Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat 

oleh : Akhmad Sudrajat

Bahwa manusia adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang. Ia ingin mencapai suatu kehidupan yang optimal. Selama manusia barusaha untuk meningkatkan kehidupannya, baik dalam meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, kepribadian, maupun keterampilannya, secara sadar atau tidak sadar, maka selama itulah pendidikan masih berjalan terus.

Pendidikan sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam dunia transformasi, dan di dalam masyarakat yang saling mempengaruhi seperti saat zaman globalisasi sekarang ini. Setiap manusia dituntut untuk menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan situasi baru.

Pendidikan sepanjang hayat merupakan jawaban terhadap kritik-kritik yang dilontarkan pada sekolah. Sistem sekolah secara tradisional mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat dalam abad terakhir ini, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tutuntutan manusia yang makin meningkat. Pendidikan di sekolah hanya terbatas pada tingkat pendidikan dari sejak kanak-kanak sampai dewasa, tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dunia yang berkembang sangat pesat. Dunia yang selalu berubah ini membutuhkan suatu sistem yang fleksibel. Pendidikan harus tetap bergerak dan mengenal inovasi secara terus menerus.

Menurut konsep pendidikan sepanjang hayat, kegiatan-kegiatan pendidikan dianggap sebagai suatu keseluruhan. Seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem yang terpadu. Konsep ini harus disesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Suatu masyarakat yang telah maju akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan masyarakat yang belum maju. Apabila sebahagian besar masyarakat suatu bangsa masih yang banyak buta huruf, maka upaya pemeberantasan buta huruf di kalangan orang dewasa mendapat prioritas dalam sistem pendidikan sepanjang hayat. Tetapi, di negara industri yang telah maju pesat, masalah bagaimana mengisi waktu senggang akan memperoleh perhatian dalam sistem ini.

Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar kepribadian anak. Pendidikan anak diperoleh terutama melalui interaksi antara orang tua – anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua akan menunjukkan sikap dan perlakuan tertentu sebagai perwujudan pendidikan terhadap anaknya.

Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga. Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya. Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentuyang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.

Pendidikan di masyarakat merupakan bentuk pendidikan yang diselenggarakan di luar keluarga dan sekolah. Bentuk pendidikan ini menekankan pada pemerolehan pengetahuan dan keterampilan khusus serta praktis yang secara langsung bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat. Phillip H.Coombs (Uyoh Sadulloh, 1994:65) mengemukakan beberapa bentuk pendidikan di masyarakat, antara lain : (1) program persamaan bagi mereka yang tidak pernah bersekolah atau putus sekolah; (2) program pemberantasan buta huruf; (3) penitipan bayi dan penitipan anak pra sekolah; (4) kelompok pemuda tani; (5) perkumpulan olah raga dan rekreasi; dan (6) kursus-kursus keterampilan.

============

Tulisan lain yang relevan:

[adalah seorang praktisi pendidikan di Kadugede-Kabupaten Kuningan ]

Tagged with: ,
Ditulis dalam PEMBELAJARAN
23 comments on “Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat 
  1. tan2 and tok2 mengatakan:

    kami rasa pendidikan sekarang kurang berkesan…. hal ini kerna tan2 rasa sistem kita enggaak bagoss… hiduplah softkill!! huhu..

  2. hasrita mengatakan:

    Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)dapat membangun kemampuan untuk bekerja mengikut tantangan yang dihadapi di dalam meraih keberhasilan. Sumber Daya Insani memerlukan pembelajaran sepanjang hayat agar mampu bekerja mengikuti perkemabngan ilmu dan teknologi.

  3. blank mengatakan:

    smoga bangsa ini dapat belajar untuk menghargai pendidikan..
    terus maju rekan-rekanku…

  4. scristia mengatakan:

    pendidikan sepanjang hayat, kata inilah yang sering kita dengar,

  5. Akieda mengatakan:

    pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu hal yang sudah diperintahkan dalam Islam jauh sebelum adanya teori pendidikan yang diterapkankan oleh orang-orang barat, dan saya setuju sekali dengan apa yang diungkapkan oleh saudara Jasmansyah

  6. Anonymous mengatakan:

    pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu hal yang sudah diperintahkan dalam Islam jauh sebelum adanya teori pendidikan yang diterapkankan oleh orang-orang barat, dan saya setuju sekali dengan apa yang diungkapkan oleh saudara Jasmansyah

  7. Jasmansyah mengatakan:

    Pendidikan sepanjang hayat, adalah salah satu realisasi dari sabda Nabi Muhammad SAW, yang mengatakan :
    1. Tuntutlah ilmu dari sejak lahir sampai meninggal dunia
    2. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina
    3. Menuntut ilmu itu wajib, bagi orang Islam

    Karenanya, jangan pernah bosan mencari ilmu FOREVER

  8. Anonymous mengatakan:

    @kusumo bayu
    Anda orang yang tidak tahu bahwa anda tidak tahu, merasa tidak perlu lagi belajar dengan alasan mau bekerja nyata. Ketahuilah orang bisa dan perlu terus belajar sambil bekerja. Belajar tidak cuma di sekolah tapi bisa di mana saja. Tidak terus belajar bukan menjadikan seseorang berpendirian teguh tapi menjadikannya mandek dan tertinggal oleh kemajuan jaman. Kita punya budaya tapi budaya itu pun tidak statis namun perlu terus bertransformasi dan beradaptasi. Tidak mau belajar dari orang lain hanya menunjukkan arogansi yang tidak pintar. Belajar sepanjang hayat tidak identik dengan cuma ngomong terus.

  9. kusumo bayu mengatakan:

    pendidikan sepanjang hayat hakekatnya tidaklah ada jika diresapi kembali lewat konsep pendidikan adalah proses dari tahu menjadi tahu.
    orang yang sepanjang hayat terus belajar maka dia belum tahu makna hidup, dia tidak mempunyai budaya dan pendirian teguh.
    jangan sampai bangsa indoesia menjadi bangsa yang belajar sepanjang hayatnya. tidak mau bekerja nyata membangun bangsa.
    saya prihatin pendidikan spnjang hayat dijadikan alasan para pemimpin bangsa belajr ngomong trus tanpa mufakat yang jelas.
    mari jadikan hidup kita adalah kerja nyata, jangan omong truz, jgn hanya BLAJAR TRUZ SPANJANG HAYAT.
    KITA PUNYA BUDAYA SENDIRI TDK PERLU BLJR DGN ORANG LAIN.

  10. Anonymous mengatakan:

    sip

berkunjung, berfikir dan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 14.050 pengikut lainnya.