik dan Non analitik. Sedangkan jika ditinjau dari hakekat usahanya, dapat dibedakan menjadi : Usaha aktif manusia dan apa yang diberikan.

Penalaran Ilmiah sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

  1. Deduktif yang berujung pada rasionalisme
  2. Induktif yang berujung pada empirisme

Logika merupakan suatu kegiatan pengkajian untuk berpikir secara shahih

Contoh :

  • Ketika seorang pengemis berkata :”kasihanilah saya orang biasa”. Itu merupakan suatu ungkapan yang tidak logis.
  • Ketika seorang peneliti mencari penyebab mengapa orang mabuk? Ada 3 peristiwa yang ditemuinya
  • ada orang yang mencampur air dengan brendi dan itu menyebabkan dia mabuk
  • ada yang mencampur air dengan tuak kemudian dia mabuk
  • ada lagi yang mencampur air dengan whiski kemudian akhirnya dia mabuk juga

Dari 3 peristiwa diatas, apakah kita bisa menarik kesimpulan bahwa air-lah yang menyebabkan orang mabuk?

Logika deduktif merupakan cara penarikan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus (individual). Sedangkan logika induktif merupakan cara penarikan kesimpulan dari kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir silogisme, dua pernyataan dan sebuah kesimpulan. Dan didalam silogisme terdapat premis mayor dan premis minor.

Contoh :

  • Semua makhluk punya mata ( premis mayor )
  • Si Adam adalah seorang makhluk ( premis minor )
  • Jadi, Adam punya mata ( kesimpulan )

Kriteria kebenaran :

3+4=75+2=76+1=7

Menurut seorang anak kecil, hal ini tidak benar.

Ini membuktikan bahwa tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar.

Secara deduktif dapat dibuktikan ketiganya benar. Pernyataan dan kesimpulan yang ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan yang telah dianggap benar. Teori ini disebut koherensi. Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koherensi.

========================

Pudjo Sumedi AS., Drs.,M.Ed.*

Wakil Rektor I UHAMKA Jakarta / Mahasiswa Program Doktoral (S3) Administrasi Pendidikan –UPI Bandung .

Mustakim, S.Pd.,MM**

Guru SMP Negeri 2 Parungpanjang Kabupaten Bogor. / Mahasiswa Program Doktoral (S3) Administrasi Pendidikan –UPI Bandung .

Referensi :

Betrand Russel.2002. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang (alih Bahasa Sigit jatmiko, dkk ) . Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Ismaun.2007. Filsafat Administrasi Pendidikan(Serahan Perkuliahan ). Bandung : UPI

Ismaun.2007. Kapita Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung : UPI

Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka

Moersaleh. 1987. Filsafat Administrasi. Jakarta : Univesitas Terbuka

===============

[ AKHMAD SUDRAJAT adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam FILSAFAT PENDIDIKAN
9 comments on “Penalaran Deduktif dan Induktif
  1. fivin mengatakan:

    mbak,, tolong dunk.. sajikan indikator2 penalaran ilmiah. .
    sama LCTSR (Lawson’s classroom test of scientific reasoning
    terima kasih..

  2. alam cahanya hati mengatakan:

    bagaimana cara berfikir dengan logis, seorang manusia itu igin brubah tapi untuk merubah dirinya belum bisa!!! say minta solusinya dan penjelasan ,,,,?

  3. jalius_ hr mengatakan:

    Maaf Pak saya mau berikan sedikit komentar.

    Ada sedikit yang akan saya komentari, yakni tentang “benar”
    Dalam tulisan diatas benar pengertiannya sama saja dengan “betul”
    Benar sangat jauh berbeda maknanya. Dari contoh di atas, 3 + 4 = 7 seharusnya kita gunakan pernyataan atau kata “betul”. “Betul” mengandung makna hukum sebab akibat atau kausalitas. Contoh yang lain adalah bila batu dimasukan kedalam air akan berkurang beratnya (betul). Kontradiksinya (lawannya) aalah salah.
    Sementara kata “benar” bermakana bahwa sesuatu itu sungguh ada, yang mana adanya itu tidak bisa dinafikan atau dibantah atau di tiadakan.Sesuatu yang ada itu dapat berupa benda materi, situasi, kondisi, sifat, bentuk dan lainnya. Contoh untuk ini adalah, batu sebuah benda yang sungguh ada. Batu itu keras (benar).Kita bisa melemparkan batu (benar). Tahi kucing busuk (benar). Setiap orang yang hidup dia bernafas (benar). Kontradiksinya adalah “bathil” yang berarti tidak ada atau ditiadkan.

    Demikian, kalau saya yang keliru, tolong juga dikoreksi
    Wassalam
    Jalius.HR

  4. herlin mengatakan:

    duhh….. saya ga mudeng………

  5. isti mengatakan:

    makasih ya atas info nya tentang penalaran,tulisan kaka membantu banget lo buat q,tapi tolong di jelaskan secara rinci lagi ya.

  6. alna karymunika mengatakan:

    ada ga ya dalam bentuk power point?butuh kali ni mbak buat tugas program magister….please bantu ya mbak?

  7. Hasanudin mengatakan:

    Daya penalaran saya begitu lemah, sehingga ketika melakukan penalaran atas satu masalah terkadang membingungkan diri sendiri, sendiri saja bingung, gimana dengan orang lain? padahal kalau menurut pendapat guru besar saya, kalau sudah membuat orang lain bingung berarti kesuksesan, saya gak yakin tuh! maka dalam kesempatan ini saya minta langkah-langkah konkrit atau tahapan-tahapan penalaran sehingga mendapatkan konklusi yang benar secara akal sehat juga ilmiah. makasih ya…

  8. samsul irpan asyika mengatakan:

    makasih mbak… atas sekilas materi tentang penalaran..! tapi kalau mbak tidak keberatan dan ada waktu mohon jelaskan tahap-tahap penalaran dan model-model penalaran

  9. aq mengatakan:

    mbak makasih ya tapi kurang lengkap tu bisa ga di jelasin lebih rinci lagi penalaran soalnya saya kini tengah menyusun tugas paper mengenai penalaran dalam mata kulia tata tulis laporan. makasih sebelumnya.

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 13.446 pengikut lainnya.